
"Klien kami juga mengungkapkan bahwa klien kami sudah pernah menyatakan rasa sukanya kepada muridnya tersebut akan tetapi muridnya itu selalu jual mahal."ucap Penasihat Hukum terdakwa.
Suasana di ruang persidangan berubah menjadi kisruh. Babe dan Zaki masih bisa menahan amarahnya, mereka tetap duduk tenang sambil memandang Zaenab yang masih di peluk erat oleh Emak Munaroh. Tapi beberapa orang yang menghadiri persidangan seperti guru-guru sekolah Zaenab dan teman-teman sekolah Zaenab tak bisa menahan mulutnya untuk mengumpat ucapan penasihat hukum yang mengatakan "Zaenab jual mahal".
"Tuk tuk tuk"bunyi palu Hakim Ketua.
"Saya mohon hadirin untuk tidak membuat kegaduhan selama persidangan."ucap Hak
"Silahkan dilanjutkan pak penasihat hukum."sambung Hakim Ketua.
Belum sempat penasihat hukum terdakwa berbicara, jaksa penuntut berbicara terlebih dahulu.
"Kami keberatan Yang Mulia!"ucap jaksa penuntut dengan lantang.
"Keberatan di terima. Silahkan berbicara pak jaksa."jawab Ketua Hakim.
"Kami sebagai jaksa penuntut umum dan juga kuasa hukum korban sangat keberatan dengan kata-kata yang di ungkapkan oleh kuasa hukum terdakwa."ucap Jaksa penuntut.
"Kata-kata "jual mahal" itu tidak etis jika di tunjukkan kepada seorang anak yang di bawah 17 tahun. Korban ini usianya masih 16 tahun dan dia juga masih mengenyam bangku sekolah menengah kejuruan. Wajar kalau korban tidak suka di dekati oleh orang asing."ucap jaksa penuntut.
"Maaf Yang Mulia. Klien kami ini bukan orang asing, dia adalah guru yang mengajar di sekolah dimana korban belajar. Jadi klien kami dan korban sudah saling mengenal satu sama lain."ucap kuasa hukum terdakwa.
"Saya keberatan Yang Mulia. Klien anda seorang guru yang mengajar korban, seharusnya klien anda itu mendidik korban bukan merusak masa depannya!"ucap lantang jaksa penuntun.
Ucapan jaksa penuntut membuat beberapa hadirin mengatakan "betul itu betul! Atau setuju...setuju dengan ucapan jaksa penuntut."
Ada juga yang hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan dari jaksa penuntut.
"Tuk tuk tuk tuk..."bunyi ketukan palu Hakim Ketua untuk kedua kalinya.
"Saya mohon hadirin jangan membuat kegaduhan!"ucap Hakim Ketua.
Setelah teguran kedua dari Hakim ketua, suasana kembali kondusif. Persidangan pun di lanjutkan.
"Saya mohon jaksa penuntut dan jaksa pembela untuk tetap menciptakan suasana kondusif di ruang sidang ini. Saya ingatkan kita ini aparat penegak hukum, bekerja sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku bukan mengedepankan ego masing-masing."sambung Hakim Ketua.
"Baik Yang Mulia."ucap kedua kuasa hukum.
"Silahkan di lanjutkan!"pinta Hakim Ketua.
"Yang Mulia, bagaimana jika kita menghadirkan korban sebagai saksi hari ini. Saya melihat korban ada di kursi pengunjung persidangan."ucap penasihat hukum terdakwa.
__ADS_1
"Kami keberatan Yang Mulia."ucap jaksa penuntut.
Hakim ketua merespon ucapan jaksa penuntut dengan mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa Yang Mulia ingin jeda sejenak.
Jaksa penuntut dan penasihat hukum terdakwa pun kembali duduk di kursinya masing-masing. Terlihat wajah cemas di kedua pihak tersebut. Tak hanya wajah kedua tim itu tapi wajah Zaenab pun mulai cemas. Dia belum siap menjadi saksi di persidangan hari ini. Dia belum siap untuk menatap kembali Pak Supari, orang yang telah membuatnya sedih, malu dan merana berlarut-larut.
Hakim Ketua sedang berdiskusi dengan para Hakim Anggota mengenai ide yang di sampaikan oleh penasihat hukum terdakwa.
Lima menit kemudian...
"Kami...Majelis Hakim menerima gagasan yang di ungkapkan oleh pihak penasihat hukum terdakwa. Bagaimana Jaksa Penuntun? Apakah klien anda, Nona Zaenab siap untuk di hadirkan di kursi saksi hari ini?"pinta Hakim Ketua.
Jaksa penuntut pun berdiskusi dengan anggotanya dan Jaksa pun memegang sepucuk amplop di tangannya.
"Sebelum saya menghadirkan klien saya, izinkan saya untuk memberika surat rekomendasi dari psikolog anak yang ada di bawah naungan kepolisian kota kepada Majelis Hakim."ucap Jaksa Penuntut.
"Silahkan Pak Jaksa..."jawab Hakim Ketua.
"Terima kasih."
Jaksa Penuntut berjalan menuju meja Hakim Ketua sambil membawa sepucuk surat dari psikolog anak mengenai keadaan Zaenab sekarang. Setelah memberikan surat tersebut, jaksa penuntut kembali ke mejanya dan dia berdiri sambil menjelaskan kepada semua orang yang hadir di persidangan mengenai keadaan kliennya (Zaenab).
"Berdasarkan dari surat psikolog anak yang berada di naungan pihak kepolisian, Nona Zaenab mengalami Post Traumatic Disorder(PTSD). Trauma ini biasanya terjadi pada korban pelecehan seksual. Klien kami mengalami rasa takut, marah, merasa bersalah, cemas bahkan sedih. Hal ini berakibat klien saya yang menjadi korban dari terdakwa merasa malu dan berusaha menghindar dari orang-orang sekitar. Klien saya juga merasa dalam bahaya dan selalu mengalami kecemasan akibat ulah dari terdakwa. Sekian kesimpulan yang bisa saya sampaikan kepada Yang Mulia mengenai keadaan klien saya."ucap Jaksa Penuntut.
"Kami merasa keberatan jika klien kami harus dihadirkan sebagai saksi pada siang hari ini."sambung Jaksa Penuntut.
Mohon maaf jika saya menyela Yang Mulia."ucap kuasa hukum terdakwa.
"Maaf di terima. Silahkan bicara..."jawab hakim ketua.
"Bagaimana jika kita tanyakan langsung kepada yang bersangkutan. Apakah Nona Zaenab keberatan atau tidak jika menjadi saksi di persidangan di hari ini? Kalau Nona Zaenab tidak bersedia maka persidangan ini tidak akan selesai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan."ucap penasihat hukum Pak Supari.
Mendengar ucapan penasihat hukum terdakwa, Hakim Ketua berdiskusi kembali dengan Hakim Anggota. Jaksa penuntut sedang harap-harap cemas dengan keputusan apa yang akan di utarakan oleh Majelis Hakim.
"Persidangan akan di tunda selama satu jam. Kami minta agar pihak jaksa penuntut bisa membujuk klien anda yaitu Nona Zaenab untuk bersedia bersaksi hari ini. Tapi kami mohon jangan ada paksaan dari pihak mana pun."ucap Hakim ketua.
Mendengar permintaan dari Majelis Hakim, babe kembali menatap wajah Zaenab yang tak beranjak dari pelukan erat emak. Babe hanya bisa menghela nafas panjang dan berkali-kali mengusap wajahnya dengan kasar. Zaki yang melihat tingkah babe hanya bisa mengelus punggung babenya seakan ingin mengatakan "tenang be tenang."
"Bagaimana jaksa penuntut? Apakah anda dan tim anda bisa melakukan hal tersebut?"tanya Hakim Ketua.
"Akan kami usahakan Yang Mulia."jawab Jaksa Penuntut.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu kita akan bertemu lagi di ruang sidang ini satu jam kedepan. Selamat siang."ucap Hakim Ketua.
"Tuk tuk tuk"bunyi palu hakim ketua sebagai tanda persidangan di jeda.
"Yang Mulia beserta anggotanya dipersilahkan meninggalkan ruang persidangan. Hadirin dimohon berdiri."ucap petugas persidangan.
Semua orang yang ada di ruang persidangan berdiri demi menghormati Majelis Hakim.
"Persidangan akan dilanjutkan satu jam kedepan. Hadirin dipersilahkan meninggalkan ruang persidangan dengan tertib. Terima kasih."ucap petugas persidangan lagi.
Penasihat hukum terdakwa beserta terdakwa yaitu Pak Supari bergegas keluar ruang persidangan melalui pintu samping kanan sedangkan jaksa penuntut berjalan menuju kursi dimana Babe Rojali, Zaki, Emak Munaroh dan Zaenab duduk.
"Assalammualaikum pak..."ucap Jaksa penuntut.
"Waalaikumsalam pak jaksa."jawab babe.
"Perkenalkan...kami jaksa penuntut yang baru. Saya Pak Tri dan ini tim saya."
"Salam kenal Pak Tri...mas...dan mba..."ucap babe sambil menyatukan kedua telapak tangannya sebagai tanda salam.
"Bisakah kita berbicara di ruang khusus pak...bu... untuk membahas agenda persidangan berikutnya."
"Aye mau saja...tapi setelah solat zuhur dan makan siang saja ya pak...kasihan anak dan bini aye belum makan."
"Kalau makan siang bisa kami pesankan pak. Bagaimana kalau habis solat zuhur saja, kita makan bersama di ruangan yang sudah kami disediakan."ajak Pak Tri.
Babe melirik wajah emak untuk meminta pendapat mereka.
"Pigemane,Roh? Elu mau kagak?"tanya babe ke emak.
"Terserah babe, aye ikut aje."jawab emak.
Lalu babe melihat wajah Zaki.
"Menurut elu bagaimana,Ki?"tanya babe ke Zaki.
"Aye ikut babe aja kyk emak."jawab Zaki.
"Et elu...! Ngikut-ngikut emak elu aje!"sahut babe.
"Aye ikut ape kata pak jaksa aje deh... kalau begitu aye sama anak aye mau ke mesjid dulu buat solat zuhur."ucap babe.
__ADS_1
"Silahkan pak... biarkan ibu dan adik Zaenab disini saja bersama tim saya yabg perempuan."ucap Pak Tri.
"Baik,Pak Jaksa."jawab babe.