Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 84. Membujuk Oma dan Opa


__ADS_3

****


"King, apa kamu benar-benar tidak keberatan jika kita menetap di sini?" tanya Zafrina disela-sela ia mengatur napasnya. Zico menatap istrinya lembut dan tersenyum.


"Tentu saja," jawabnya, sambil mengusap titik-titik keringat di kening Zafrina. Zafrina tersenyum lebar dan lalu memeluk Zico dengan erat.


"Terima kasih, King."


"Jangan berterima kasih padaku, kamu adalah istriku. Lagi pula kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga, aku pun juga sudah mengatakan pada papa, aku ingin memulai semua bersamamu dengan hal-hal yang baru. Meninggalkan masa laluku dan memulai semuanya dari awal."


"Aku mencintaimu, King," bisik Zafrina. Dia pun kembali melu*mat bibir Zico dengan lembut. Rasa cinta dan kasihnya pada pria itu semakin mengakar kuat. Ia ingin segera membahagiakan laki-laki itu dengan menghadirkan seorang anak. Saat tadi dirinya menggendong Jade, ia melihat sorot mata kesedihan di mata Zico.


Zafrina kini sedang menekuni pusaka Zico, mata Zico terpejam menikmati sapuan lidah Zafrina, tangan Zico memegangi rambut Zafrina yang terurai dan menutupi wajah cantiknya. Zico merasa istrinya sangat seksi di bawah sana. Zafrina mulai naik dan memimpin permainan. Zafrina melenguh saat pusaka Zico sepenuhnya memasuki inti tubuhnya.


Zico sangat menikmati pemandangan yang begitu mempesona itu, ia seperti dipaksa untuk jatuh cinta lagi pada istrinya. Zico mengerang saat gerakan Zafrina begitu keras menghentak miliknya, Sepertinya gejolak keinginan untuk memadu kasih membuat Zafrina terkesan liar, tapi justru disinilah daya tariknya. Zafrina terlihat berkali-kali lipat lebih menggoda.


"Argh... King," Pekik Zafrina, sejurus kemudian istri Zico itu membenamkan giginya di bahu Zico dengan kaki merapat kaku. Zico langsung membalik tubuh Zafrina hingga kini posisi Zafrina ada di bawah. Zico mengayunkan panggulnya dengan ritme yang cepat. Sebentar lagi dia hampir mencapai puncaknya. Zico meraup dada Zafrina dan mulai menghisapnya. Zico kembali merasakan tubuh Zafrina bergetar dan bibirnya melenguh lirih dan tak lama dia pun menyemburkan benih cintanya.


Zico berguling di samping Zafrina. Napas keduanya terdengar bersahutan dan memburu. Zafrina bangkit karena merasa desakan dari bawah sana. Dia berlari dengan tanpa busana ke toilet. Zico tersenyum melihat kelakuan Zafrina. Dia pun akhirnya turun dari ranjang dan menyusul Zafrina. Di dalam kamar mandi pun, kegaduhan mesra mereka kembali terulang. Erangan dan desa*han Zico dan Zafrina saling bersahutan dan menggema.


Pukul 3 sore, Zico dan Zafrina baru turun untuk makan siang yang kesiangan. Rambut keduanya masih semi basah, ruang makan tampak sepi karena memang jam makan siang yang terlewat.

__ADS_1


"Kakak, kalian baru mau makan siang?" tanya Zayana heran.


"Ya, memang kenapa?"


"Ternyata diam-diam kakak ipar mengerikan, ya?" kini Zayana hanya berbisik, takut kalau Zico mendengar ucapan pada Zafrina.


"Ada apa memangnya?"


"Itu, kakak pasti juga tidak sempat bercermin kan?" mendengar ucapan adiknya Zafrina segera berlari ke depan sebuah cermin yang tergantung di sudut ruang keluarga. Matanya terbelalak. Sejak kapan lehernya penuh dengan bercak merah ini? Zafrina bahkan tidak ingat. Zafrina hanya mampu meringis menatap Zico dan Zayana dari pantulan cermin. Untungnya hanya ada Zayana. Bagaimana jadinya kalau Zayn dan orangtuanya melihatnya.


Zayana yang tahu keresahan kakaknya segera mengambil sebuah foundation dan membantu Zafrina menutupi bekas keliaran suaminya. Zico menggaruk pelipisnya saat mendapatkan tatapan tajam Zafrina.


Malam ini keluarga besar Gerry sedang berkumpul di kediaman orangtuanya. Oma Arini sangat senang bertemu dengan Zafrina dan suaminya. Air mata wanita tua itu sempat menetes saat memeluk Zafrina, begitu pula Zafrina. Ia sedih melihat oma-nya kini hanya duduk di kursi roda. Opa Gama juga kondisinya kembali seperti dulu sering sakit-sakitan. Zafrina baru tahu jika ibunya harus bolak balik mengurus 4 orang tua sekaligus. Pasti lelah sekali, pikir Zafrina


"Kenapa Oma dan Opa tidak tinggal saja di rumah mama?"


"Sebenarnya kami sudah tidak apa-apa. Mamamu saja yang terlalu khawatir. Padahal Arya setiap hari sering kemari memeriksa kondisi kami."


"Mungkin mama tidak tenang kalau belum melihat sendiri kondisi kalian, lagi pula oma dan opa kan orangtuanya papa, sudah barang tentu mama pasti memikirkan kesehatan oma dan opa."


Dian dan juga Gerry serta yang lain hanya bisa lihat melihat Zafrina berdebat dengan omanya. Mereka tahu, oma Arini pasti akan kalah, karena dia sangat menyayangi Zafrina. Apapun yang Zafrina minta pasti selalu dituruti. Itu bentuk kasih sayang oma Arini pada Zafrina karena saat kecil dulu, Dian selalu mendahulukan kepentingan Zafa.

__ADS_1


"Lagipula jika di sana, Opa ada teman ngobrol atau main catur. Sedangkan di sini, kalian hanya tinggal dengan perawat dan pembantu," sambung Zafrina. Kedua orang tua Gerry saling melempar tatapan. Opa Gama mengangguk sambil tersenyum. Oma Arini menghela napas panjang lalu ikut mengangguk.


"Baiklah, oma dan opa akan pindah ke sana. Tapi kamu tinggal di sini. Oma tidak mau pada akhirnya rumah ini akan diingat sebagai properti semata. Rumah ini penuh kenangan untuk Oma. Kehadiran kamu dan mamamu membuat rumah ini terasa hidup kembali setelah lama mati," ujar oma Arini sambil menyeka sudut matanya. Zafrina memeluk tubuh ringkih itu. Dia mengangguk antusias.


"Aku akan menjaga rumah ini, Oma. Aku akan memenuhi rumah ini dengan teriakan dan tawa anak-anak ku. Jadi Oma dan opa harus tetap sehat, agar kalian bisa melihat bagaimana rumah ini akan menjadi ramai nantinya," kata Zafrina. Matanya turut mengembun mendengar penuturan oma-nya.


Zayana memeluk mama Dian sambil ikut menyeka sudut matanya. Akhirnya setelah sekian lama, akhirnya oma-nya mau pindah ke kediaman mereka.


Keluarga besar itu lalu makan malam bersama untuk yang pertama kali setelah kedatangan Zafrina. Oma Arini terlihat lebih bersemangat, opa Gama seperti biasa terlihat tenang dan kalem.


Malam ini Zafrina ikut pulang dulu ke rumah mama Dian untuk mengambil pakaiannya dan juga pakaian Zico. Oma Arini dan Opa Gama ikut di mobil mama dan papa mereka. Sedang Zafrina dan Zico mengendarai mobil sendiri. Zayana dan Marvel satu mobil dengan Zayn dan keluarga kecilnya. Mereka semua kembali dengan hati senang.


"Akhirnya, mama tidak perlu lagi bolak-balik mengurus kakek, nenek, oma dan opa. Aku senang sekali, King."


"Memangnya kenapa?"


"Sejak oprasi mama beberapa tahun lalu, kondisi mama sebenarnya tidak terlalu baik. Mama jadi sering mudah letih dan jatuh sakit, tapi demi Orang tua dan mertuanya mama seperti berusaha keras untuk selalu sehat. Aku tidak tega. Aku mau mama berumur panjang dan bisa melihat anak-anak kita nanti, King."


"Mama pasti berumur panjang, Queen," kata Zico sambil mengusap puncak kepala Zafrina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2