Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 36. Zico Mulai Posesif


__ADS_3

******


Pagi telah menyapa, Zico dan Zafrina masih sama-sama terlelap. Setelah beberapa kali ronde pertarungan hingga dini hari tadi. Keduanya masih berpelukan dan berbagi kehangatan.


Zafrina membuka matanya, dia menatap wajah Zico yang terlelap. Wajah yang begitu damai dan sangat tampan di mata Zafrina.


Dulu awalnya Zafrina tidak menyadari jika Zico adalah pria kecil yang dulu sempat ia jumpai saat dulu kedua orang tuanya melakukan resepsi di kapal pesiar.


Saat di kampus mereka berkenalan dan Zico lah yang awal mulanya menyadari hal itu hingga kini akhirnya keduanya menjadi sahabat, dan juga Dominic.


Ah, rasanya mengingat Dominic membuat Zafrina sedikit bersedih karena mereka sudah bersahabat cukup lama hampir 4 tahun lamanya.


"Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?" Zico tiba-tiba membuka matanya saat mendengar helaan nafas panjang Zafrina.


Zafrina yang sedang asik dalam lamunannya seketika menoleh dan lalu tersenyum sambil membelai rahang Zico yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


"Aku hanya kepikiran mengenai Dominic, bagaimana dia bisa tega menghianati kita. Padahal selama ini hubungan kita baik-baik saja."


"Morgan mengancam, Dom dengan memakai adik dan pacarnya. Bahkan aku dengar adiknya sampai depresi karena di perk*sa oleh Morgan."


Zafrina seketika menutup mulutnya, Setetes air mata lolos dari matanya. Masalah ini tidak sesederhana seperti yang terlihat. Morgan sampai tega menyakiti orang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


"King, bolehkah aku menemui Morgan nanti?"


"Apa kamu merindukannya?" wajah Zico mendadak berubah datar.


"Bukan begitu, King. Ku harap kamu tidak salah paham denganku. Percayalah hatiku hanyalah milikmu," kata Zafrina seraya membenamkan ciuman lembut di bibir Zico.


Zico menatap dalam mata Zafrina. Mata yang seakan-akan mampu memporak-porandakan hatinya.

__ADS_1


"Tapi tidak lebih dari 10 menit."


Zafrina pun mengangguk senang. Setidaknya nanti saat bertemu Morgan dia ingin menanyakan apa alasan Morgan hingga melibatkan adik Dominic.


"Apa kamu sesenang itu bertemu dengan pria itu?"


"Ish... selalu saja berpikiran buruk denganku," Zafrina mencebikkan bibirnya dan berbalik memunggungi Zico.


"Hei.. aku hanya bercanda, sayang."


"Terserah... terus saja kamu tuduh aku begitu. Lama-lama akan ku lakukan apa yang kamu tuduhkan padaku."


"Queen... "


"Apa?" ketus Zafrina.


"Aku mencintaimu," bisik Zico sambil mencium tengkuk Zafrina.


Geram dengan Jawaban Zafrina, Zico lantas menggigit punggung istrinya karena sangking gemas dengan kelakuan Zafrina.


"Aargh... sakit, King." Zafrina mengerang dan menatap Zico sambil melotot. Sementara Zico memasang tampang bersalahnya.


"Maaf, Queen. Sini aku lihat dulu apakah terluka atau tidak?"


"Tidak perlu, kamu hanya akan modus saja," Gerutu Zafrina sambil bangkit dari posisi tidurnya. Zico terkekeh melihat wajah kesal Zafrina. Apa lagi gadis itu sampai membanting pintu kamar mandi.


Setelah Zafrina selesai mandi, kini giliran Zico untuk membersihkan dirinya. Saat keduanya berpapasan di depan pintu kamar mandi, Zico sempat menggoda Zafrina dengan mencolek gunung kembar istrinya tersebut. Sontak Zafrina langsung memukul tangan Zico.


"Jangan marah terus, Queen nanti kecantikanmu akan memudar," kata Zico.

__ADS_1


"Bodo amat," ketus Zafrina.


Meskipun memendam, kekesalan namun Zafrina tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.


Setelah selesai, Zafrina langsung keluar kamar tanpa ada keinginan untuk berdandan. Ia hanya menyisir rambut panjangnya dan juga memakai sebuah pelembab bibir.


"Pagi, Pah," sapa Zafrina pada papa Leo yang sedang menyeruput kopinya. Leo seketika meletakkan cangkirnya dan tersenyum kepada menantunya.


"Pagi, menantu kesayangan papa," jawab Leo menggoda Zafrina. Gadis itu tersenyum malu mendapat jawaban begitu dari papa mertuanya.


"Jangan genit pada istriku, Pah," protes Zico. Pemuda itu segera memakai baju yang di siapkan oleh istrinya dan gegas menyusul Zafrina yang ternyata keluar terlebih dulu tanpa menunggunya.


"Masa kamu cemburu pada papa, Zi?"


"Pada siapapun aku pasti cemburu termasuk pada uncle Rian dan papa Gerry juga pada saudara laki-lakinya."


"Dasar, posesif."


Zafrina hanya mampu menghela nafas kasar, melihat bagaimana ayah dan anak itu bertengkar mempeributkan sesuatu yang kadang menurut Zafrina sendiri itu bukanlah hal yang penting.


Tanpa memperdulikan Zico dan papanya, Zafrina duduk di kursi dan mulai mengoles selai di atas roti.


Zafrina meletakkan roti itu di atas piring Zico, begitu juga dengan piring milik papa mertuanya. Semua diisi dengan menu yang sama.


Namun tanpa di duga sebelum duduk Zico mengambil piring papanya dan mengambil roti yang ada di atasnya dan mengembalikan piring papanya ke tempat semula.


"Papa diet saja," kata Zico cuek lalu memakan roti miliknya dan juga milik papanya. Tak perlu waktu lama Zico sudah menelan habis semua roti itu.


"Ya ampun, Zi."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2