Zaenab Dan Zaki

Zaenab Dan Zaki
Mira POV: Tamparan untuk kesekian kalinya


__ADS_3

Jam dinas ku lima menit lagi akan selesai, aku ingin sekali merebahkan badan ku di kasur empuk yang aku miliki di kos-kosan. Sungguh lelah hati dan badan ini, setiap hari harus berkutat dengan pasien-pasien usia lanjut yang cerewet dan banyak maunya. Belum lagi harus menuruti perintah senior yang menganggap ku jongos mereka. Malang sekali nasib dokter yunior seperti aku ini. Apa lagi hanya aku dokter yunior di rumah sakit ini.


Walaupun begitu aku sangat bersyukur bisa magang di rumah sakit yang bagus dan elit seperti ini. Kalau bukan karena paman ku yang punya rumah sakit ini, aku tidak mungkin bisa magang dan mendapatkan gaji tiap bulannya.


'Triitt Triitt Triitt' bunyi suara ponsel Mira bergetar.


Mira melihat layar ponselnya dan dia mendapati nama bibinya menelepon yaitu Bibi Susan. Tak berpikir panjang lagi, Mira mengangkat telepon itu dan menjawabnya dengan nada suara lembut.


"Assalammualaikum, bi... apa kabarnya?"tanya Mira.


"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana? Sudah lama tidak menelepon bibi?"tanya Bibi Susan.


"Aku baik bi... Maaf jika jarang menelepon karena dua minggu ini banyak pasien yang silih berganti datang ke rumah sakit."jawab Mira.


"Oohh...bibi mengerti. Apalagi di tambah pandemi seperti ini, pasti banyak pasien yang datang."ucap Bibi Susan.


"Iya bi... Bagaimana keadaan paman? Aku lihat paman jarang datang untuk medical check up di rumah sakit sekarang."


"Seminggu sekali Dokter Rian datang ke rumah kami, dia yang memeriksa kesehatan bibi dan pamanmu."


"Syukurlah...paman dan bibi memiliki keponakan seorang dokter yang handal."


"Suatu hari nanti kamu juga bisa seperti Dokter Rian, asalkan kamu tekun belajar dan bekerja."


"Insya Allah."jawab Mira.


"Mir...kamu bisa datang ke rumah bibi setelah jam dinas mu selesai?"tanya Bibi Susan.


"Bisa bi...tapi ada apa ya,bi?"tanya Mira penasaran.


"Bibi hanya ingin bicara santai dengan mu sekalian mau menanyakan kabar ibu mu di desa."


"MATI GUE!! Gue kan gak jadi ke desa jenguk ibu. Lagi pula uang dari bibi buat ibu sudah gue pake buat beli ponsel keluaran terbaru ini. Adduuhh...bagaimana ini?"gumam Mira dalam hati.


"Mir...mira...hallo...hallo..."panggil bibi.


"Eh iya bi... aku akan datang 20 menit lagi."


"Baiklah. Bibi tunggu ya di rumah. Hati-hati di jalan."


"Iya bi..."


"Assalammualaikum."ucap Bibi Susan.


"Waalaikumsalam."jawab Mira.

__ADS_1


Setelah menerima telepon dari bibinya, Mira langsung bergegas ke ruang ganti dan menyimpan baju dinasnya di dalam loker. Setelah berganti pakaian, dia langsung keluar rumah sakit dengan tergesa-gesa. Dari arah belakang, Dokter Rian memanggil nama Mira berulang kali, tapi sayang Mira tak mendengarnya. Mira berlari kecil menuju pintu keluar gerbang rumah sakit. Dia berhenti sejenak sambil memperhatikan ponselnya. Tak berapa lama, datanglah ojek online menghampirinya. Dia pun langsung pergi dengan ojel online tersebut.


Dokter Rian yang melihat kepergian Mira dengan ojek online hanya bisa memantau dari jarak jauh.


Perjalanan dari rumah sakit tempat Mira bertugas ke rumah Bibi Susan hanya menghabiskan waktu satu jam dengan kendaraan roda dua.


Mira sampai di gerbang rumah mewah bergaya klasik. Dia masuk kedalam halaman rumah tersebut dan menghampiri dua orang paruh baya yang sedang duduk santai di kursi taman.


"Assalammualaikum bibi...paman..."sapa Mira.


"Waalaikumsalam."jawab paman dan bibi Mira.


Rumah mewah tersebut adalah milik paman Mira yang bernama Paman Hendro. Paman dan bibi Mira merupakan orang yang baik, dermawan, ramah dan tidak sombong seperti anaknya, Tika.


"Apa kabar,Mira? Bagaimana pekerjaan mu di rumah sakit?"tanya Paman Hendro.


"Alhamdulillah lancar paman, tapi... Dokter Rian memindahkan aku di bagian laboratorium...semakin banyak pasien semakin banyak pekerjaannya."jawab Mira.


"Kalau masalah itu, paman dan bibi mu sudah tau. Rian sendiri yang cerita. Meskipun paman pemilik saham mayoritas di rumah sakit tersebut tapi seluruh operasional rumah sakit ada di tangan Rian. Ikuti saja peraturan dan kewajiban yang sudah dia berikan padamu. Yang penting kamu bisa mendapat ilmu, pengalaman serta gaji selama bertugas di sana."ucap Paman Hendro.


"Baik paman."jawab Mira singkat.


"Paman yakin suatu hari nanti kamu pasti bisa membahagiakan ibu mu yang ada di desa. Ngomong-ngomong bagaimana kabar ibumu di desa,Mir? Minggu kemarin kamu bilang mau pulang kampung jenguk ibu. Apa kamu sudah menyampaikan amanah dari kami untuk ibumu?"tanya Paman Hendro.


Mendengar ucapan Paman Hendro, Mira terdiam kaku dan menundukkan kepalanya. Raut wajah Mira berubah menjadi ketakutan. Mira takut kebohongannya akan terbongkar. Iya... kebohongan kalau dia tidak pulang ke desa menjenguk ibunya dan dia memakai uang yang di titipkan paman dan bibinya untuk ibunya.


"Oh iya...ibu lupa bilang sama ayah, kalau kemarin malam adik ku, ibunya Mira, menelepon. Dia bilang kalau Mira datang hanya sebentar karena ada panggilan tugas . Uang titipan ayah sudah di terima adik ku, dia bilang terima kasih. Betul begitu kan,Mira?"ucap Bibi Susan.


"Kalau adik mu telepon lagi tolong beritahu dia. Suruh dia tinggal bersama kita."ucap Paman Hendro.


"Baik ayah..."jawab Bibi Susan.


Bibi Susan menatap wajah Mira yang masih tertunduk. Mira merasa sangat malu kepada bibinya. Karena selalu baik kepadanya dan ibunya.


"Sudah kesekian kalinya bibi menutupi kebohongan dan kesalahan mu dihadapan pamanmu. Kalau kamu memakai uang itu untuk hal pribadi mu pasti paman mu akan murka dan memecat mu dari program magang di rumah sakit. Biarlah bibi berkorban demi kamu, Mira..."gumam Bibi Susan dalam hati.


"Duduklah Mira...bibi mau tau kegiatan mu di rumah sakit."ajak Bibi Susan.


"Terima kasih paman...bibi..."sahut Mira.


"Sampai kapan kamu magang di rumah sakit?"tanya paman


"Sampai akhir bulan ini paman. Kalau aku sudah selesai magang, boleh kerja sebagai dokter di rumah sakit paman?"tanya Mira.


"Selesaikan kuliah mu sampai dapat ijazah lalu kamu bertugas selama satu atau dua tahun di kampung halamanmu lalu ambil sekolah spesialis baru kamu boleh bekerja di rumah sakit paman."ucap Paman Hendro.

__ADS_1


"Lama sekali paman?"tanya Mira.


"Memang seperti itu prosedurnya. Jangan karena kamu keponakan paman, kamu bisa langsung jadi dokter disana. Rian juga seperti itu... dia lulus dari universitas negeri dengan predikat cum laude lalu bekerja sebagai dokter di Papua selama dua tahun dan dia sekarang sedang mengambil program spesialis."ucap Paman Hendro.


"Iya...kamu jangan malu-malu bertanya kepada Dokter Rian bagaimana bisa menjadi dokter handal di usia muda."sahut Bibi Susan.


"Iya bi..."jawab Mira singkat.


Ketika mereka berbicara hal-hal santai sambil bersenda gurau tiba-tiba Tika muncul mendekati tempat mereka bercengkraman.


"Wah...wah...ada dokter kampungan datang. Kok aku tidak di beri tahu ya?"tanya Tika meledek Mira.


"Bicaralah yang sopan, Tika! Bagaimana pun juga dia ini sepupu mu!"sahut Bibi Susan.


"Loh...memang benar kan bu... Dia ini berasal dari kampung, hanya karena kita angkat derajat dan kehidupan dia, dia bisa tinggal di kota."ucap Tika.


"CUKUP TIKA! CUKUP!!"teriak Bibi Susan.


"Kenapa ibu selalu membela anak kampungan ini?"tanya Tika emosi.


"Karena Mira sifat dan sikapnya lebih sopan dan baik dibandingkan kamu!"teriak Bibi Susan.


"Istigfar bu...istigfar...lebih baik kita masuk saja. Ayah tidak mau kesehatan ibu dan ayah menurun."ucap Paman Hendro sambil berdiri dari duduknya dan mendorong kursi roda istrinya.


"Ayo pak...ibu mau istirahat di kamar. Maaf ya Mira... paman dan bibi mau masuk ke kamar dulu. Lebih baik kamu pulang saja, jangan berlama-lama bicara dengan wanita hamil karena cepat emosi."ucap Bibi Susan.


"Dasar wanita tua gak berguna!"teriak Tika.


"TUTUP MULUTMU! Bicaralah yang sopan dengan ibu mu!"ucap Paman Hendro ketus.


"Sudah ayah...sudah...ayo kita masuk saja!"ucap Bibi Susan menenangkan suaminya.


Paman Hendro dan istrinya pergi meninggalkan Mira dan Tika yang masih duduk di meja taman. Tika yang sudah emosi dengan kedatangan Mira langsung menyemprot Mira.


"Eh dokter kampungan! Jangan lupa ya...elu itu bisa kuliah di kedokteran dan hidup elu terjamin di kota itu berkat kekayaan harta bokap gue."ucap Tika ketus.


"Aku tau dan ingat segala kebaikan orangtua mu kepada aku dan ibuku."jawab Mira.


"Bagaimana dengan Zaenab? Apakah dia sudah mati?"tanya Tika.


"Maaf Tika, aku tidak tau. Sekarang Zaenab berada di pengawasan Dokter Rian. Rian pun tak mau memberitahukan informasi kepada ku tentang Zaenab."ucap Mira.


"B*D*H!! Dokter GOB**K!!"teriak Tika.


'PLAAKK!!'suara tamparan keras di pipi kanan Mira.

__ADS_1


"Cari informasi yang jelas bagaimana keadaan si Zaenab! Kalau sampai dia masih hidup besok, aku pastikan ibumu sudah terbungkus kain kafan!"ancam Tika.


__ADS_2