
*****
Setelah berkenalan, Zafia terlihat biasa saja kepada Raiden. Sialnya di sini justru Raiden-lah yang sangat penasaran pada adik bungsu kakaknya itu.
Zafrina tahu, ini kali pertamanya Raiden tertarik kepada lawan jenis. Biasanya Raiden-lah yang selalu menarik perhatian lawan jenisnya, tapi kini pemuda itu tampak lain dari biasanya.
"Ehem..." Zafia dan Raiden sama-sama menoleh ke arah kakaknya. Zafia buru-buru meraih gelas yang ada di atas nakas dsan memberikannya pada Zafrina.
"Minumlah dulu kak," ujar Zafia penuh perhatian. Zafrina dengan senang hati menerima gelas dari adiknya tersebut, namun ekor matanya terus melirik ke arah Raiden.
Zico masuk ke kamar, Ia mengajak semuanya ke ruang makan karena sudah waktunya makan siang. Zafia berdiri dan membantu Zafrina turun.
"Hati-hati, Kak."
"Terima kasih, Sayang." Zafrina berjalan bersama Zafia, gadis itu terus membelitkan tangannya di lengan sang kakak.
Raiden benar-benar dibuat terpesona oleh segala tingkah laku Zafia yang penuh perhatian itu.
Kelima orang itu turun ke ruang makan, Zico duduk di tengah, sedangkan Zafrina dan Zafia ada di sisi kanannya, sementara Raiden dan Dino duduk di sisi kiri Zico. Dino sengaja duduk berhadapan dengan Zafrina, sehingga Raiden berhadapan dengan Zafia.
Selama makan siang berlangsung, Zafia makan sambil sesekali bermain dengan tabletnya, Bagi Zafrina dan Zico, mereka berdua sudah sangat hafal dengan tingkah laku Zafia itu, tapi tidak bagi Raiden. Raiden merasa tindakan Zafia sangat tidak sopan. Akan tetapi untuk menegur pun dirinya tidak tega.
Saat tablet Zafia berkedip. Dia mnekan earphone yang sejak tadi terpasang di telinganya, dan dia mulai berbicara mengunakan bahasa Italia dengan sangat fasih.
Zafrina, Zico dan raiden sampai menghentikan kegiatan makan mereka sementara Dino bersikap tak acuh karena sudah biasa mendengarkan gadis iitu berbicara dengan bahasa asing.
Selesai menerima telepon, Zafia menatap heran saat mendapat tatapan seperti itu dari ketiga orang di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Zafia bingung.
"Berhentilah berbicara saat makan." Hanya itu kalimat yang terucap dari bibir Raiden.
"Maaf kak, bukan maksudku tidak sopan, tapi memang tadi ada hal yang mendesak. Jika begitu aku sudah selesai. Aku harus mengikuti meeting sebentar lagi." Bukannya menanggapi Raiden, Zafia justru berbicara sambil menatap Zafrina dan Zico. Ia lantas berdiri dan membawa tabletnya keluar.
Zafrina melirik ke arah piring Zafia yang hanya berkurang sedikit isinya, ia mendesah berat lalu mengalihkan tatapan matanya pada Dino.
"Kebiasaanya tidak pernah berubah. Apa dia sesibuk itu, Dino?"
"Kamu bisa lihat sendiri. Papaku sudah membantu adikmu mengelola sebagian cabang perusahannya, begitu juga denganku, namun hal itu tidak mengurangi kesibukannya sama sekali, justru dia semakin sibuk."
Zafrina lantas memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan buah-buahan dan juga jus untuk adik bungsunya itu. Dia jadi khawatir dengan kesehatan Zafia.
Raiden yang mendengar penjelasan Dino kini justru di buat penasaran dengan pekerjaan Zafia. Padahal gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang pekerja.
Di saat yang bersamaan, ponsel Dino bergetar. Dia mendapat pesan dari papanya. Mata Dino terbelalak. Dia lantas langsung berdiri.
"Ada apa, Dino? kenapa mengagetkan begitu."
"Aku harus menemui adikmu. Ini genting."
"Ada apa?"
"Ternyata perusahaan adikmu yang ada di Italia kebakaran."
"Apa? tapi kenapa?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, aku harus mencarinya." Dino berdiri dan langsung meninggalkan ruang makan. Zafrina tampak cemas, namun Zico menggenggam jemari gadis itu dengan erat.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Raiden terdiam, entah mengapa dia jadi kepikiran mengenai Zafia. Dia ingin menyusul tapi gengsinya menggunung. Raiden menjadi kesal sendiri hingga gelas yang ada di tangannya menjadi sasaran kekesalannya hingga akhirnya remuk.
"Raiden... " Zafrina menatap adiknya cemas. Dia tahu saat ini Raiden sedang tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi karena apa? Zafrina masih menerka-nerka.
"Maaf, Kak. Aku... "
"Kamu kepikiran soal Zafia?"
"Aku hanya merasa bersalah karena menegurnya tadi."
Zafrina mendekati Raiden, ia menarik tangan kanan adiknya yang sudah mengeluarkan darah, lalu Zafrina mencoba membersihkan tangan sang adik dari sisa pecahan kaca.
"Zafia sejak kecil memang begitu. Dia jika makan bahkan tidur atau ke toilet sekalipun tidak akan bisa lepas dari tabletnya dan semua keluarga tahu akan hal itu. Dulu mama Dian pernah menegurnya tapi kemudian Zafia sama sekali tidak keluar untuk makan. Dia memilih mengurung dirinya. Dia merasa bersalah, tapi dia juga seperti sudah tidak bisa pisah dari benda itu. Akhirnya kami sekeluarga memaklumi hal itu agar dia mau makan."
"Apa dia akan marah padaku?" tanya Raiden. Entah mengapa dia jadi kepikiran.
"Aku juga tidak tahu. Adikku itu spesialis memasang wajah datar. Sehingga orang tidak bisa membaca apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kalo bosan nunggu sembari buka novel karya sohib ku kak Puput, judul karyanya Antara 2 Billionaire.
__ADS_1