Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Zaenab sadar


__ADS_3

"Huufftt...huufftt...huufftt...Bang...bang...! Tunggu gue!"teriak Ucok.


Bambang yang tadinya berlari kencang terpaksa berhenti mendengar teriakan Ucok.


"Bang...gue udah cape nih! Lagi pula gak ada yang ngejar kita!"ucap Ucok yang sedang memgatur nafasnya.


"Kami yakin,Cok?"tanya Bambang


"Yakin!"jawab Ucok.


"Alhamdulillah..."ucap Bambang.


"Ya allah...Cok! Kita belum bayar ketopraknya! Astagfirulloh aladzim..."


"Gak apa-apa, Bang. Nanti kalau kita jenguk Zaenab kita baru bayar."


"Tapi...makanan yang kita makan jadi haram,Cok! Karena belum bayar, kasihan lan bapaknya Tini."


"Yaelah kau ini,Bang! Ketakutan banget sih! "


"Aku takut sama azab Allah seperti di sinetron gitu..."Azab pembeli yang tidak membayar ketoprak, mati ketiban cobek dan uleg-an."ucap Bambang.


"Hahahaha...kau ini,Bang! Selalu mengkhayal tingkat tinggi! hahaha..."Ucok tertawa terbahak-bahak.


"Ayo kita pesan taksi online, gue cape lari-larian nih...!"sambung Ucok.


"Emang kita mau kemana,Cok?"tanya Bambang.


"Kita ke sekolah Zaenab. Gue mau ketemu temannya Zaenab, si Andi."


"Oh...ok!"Bambang mengeluarkan ponselnya dan sibuk memesan taksi onlie.


Beberapa menit kemudian datanglah taksi online pesanan Bambang. Mereka bertiga pergi menuju sekolah Zaenab.


Di dalam rumah sakit...


Zaki terbangun dari tidur lelapnya. Dia tidak menghiraukan hilangnya dua sahabatnya. Dia keluar kamar rawat Zaenab untuk menghirup udara segar sembari mencari sarapan pagi di luar rumah sakit.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, Zaki kembali menuju kamar rawat Zaenab. Saat dia berjalan menuju lorong kamar rawat adiknya, dia melihat dua orang dokter berjalan tergesa-gesa bersama tiga orang suster menuju sebuah kamar pasien. Zaki hanya bisa memperhatikan gerak-gerik para dokter dan suster tersebut. Dia masih berjalan menuju kamar Zaenab lalu dia berhenti sejenak di depan kamar rawat Zaenab. Dia melihat wajah para dokter dan suster yang tadi berjalan tergesa-gesa berada di dekat ranjang Zaenab. Mereka mengelilingi ranjang Zaenab sembari memeriksa selang infus, dan selang obat-obatan yang diberikan kepada Zaenab. Zaki mendekati ranjang Zaenab dengan langkah yang tertatih, dia takut terjadi apa-apa dengan adiknya itu. Dia takut...takut tak bisa melihat senyum mengembang di pipi adiknya itu.


Saat Zaki berdiri di belakang salah satu dokter yang sedang memeriksa Zaenab. Dokter tersebut menolehkan wajahnya ke belakang dan menatap wajah Zaki dengan bahagia.


"Anda bang Zaki?"tanya dokter tersebut.


"I-iya dok..."jawab Zaki bingung.


"Ayo maju...adiknya dari tadi mencari anda."ucap dokter tersebut.


"A-a-adik saya dok?"tanya Zaki yang semakin bingung.


"Iya...adiknya dari tadi panggil-panggil nama mu. Ayo majukan langkah kakinya!"ucap dokter itu.


Zaki pun melangkahkan kakinya ke depan mendekati ranjang yang di tiduri Zaenab. Zaki terkejut ketika melihat gadis yang dia kenal tersenyum manis dengan wajah yang berseri-seri sedang berkonsultasi dengan dokter. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah Zaki dan memanggil nama Zaki dengan nada suara lembut.


"Bang Zaki..."ucap Zaenab.


Zaki yang namanya di panggil hanya terdiam menatap adiknya yang tersenyum duduk di ranjang rumah sakit.


"E-e-enggak,Nab. Abang gak mungkin lupa sama adik abang satu-satunya yang cantik dan manis."ucap Zaki.


"Lalu kenapa abang masih terdiam di situ? Abang gak mau peluk adik?"tanya Zaenab.


"Abang mau...mau banget!"ucap Zaki sembari berjalan menuju Zaenab.


Zaki memeluk Zaenab dengan erat dan tak terasa keluarlah air mata membasahi kedua pipi Zaki.


"Alhamdulillah...Alhamdulillah...terima kasih Ya Allah...terima kasih telah membuat Zaenab bangun dari tidurnya yang lelap. Terima kasih Ya Allah... terima kasih telah mengembalikan Zaenab kami. Alhamdulillah..."ucap Zaki yang masih memeluk Zaenab erat.


"Bang...abang nangis? Kenapa abang nangis?"


"Gak apa-apa dek...abang hanya terharu. Allah swt telah menjawab doa abang, babe,emak dan semua orang demi kesembuhan mu,Nab."


"Makasih banyak bang...Alhamdulillah...Zaenab sangat bersyukur memiliki abang yang perhatian seperti bang Zaki."


"Makasih Nab...makasih atas pujiannya."

__ADS_1


"Bang...udah ya pelukannya. Malu di lihatin banyak orang. Tuh lihat..."ucap Zaenab sembari menunjuk para dokter dan suster yang masih berdiri dekat ranjang Zaenab.


"Eh iya...maafkan saya...terbawa suasana jadi lupa kalau banyak orang yang memperhatikan."ucap Zaki sembari melepaskan pelukannya.


"Tidak apa-apa mas...kami mengerti kok...adiknya kan sudah lama jadi putri tidur."ucap salah seorang suster.


"Kami permisi dulu...jika ada perlu sesuatu bisa panggil kami dengan memencet tombol ini ya dik..."sambung suster tersebut.


"Baik sus...terima kasih."jawab Zaenab.


Ketiga orang suster itu meninggalkan ruang rawat Zaenab beserta seorang dokter jaga. Tinggallah satu orang dokter wanita yang ingin berbicara dengan Zaki mengenai perkembangan kesehatan Zaenab.


"Maaf mengganggu, Mas Zaki bisa saya bicara sebentar tentang kesehatan Zaenab?"tanya dokter wanita tersebut.


"Baik dok...tunggu sebentar."jawab Zaki.


Zaki menolehkan wajahnya ke arah Zaenab. Dia menatap Zaenab untuk meminta persetujuan adiknya itu. Zaenab hanya menganggukkan kepalanya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Mendapat persetujuan dari Zaenab, Zaki keluar ruangan bersama dokter wanita tersebut.


"Bagaimana keadaan adik saya sekarang, dok?"tanya Zaki penasaran.


"Alhamdulillah...bersyukur kepada Allah swt, adik anda sudah bangun dari tidur panjangnya."


"Iya dok...alhamdulillah."


"Keadaan Zaenab dari segi fisik sangat baik tapi dari segi mental, adik anda mengalami trauma yang cukup parah. Tadi saat dia terbangun tiba-tiba, dia berteriak kencang menyebut nama pak gurunya. Saya kurang jelas dengan nama yang dia sebut tapi secara tidak sengaja saat saya dan suster menenangkan adik anda, dia berteriak seperti ini...apa salah saya pak guru...kenapa bapak meneror saya sampai dua kali. Lepaskan saya...lepaskan saya...bang Zaki tolong aku...tolong."ucap dokter wanita itu menjelaskan kondisi awal Zaenab terbangun dari tidurnya.


"Sebagai seorang dokter, saya berharap kasus yang dialami Zaenab segera selesai. Saya takut batinnya terguncang jika masalah yang dialaminya tidak kunjung selesai. Tolong buatlah suasana hatinya bahagia dan senang. Jangan bawa dia untuk mengingat hal buruk yang pernah terjadi kepadanya. Bantu dia untuk melupakan kejadian yang menimpanya. Nanti saya akan berikan hasil diagnosa kami para dokter kepada pihak keluarga dan kepolisian yang menangani kasus Zaenab. Obat-obatan yang kami berikan hanya dapat menghilangkan rasa sakit yang terkadang muncul di kepalanya. Bantu dia untuk melupakan trauma yang pernah dialaminya. Hanya itu yang ingin saya sampaikan."


"Tapi dok...kasus yang di alami Zaenab sedang berlangsung."


"Usahakan agar penyelidikan kasus yang menimpa Zaenab segera di hentikan.Anda tidak mau kan adik anda mengalami gangguan di mentalnya. Tolong di pertimbangkan demi keberlangsungan hidup adik anda."


"Ba-baik dok... nanti kami akan pertimbangkan."


"Baik. Saya permisi dulu. Selamat siang."ucap dokter itu sembari pergi meninggalkan Zaki.


"Kenapa dokter itu menganjurkan menghentikan kasus Zaenab? Apa separah itu keadaan mental Zaenab?"gumam Zaki dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2