Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Searching the spy


__ADS_3

Setelah mengantar Zaenab ke sekolah, Zaki menuju rumah Bambang. Dia berniat untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan Bambang kemarin. Zaki menghabiskan waktu 20 menit dari sekolah Zaenab ke rumah Bambang dengan mengendarai motornya.


Sampailah Zaki di halaman belakang rumah yang bertingkat dua. Rumah Bambang berada di pinggir jalan. Lantai satu rumahnya digunakan untuk warung nasi usaha keluarganya sedangkan lantai dua digunakan untuk tempat beristirahat para karyawan warung dan keluarga Bambang. Bambang hanya tinggal berdua saja dengan ibunya di Jakarta. Bapaknya Bambang sudah meninggal dunia di kampungnya yaitu Tegal. Bambangnya tidak punya saudara kandung sama sekali. Ibunya Bambang berharap Bambang bisa melanjutkan bisnis warung nasi keluarga yang sudah turun temurun ini.


"Assalammualaikum, Bambang!"teriak Zaki di depan pagar rumah Bambang.


"Waalaikumsalam. Ki...tumben pagi-pagi sudah muncul di halaman rumah ku? Ayo masuk...!"ajak Bambang.


Bambang mengajak Zaki duduk di kursi teras belakang rumahnya.


"Kau mau minum apa,Ki?"tanya Bambang.


"Teh manis hangat,Bang."jawab Zaki.


"Ok. Aku ke dapur sebentar."Bambang beranjak ke dalam rumah menuju dapur dan dia kembali ke teras belakang dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir teh manis hangat beserta singkong goreng yang masih panas.


"Ini ki... Ibu ku baru saja selesai goreng singkong jadi aku bawa yang sudah matang. Hati-hati panas."


"Makasih Bang."


"Ada apa pagi-pagi sudah ganteng dan wangi kau mampir ke rumah ku? Aku saja masih dekil dan kucel, Ki!"ucap Bambang sambil menyeruput teh manisnya.


"Aku mau berterima kasih sama kamu Bang, karena sudah mengantarku yang lemas tidak berdaya kemarin."


"Hahaha...Ya ampun ki...kita ini sahabat dari awal masuk kuliah, jangan sungkan-sungkan minta bantuan. Lagi pula elu juga sering bantu gue yang selalu gak punya duit buat beli makanan dan minuman di kantin."ucap Bambang menatap Zaki yang hanya tersenyum.


"Lagi pula elu itu kenapa keluar dari ruangan Bu Silvi langsung lemas, pucat dan murung begitu? Tau gak elu kemarin kayak zombi yang ada di film-film itu!hahaha..."Bambang tertawa terbahak-bahak.


"Sialan elu Bang! Kalau di ceritakan panjang Bang...aku gak tau harus mulai dari mana?"ucap Zaki bingung.


"Cerita saja bro... bagaimana kalau ke kamar ku saja, kita ngobrol-ngobrol. Kalau disini banyak yang nguping terus karyawan ibu ku gak fokus kerja gara-gara pandangin wajah mu terus. Tuh lihat aja si Yayuk sama Inem!" Bambang menunjuk kedua karyawan perempuan yang sedang mengupas bawang putih dan bawang merah di dapur dekat teras.


Zaki pun menatap kedua karyawan perempuan tersebut dan yang di tatap malah tersenyum tersipu-sipu. Zaki yang masih enggan berurusan dengan perempuan, akhirnya mengikuti saran Bambang.

__ADS_1


" Baiklah. Aku tak mau mengganggu kerja karyawanmu. Ayo antar aku ke atas."ucap Zaki.


"Tapi...kamar elu bersih kan? Gak jorok kayak kamarnya Ucok?"tanya Zaki.


"Sialan lu! Gue item-item begini menjaga kebersihan karena kebersihan itu sebagian dari iman. Kalau si Ucok kan tipikal manusia yang beriman kalau ada maunya aja."ucap Bambang.


"Hahaha...iya deh percaya aja gue! Ayo deh..."Zaki berdiri mengikuti Bambang menuju lantai dua kamarnya.


Di kamar Bambang, Zaki menceritakan semua hal yang kemarin di ucapkan oleh Bu Silvi. Bambang menyimak setiap kata dari ucapan Zaki dan dia pun tidak percaya dengan apa yang Zaki sampaikan. Bambang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gue gak nyangka Tania seperti itu! Pantas kamu syok, pucat dan lemas keluar dari ruangan Bu Silvi kemarin."ucap Bambang.


"Memang wajah cantik dan modis itu banyak menipu! Untung gue gak punya pacar jadi gak di pusingin sama hal seperti itu! Ada hikmahnya jadi jomblo...hehehe"sambung Bambang.


"Jadi jomblo seneng banget elu,Bang!"ledek Zaki.


"Kalau gue jadi elu Ki...mending gue jadi jomblo seumur hidup deh daripada menjalin hubungan dengan cewek seperti Tania!"ucap Bambang.


"Minta tolong apa,Ki?"


"Tolong carikan orang yang bisa memata-matai aktivitas Tania selama 24 jam kalau bisa sih cewek,Bang."


"Cewek? Siapa ya?"Bambang menyeruput teh manis hangat sambil berpikir.


"Ahaa!! Aku tau siapa yang cocok! Bagaimana kalau si Siska?"


"Siska? Sepupunya Tania itu?"


"Iya... dia kan tidak terlalu suka dengan Tania. Dia satu fakultas sama Tania tapi beda angkatan."


"Memangnya dia mau memata-matai Tania?"


"Kita coba aja dulu. Bagaimana kalau kita ke kost-kostannya yang dekat kampus."

__ADS_1


"Boleh,Bang. Ayo...!"ajak Zaki yang langsung berdiri dari duduknya.


"Eh...tunggu dulu bro! Aku ini belum mandi. Masa mau ke rumah cewek cantik gak mandi. Malu donk...!"ucap Bambang.


"Hadeeehh...elu mandi atau gak mandi sama aja,Bang. Sama-sama bau apek dan kecut!hahaha..."Zaki tertawa tebahak-bahak.


"Sialan lu!"Bambang melemparkan singkong goreng ke muka Zaki dan singking tersebut berhasil di tangkap Zaki.


"Gak ada makanan berat nih, Bang? Aku belum sarapan tadi di rumah."


"Ada tuh...batu bata di rumah tetangga gue yang lagi renovasi rumah. Elu mau? hehehe..."ledek Bambang.


"Sialan elu,Bang! Elu kira gue mau debus pagi-pagi!"ucap Zaki kesal.


"Yasudah...Gue beliin elu nasi uduk betawi di warung belakang deh... Nasi uduknya pake semur jengkol atau semur daging?"


"Pake dua-duanya juga boleh,Bang!hehehe.. "


"Ok. Tunggulah di sini, aku beli nasi uduk dulu."


"Ok. Bambang ganteng. Jangan lupa gorengannya ya..."Zaki tersenyum bahagia.


"Gorengan tinggal ambil saja di dapur bawah. Gorengan ibu ku lebih higienis dibandingkan gorengan pinggir jalan."


"Terserah elu aja,Bang! Yang penting perut gue terisi nasi uduk betawi...hehehe"


"Eh iya...elu jangan turun ke bawah ya...nanti karyawan-karyawan perempuan histeris melihat muka elu yang kayak Samson Betawi."ledek Bambang.


"Hahaha...sialan elu!"


Bambang turun ke lantai satu rumahnya dan meninggalkan Zaki yang sedang rebahan di kasur Bambang. Dia membuka media sosial miliknya dan mencari-cari nama Siska, sepupunya Tania. Dia pun mendapatkan akun media sosial Siska dan mencoba untuk berteman dengannya.


"Siska...eemm..Tania jarang sekali bahas tentang sepupunya ini, atau mungkin hanya aku saja yang tidak peka dengan kehidupan pribadi pacar ku sendiri? Aku memang mengenal Tania hanya satu tahun dan jarang sekali membicarakan keluarga masing-masing. Mungkin ini juga kesalahanku yang hanya terlalu fokus dengan kuliah dan tidak menghiraukan pacarku sendiri."gumam Zaki.

__ADS_1


__ADS_2