Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 28. Mengatur Strategi


__ADS_3

*******


Ketegangan seketika melanda seisi ruangan Zico. Zafa mengambil alih laptop Zico dan mulai memeriksa satu per satu rekaman CCTV di kantor Zico.


"Ada yang menyabotase kameranya," ujar Zafa sembari tangannya masih terus bergerak di atas keyboard. Zico mengepalkan tangannya, bagaimana bisa dia kecolongan sampai-sampai ada yang berhasil menyabotase CCTV dan tidak ada satu orang pun yang melapor padanya.


"Sepertinya ada penghianat di perusahaanmu." Kini giliran Marvel bersuara. Zico langsung menoleh ke arah Marvel. Pria itu tampak tenang berdiri di sisi Zafa, tapi matanya sejak tadi tidak lepas dari Laptop yang sedang berada di tangan Zafa.


"Marvel tolong hubungi uncle Rian katakan situasi yang sebenarnya. Dan juga telepon papa tapi jangan sampai mama mengetahuinya."


"Baiklah... " Marvel berjalan sedikit menjauh.


Zico berusaha menghubungi ponsel Zafrina namun hasilnya masih sama tidak aktif. Dia juga mencoba menghubungi Dominic siapa tahu sahabatnya itu tahu dimana Ina, tapi hasilnya tetap nihil. Ponsel Dominic pun sama tidak aktifnya.


"Ketemu... " pekik Zafa. Namun sejurus kemudian alisnya bertaut, kemarahan tampak tergambar jelas di wajahnya.


"Kau memelihara penghianat rupanya?" ketus Zafa. Zico segera beralih ke belakang tubuh Zafa untuk melihat siapa yang kakak iparnya maksud.


Namun Zico tak kalah terkejutnya saat melihat rekaman itu. Rasanya darahnya mendidih melihat bagaimana penghianat itu membius Zafrina dan membawanya.


"Dasar bad*jingan." Zico menggeram kesal. Dia segera menghubungi orang kepercayaannya di markas White Tiger untuk mengerahkan semua anak buahnya mencari keberadaan Dominic.


Tidak akan dia maafkan, jika sampai terjadi hal yang buruk pada Zafrina. Zico benar-benar merasa kecewa. Sahabatnya tega melakukan semua ini. Terlebih lagi mereka bertiga sudah bersahabat sejak pertama kali masuk ke perguruan tinggi.


Zafa masih terus mencari jejak keberadaan Zafrina. Sangat sulit baginya melacak mobil itu karena tidak sembarangan orang bisa menembus keamanan kota. Karena itu sama saja perbuatan ilegal. Tapi demi menemukan adiknya Zafa rela melakukannya. Zafa mengambil ponselnya. Dia menghubungi seseorang.


"Bantu aku melacak satelit, Zafrina hilang. Aku tidak bisa mencari satu per satu gambar dari CCTV kota. Waktunya tidak efektif."

__ADS_1


"Baiklah, beri aku waktu aku akan segera menemukannya."


Zafa menutup teleponnya dan kembali melihat kamera CCTV yang berada di beberapa titik kota.


Sementara itu Rian menggeram kesal saat mendengar Zafrina di culik oleh sahabatnya sendiri. Rian segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya.


Ia terduduk sambil memijat pelipisnya. "Semoga kamu baik-baik saja, sayang," gumam Rian. Ia tak menyangka jika akan mendapati masalah seperti ini terlebih di saat anak-anaknya telah beranjak dewasa.


Pintu ruangan Rian di ketuk. Masuk lah Raiden adik Zafrina yang kini berusia 17 tahun. Wajahnya tampan namun sayangnya ia adalah pemuda yang sedikit tertutup.


"Apa ada masalah papi?"


"Kakakmu di culik," Jawab Rian sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Siapa yang menculik kakak?"


"Biar Raiden yang tangani pria bernama Dominic itu."


"Apa yang akan kamu lakukan, son?"


"Bersenang-senang." Raiden pergi dari ruangan Rian. Rian di buat geleng kepala dengan tingkah putranya itu.


Tak lama ada pesan masuk dari Zafa. Dia menemukan dimana Zafrina sekarang. Rian mengambil mantelnya dan segera pergi untuk menemui Zafa dan menantunya.


....... ...


"Aku akan pergi ke dermaga sekarang."

__ADS_1


"Jangan gila kamu... " bentak Zafa.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? dia istriku biarkan aku yang menghadapi masalah ini," ujar Zafa frustasi.


"Kau tidak tahu musuh yang akan kau hadapi. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?"


"Apapun resikonya, demi Zafrina."


"Jika begitu berangkatlah. Tapi jika sampai kamu mati saat menyelamatkan Zafrina. Saat itu juga aku akan mencarikan Zafrina jodoh lain."


"Jangan tega seperti itu, kakak ipar."


"Jika begitu diam lah, tunggu papa dan uncle Rian. Kita atur strategi bersama-sama."


"Kita belum tahu apa motif mereka menculik Ina, menurut pengamatan ku, ini bukan penculikan bersyarat. karena sampai sekarang tidak ada telepon yang meminta tebusan. Ini tidak sesimpel itu," ujar Marvel.


"Aku tahu itu, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya yaitu mencari keberadaan Dominic," kata Zico.


"Terlalu lama," sahut Zafa tegas. Jujur saat ini dirinya pun sedang menyembunyikan perasaannya. Dia benar-benar khawatir pada adiknya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Maaf ya hari ini author lagi pelit. Baru ga enak badan.


Sambil nunggu mereka. Ada baiknya kalian Mampir yuk ke karya bestie onlenku namanya kak Yayuk Triatmaja


__ADS_1


__ADS_2