Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Terluka untuk kedua kalinya


__ADS_3

Emak Munaroh masih menunggu Zaenab di ruang perawatan. Dia tak henti-hentinya membaca doa demi kesembuhan anak perempuannya. Sedangkan Babe Rojali masih berada di luar bersama Komandan Geri, Pak Budi dan Andi. Komandan Geri dan Babe Rojali duduk saling berhadapan, mereka berbicara tentang perkembangan kasus yang menimpa Zaenab pertama kali dan kasus yang sekarang di alami Zaenab.


"Pak Rojali...berdasarkan keterangan para saksi seperti Pak Budi dan teman-teman Zaenab murni ini adalah kasus penculikan dan penganiayaan. Berdasarkan keterangan dari saksi utama kami yaitu Andi yang merupakan teman satu sekolah Zaenab bahwa di duga ada tiga tersangka dibalik terjadinya kasus yang menimpa Zaenab kali ini. Salah satu pelaku utama sudah kami kantongi wajahnya."ucap Komandan Geri.


"Ape?? Komandan udeh tau pelaku utama yang menculik dan menganiaya anak aye? Dari mana komandan bisa tau wajah pelaku utama?"tanya Babe Rojali penasaran.


"Saya mendapatkan bukti terpercaya dari saksi utama yaitu Andi. Andi ini yang mencari Zaenab saat hilang di taman dan dia yang menemukan lokasi tempat Zaenab dianiaya. Andi ini juga memfoto wajah tersangka utama dan barang bukti sudah ada di tangan kami. Tinggal dua orang lagi tersangka yang harus kami sketsa wajahnya. Petugas yang akan mengsketsa wajah akan datang sebentar lagi. Nanti Andi yang akan mendeskripsikan kedua tersangka tersebut."


"Baik Pak Komandan. Lakukan yang terbaik dan secepatnya untuk mengungkap kasus ini. Jangan sampai ketiga orang tersebut kabur!"ucap babe.


"Bapak Rojali dan keluarga tenang saja. Saya sudah mengerahkan seluruh anak buah saya untuk mencari pelaku utama tersebut."


"Sebenarnya aye belum tenang komandan. Sebelum para tersangka di jebloskan ke penjara dan di hukum seberat-beratnya. Aye gak tega melihat anak aye terkapar dan luka-luka untuk kedua kalinya...hiks hiks hiks... Aye sama emaknya aja gak pernah pukul atau pun sakitin anak kandung sendiri tapi orang di luar sana berani melakukan itu kepada anak aye...hiks hiks hiks..."ucap babe sembari menangis.


Akhirnya patah juga pertahanan hati babe di depan semua orang. Dia benar-benar sudah tidak sanggup membendung kesedihan melihat anak perempuannya dianiaya oleh orang yang tak di kenal.


"Pak Komandan...saya percaya sama pak komandan dan pihak kepolisian. Kalau ketiga tersangka sudah tertangkap, aye mohon tolong kabari aye. Aye mau lihat orang-orang macam ape yang beraninya sama anak remaja kayak Zaenab dan aye juga pengen tau motif ketiga orang itu ape sampe aniaya Zaenab. Saya mohon ye pak komandan..."ucap babe sembari memegang kedua tangan Komandan Geri.


"Jika kami sudah menemukan dan menangkap ketiga tersangka tersebut, kami pasti akan memberitahu bapak dan keluarga. Jangan khawatir Pak Rojali, serahkan semuanya kepada pihak kepolisian."


"Baik komandan."ucap babe.


Beberapa menit kemudian, datanglah tiga orang pria, dua orang berseragam polisi dan satu lagi memakai kemeja putih polos dan celana jeans. Mereka bertiga menghampiri Komandan Geri dan Babe Rojali yang masih duduk di kursi kafetaria.


"Selamat siang komandan!"ucap salah satu petugas kepolisian.


"Selamat siang."jawab Komandan Geri.


"Kami membawa saudara Andri untuk mengsketsa tersangka kasus penculikan dan penganiayaan yang di alami oleh adik Zaenab."ucap salah satu petugas polisi sambil menunjuk seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Terima kasih Mas Andri sudah bersedia datang."ucap Komandan Geri sembari berdiri dan bersalaman dengan Mas Andri.

__ADS_1


"Saya senang membantu pihak kepolisian komandan."ucap Mas Andri.


"Bisa kita mulai sekarang,Mas Andri?"tanya Komandan Geri.


"Siap komandan."jawab Mas Andri.


"Adik Andi, tolong kesini."komandan memanggil Andi yang sedang duduk sejajar dengan Pak Budi.


Andi berjalan menuju Komandan Geri. Pak Budi pun ikut berjalan menuju komandan tapi komandan meminta Pak Budi untuk mundur dan kembali ke tempat duduknya dengan isyarat tangan.


"Andi, ini Mas Andri. Beliau yang akan mengsketsa wajah kedua tersangka penculikan dan penganiayaan Zaenab. Saya minta Andi untuk mengingat kembali wajah kedua tersangka tersebut."ucap komandan.


"Baik komandan."ucap Andi.


"Saya sudah komunikasi dengan pihak rumah sakit, kita bisa memakai ruangan kosong yang ada di pojok kafetaria ini. Jadi Mas Andri dan Andi bisa memakai ruangan tersebut. Nanti kalian akan di temani dua petugas polisi di ruangan tersebut."ucap komandan kepada Mas Andri dan Andi.


"Baik komandan."jawab Mas Andri dan Andi.


"Silahkan masuk!"ucap seorang petugas polisi yang mempersilahkan Andri dan Andi masuk ke ruangan tersebut.


"Tidak terlalu buruk ruangan ini."ucap Mas Andri.


"Silahkan pilih tempat duduk yang nyaman untuk kalian berdua."ucap salah satu petugas tersebut.


"Terima kasih pak."ucap Andri dan Andi bersamaan.


"Aku duduk disini, kamu duduk di depan ku saja ya,dik."ucap Andri.


"Baik pak."jawab Andi.


"Hahaha...jangan kaku begitu. Aku ini bukan petugas polisi. Aku hanya mahasiswa di akademi kepolisian. Biasanya para polisi memanggil aku Mas Andri atau kalau untuk kamu, biar lebih akrab panggil Kak Andri saja."ucap Andri.

__ADS_1


"Baik Kak Andri."jawab Andi.


"Pak polisi, boleh saya membuat kopi atau teh sebelum memulai tugas?"tanya Andri kepada kedua petugas polisi.


"Silahkan."jawab salah satu petugas polisi.


"Tapi jangan lama-lama waktu kita terbatas hanya satu jam."ucap petugas yang lain.


"Saya hanya membuat teh dan kopi saja, tidak akan memakan waktu selama itu. Bapak-bapak juga mau di buatkan juga?"tanya Andri.


"Boleh. Tolong buatkan dua buah kopi susu untuk kita berdua."ucap salah satu petugas polisi.


"Siap pak!"jawab Andri.


Andri pun membuatkan dua gelas kopi susu untuk kedua petugas polisi tersebut dan dua gelas teh manis hangat untuk Andi dan dirinya. Setelah itu Andri memberikan dua gelas kopi susu kepada kedua petugas polisi tersebut. Dan dia meletakkan dua gelas teh manis hangat di atas meja dimana dia dan Andi akan melaksanakan tugasnya.


"Ayo diminum,dek!"ucap Andri.


"Makasih kak."jawab Andi.


Mereka berdua menikmati teh manis hangat tersebut dengan ditemani setoples biskuit cokelat.


"Kamu sudah siap?"


"Sudah kak."


"Tidak usah tegang atau pun gugup. Santai saja dan rileks kan badan mu sehingga apa yang ada di otak mu juga akan rileks."


Andi tidak menjawab ucapan Andri. Dia hanya mengikuti instruksi Andri agar dia bisa fokus mengingat kedua wajah tersangka penculikan dan penganiayaan Zaenab.


"Baik. Kita mulai sekarang!"ucap Andri yang sudah menggenggam sebuah buku gambar dan pensil di tangan kanan dan kirinya.

__ADS_1


__ADS_2