Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 88. Selalu Salah


__ADS_3

****


Zafrina kembali ke kamar bersama Zico setelah makan. Perutnya yang kenyang membawa Zafrina dengan cepat menyambut mimpinya. Zico terlanjur tak bisa tidur. Ia mengusap perut Zafrina yang datar dan berujar lirih.


"Semoga lekas ada pengganti di dalam perutmu ini, Queen. Aku tahu kamu sering merasa kesepian, tapi kamu tidak pernah mau memperlihatkannya padaku."


Zico menarik selimut lebih ke atas lagi agar Zafrina merasa hangat. Zico berbaring dengan menumpu pada kedua tangannya yang di lipat di bawah kepala. Matanya sejak tadi tak lepas menatap wajah istri sekaligus sahabat terbaiknya. Zafrina adalah sosok partner in life yang sempurna untuk Zico.


Keesokan harinya, Zafrina baru saja selesai mandi, wajahnya muram karena tak mendapati Zico tidur di sampingnya. Pria itu sudah berangkat duluan karena ada rapat hari ini dan hal itu membuat pagi Zafrina terasa buruk.


"Kenapa tidak membangunkan aku? kenapa harus berangkat pagi-pagi sekali? memangnya kantor udah buka jam 6 pagi?"


Sejak tadi Zafrina terus menggerutu. Suasana hatinya benar-benar tidak baik sekarang. Dia kesal, marah juga kecewa. Kekesalan Zafrina ternyata awet hingga siang menjelang. Pagi tadi dia bahkan melewatkan sarapannya. Ia merasa akhir-akhir ini perutnya terasa penuh.


Calvin dan Rey yang tidak tahu apa-apa bahkan jadi korban kekesalan Zafrina. Wanita itu terus marah-marah tak karuan hanya karena masalah sedikit.


"Kalian itu niat kerja atau engga? gitu aja susah banget."

__ADS_1


"Maaf, Nona." hanya itu kata-kata yang sepanjang hari ini diucapkan Calvin dan Rey. Mereka tak tahu apa penyebab nona mudanya marah-marah.


Zafrina mematikan ponselnya sebagai aksi ngambek karena Zico meninggalkannya pagi tadi. Calvin dan Rey sampai dihubungi oleh Zico untuk menanyakan keberadaan Zafrina. Calvin dan Rey seketika mengadukan semua yang mereka alami hari ini. Zico pun dibuat keheranan, Ia tak sadar jika dia lah penyebab istrinya uring-uringan.


Oleh karena hari ini Zico akan membawa Zafrina periksa ke dokter. Zico langsung bergegas ke butik milik oma Santika. Siang ini jalanan sangat macet, berulang kali Zico menghubungi Calvin dan menanyakan keberadaan istrinya.


Zafrina ada di dalam kantornya, jelang siang ini perutnya kembali terasa bergolak, Zafrina dengan cepat masuk ke kamar mandi dan berusaha memuntahkan isi perutnya. Berulang kali Zafrina merasakan mual yang sangat menyiksa, tapi tak ada apapun yang bisa ia muntah kan selain cairan berwarna kuning yang rasanya sangat pahit.


"Ya, ampun. Ada apa denganku?" gumam Zafrina, wajahnya terlihat pucat. Ia kembali duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya yang terasa tak karuan. Zafrina berpikir itu adalah efek ia melewatkan sarapannya.


Zico tiba pukul 2 siang, ia langsung masuk ke ruangan Zafrina setelah mendapat laporan pasti dari Calvin. Saat membuka pintu, ia melihat istrinya lagi-lagi terbaring di sofa. Rasa bersalah seketika menghinggapi Zico, ia tidak memperhatikan Zafrina akhir-akhir ini.


"Eh, kok nangis?" tanya Zico.


"Aku males ngomong sama kamu, mendingan kamu saja aja, deh," ujar Zafrina. Tangannya langsung mengusap air mata yang tiba-tiba menetes. Zico semakin dibuat bingung dengan sikap Zafrina yang tak seperti biasanya.


"Kalau aku ada salah, aku minta maaf, ya," kata Zico sambil mengusap rambut Zafrina yang berantakan.

__ADS_1


"Kamu jahat, kenapa pagi tadi tidak bangunkan aku?"


"Kamu tidur nyenyak banget, aku mana tega bangunin kamu, Queen. Maaf, ya. Aku salah. Sekarang kita ke rumah sakit, yuk. Kita periksa kesehatan kamu."


Zafrina menganggukkan kepala. Dia bangkit berdiri di bantu oleh Zico. Keduanya lalu meninggalkan butik menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Zafrina terus menutup hidung dan mulutnya dengan segenggam tisu di tangannya.


"Apa masih mual?" tanya Zico, Zafrina hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Aku hanya tidak suka bau pengharum mobil ini."


Hah, Apa? Zico sampai terbengong mendengar jawaban Zafrina. Ini adalah pengharum mobil yang sejak kemarin dipakainya dan kemarin istrinya tidak mempermasalahkannya, tapi mengapa hari ini semuanya terasa salah di hadapan istrinya itu.


Zico hanya bisa menerka-nerka ada apa sebenarnya dengan istrinya itu, Zico berpikir Zafrina akhir-akhir ini bertingkat aneh. Namun, Zico tidak berani mengungkapkan langsung apa yang sedang dia pikirkan.


"Apa jangan-jangan istrinya sedang mengandung? waktu itu Zafrina juga bertingkah aneh saat mencium bau parfum papi Rian."


Zico mengulas senyum, ia harap apa yang dia pikirkan benar adanya. Dia benar-benar sangat ingin memiliki bayi dari istrinya. Zico mengusap puncak kepala Zafrina.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2