Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Menyudutkan Zaenab


__ADS_3

Para pengunjung persidangan duduk di tempatnya masing-masing. Jaksa penuntut dan penasehat hukum pun memasuki ruang persidangan dan duduk di kursi yang sudah di tentukan. Penasehat hukum terdakwa duduk berdampingan dengan kliennya yaitu Pak Supari.


Zaenab dan keluarganya duduk di kursi barisan pertama. Pandangan mata Pak Supari tak lepas dari wajah Zaenab. Di saat penasehat hukumnya berkonsultasi dengannya, Pak Supari masih menatap Zaenab dengan tatapan sinis. Babe yang melihat Pak Supari menatap anak perempuannya, langsung menutupi Zaenab dengan badannya dan tak lupa dia mengepalkan telapak tangannya sebagai tanda bahwa dia siap memberikan bogem mentah untuk Pak Supari. Melihat tanda yang diberikan Babe Zaenab, Pak Supari langsung mengalihkan pandangannya ke arah penasehat hukumnya.


"Sialan tuh kampret! Berani-beraninye diye tatap anak gue sampe kagak berkedip!"ucap babe.


"Siape bu?"tanya Zaki.


"Itu si guru kampret! Dari awal kite masuk diye terus tatap adik elu. Udah kayak macam mau terkam mangsa aje diye!"ucap babe.


"Kalau sekali lagi diye begitu bilangin aye be! Biar aye terkam diye duluan!"jawab Zaki.


"Emangnye elu harimau pake mau terkam diye segala! Biar babe aje, soalnye tangan babe udah gatel pengen tonjok muka si kampret!"sahut babe sambil mengepalkan kedua tangannya.


Emak mendengar dua laki-lakinya saling berdebat.


"Kalian ye...kalau masalah tonjok menonjok orang kagak mau kalah. Bisa diem kagak semua? Persidangan mau mulai."ucap emak.


'Duk duk duk' suara mic di ketuk.


"Yang Mulia beserta anggotanya akan memasuki ruang persidangan. Hadirin di mohon berdiri."ucap petugas pengadilan.


Semua orang yang ada di dalam ruang persidangan berdiri untuk menghormati Yang Mulia.


Yang Mulia berserta anggota duduk di singgahsana.


"Hadirin di persilahkan duduk kembali."ucap petugas pengadilan.


"Selamat sore..."ucap Hakim Ketua.


"Selamat Sore Yang Mulia."


"Persidangan kali ini akan mendengarkan kesaksian dari korban langsung."sambung Hakim Ketua.


"Bagaimana Pak Penasihat? Apakah klien anda bersedia untuk menjadi saksi persidangan kali ini?"tanya Hakim Ketua.


Penasihat Zaenab berdiri...


"Terima kasih kesempatannya Yang Mulia."jawab penasihat hukum Zaenab.


"Karena klien kami berusia masih di bawah umur, maka kami berdiskusi terlebih dahulu dengan kedua orang tua yang bersangkutan."ucap penasihat hukum Zaenab, Pak Tri.

__ADS_1


"Berdasarkan hasil diskusi kami saat jeda makan siang tadi, tanpa paksaan dari siapa pun, korban bersedia untuk duduk di kursi saksi. Hal ini sudah di setujui oleh kedua orang tua korban Yang Mulia."sambung Pak Tri.


"Baik. Jika korban bersedia untuk bersaksi, kami persilahkan korban untuk mempersiapkan diri."ucap Hakim Ketua.


"Baik Yang Mulia."jawab Pak Tri.


Pak Tri bergegas meninggalkan kursinya dan berjalan menuju kursi barisan depan, dimana Babe Rojali dan seluruh keluarganya duduk.


"Pak Rojali, apakah putri bapak sudah siap bersaksi?"tanya Pak Tri.


Babe melihat ke arah Zaenab, dan yang dilihat pun menganggukkan kepalanya.


"Insya Allah putri aye siap, pak pengacara."jawab babe.


"Ayo Nab, babe antar elu ke kursi itu."ucap babe sambil menunjuk ke sebuah kursi yang menghadap hakim ketua.


Zaenab berdiri, dan berjalan ke kursi saksi dengan ditemani babe. Zaenab berhenti sejenak, sambil menatap kursi tersebut.


"Nab...jangan takut! Ada babe, emak, abang Zaki dan teman-teman elu yang akan selalu mendukung elu. Ada juga Allah swt yang selalu menjaga elu. Elu gak usah takut!"babe menasihati Zaenab.


Zaenab tidak menjawab sepatah katapun. Dia hanya menganggukkan kepalanya.


Zaenab duduk di kursi yang menghadap hakim ketua beserta anggotanya. Di sisi kiri, tim kuasa hukumnya dan di sisi kanan, tim kuasa hukum dari terdakwa, yaitu Pak Supari.


"Selamat siang ananda Zaenab, apakah ananda sehat hari ini?"tanya hakim ketua.


"Se..se..lamat siang Yang Mulia. Alhamdulillah aye hari ini sehat walafiat."jawab Zaenab dengan nada suara gemetar.


"Ananda Zaenab... jangan ananda merasa takut ataupun tegang. Kami, majelis hakim hanya ingin mendengarkan kesaksian ananda, sebagai korban atas kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh saudara, Supari. Apakah ananda sudah siap untuk di interogasi oleh pihak pengacara terdakwa?"


"Ya. Saya siap Yang Mulia."jawab Zaenab dengan tegas.


"Kami persilahkan jaksa pembela untuk memulai persidangan ini."


"Terima kasih atas kesempatan yang sudah di berikan Yang Mulia."jawab pengacara Pak Supari.


"Baik. Ananda Zaenab. Apakah anda mengenal klien kami ini?"tanya jaksa pembela sambil menunjuk ke wajah Pak Supari.


"Iya. Saya mengenalinya. Dia guru matematika baru di sekolah saya."jawab Zaenab.


"Apakah anda sangat dekat dengan klien kami?"

__ADS_1


"Maaf. Apa maksud dengan kata 'sangat dekat' yang anda maksud?"tanya Zaenab bingung.


"Maksud saya... apakah hubungan anda dengan klien kami ini sangat dekat?"


"Saya dengan klien bapak hanya sebatas murid dan guru. Tidak lebih dari itu!"jawab Zaenab tegas.


"Kalau hanya sebatas murid dan guru, kenapa anda terlalu sering keluar masuk ruang guru di saat klien kami ada di ruangan itu?"


"Saya diberi tugas sebagai ketua kelas. Terkadang saya di panggil oleh wali kelas saya yang bernama Bu Mulyati untuk mengantar buku tugas teman sekelas saya. Terkadang juga saya diminta tolong oleh guru bidang studi yang lain untuk mengambil buku materi pelajaran mereka yang tertinggal di meja ruang guru."


"Akan tetapi saat anda ke ruang guru, posisi klien kami juga ada di sana,kan? Bukankah berarti anda sedang tebar pesona kepada klien kami?!"


Pertanyaan jaksa pembela membuat ruang persidangan menjadi gaduh. Babe yang tak terima dengan pertanyaan yang menekan Zaenab itu langsung bersuara.


"Hei! Pak jaksa pembela! Jaga ucapan anda, sebelum saya robek-robek!"teriak babe lantang.


'Tok Tok Tok'


"Harap tenang! Saya mohon hadirin persidangan untuk menjaga suasana persidangan agar tetap kondusif! Terutama pihak keluarga korban!"ucap hakim ketua.


"Silahkan dilanjutkan jaksa pembela!"


"Terima kasih Yang Mulia."


"Ananda Zaenab, anda belum menjawab pertanyaan saya yang tadi."


"Maaf,pak. Saya tidak pernah memperhatikan ada siapa saja di ruang guru. Jika bapak atau ibu guru memerintahkan saya untuk mengambil sesuatu di ruang guru, saya pasti akan meminta salah satu teman baik saya untuk menemani saya. Mengenai ucapan anda,yang mengatakan saya tebar pesona kepada klien anda, saya tidak pernah melakukan hal tersebut kepada klien anda. Bagi saya bapak atau ibu guru itu adalah orang tua saya di sekolah."


"Jawaban anda sangat klasik ya..."sahut jaksa pembela.


Mendengar ucapan jaksa pembela, Zaenab mulai merasa tidak nyaman duduk di hadapan hakim ketua.


"Tadi anda bilang tidak pernah tebar pesona dengan klien kami. Tapi nilai anda di mata pelajaran klien kami, yaitu matematika selalu bagus sedangkan saat diajar oleh guru yang lama, nilai mu selalh ngepas KKM. Cara apa yang anda gunaoan agar nilai matematika anda bisa bagus, kalau bukan anda menggoda klien kami?!"


Mendengar pertanyaan yang menyudutkan Zaenab, Pak Tri spontan berdiri dari kursinya.


"Mohon maaf Yang Mulia. Kami keberatan! Pertanyaan jaksa pembela sangat menyudutkan klien kami!"sahut Pak Tri.


"Keberatan ditolak!"jawab hakim ketua.


"Silahkan dilanjutkan jaksa pembela!"

__ADS_1


"Terima kasih Yang Mulia!"jawab jaksa pembela sambil tersenyum penuh kemenangan karena hakim ketua menolak keberatan yang di ajukan jaksa penuntut.


"Mohon dijawab ananda Zaenab, pertanyaan saya!"


__ADS_2