
*****
1 bulan kemudian
Zafrina dan Zico mulai bisa menerima kehilangan janin mereka. Saat ini keduanya mengikuti Zafia ke Italia karena masalah perusahaan Zafia kembali mengalami masalah. Dino sudah kembali ke negaranya sedangkan Raiden entah kemana.
"Apa sebaiknya kita bulan madu sekalian di sini?" tanya Zico sambil mengusap lengan istrinya. Keduanya saat ini sedang duduk di balkon kamar hotelnya.
"Tidak mau! aku masih kepikiran mengenai Zafia. Sudah dua hari dia tidak pulang."
Zico hanya diam, dia tahu selama ini tanpa Zafia dan Zafrina tahu Raiden menempatkan beberapa orangnya di sekitar gadis itu. Pria itu lantas menghela napas panjang. Rasanya ia tidak akan bisa tenang mencetak penerus baru jika Zafrina terus seperti ini.
Zico bangkit dari duduknya dan meninggalkan Zafrina. Sejenak Zafrina menatap kepergian Zico dengan alis berkerut.
"Apa aku salah bicara?" Zafrina lalu mengikuti suaminya masuk ke kamar.
"Ada apa, King? Apa ada ucapanku yang salah?"
"Tidak ada, tapi jika terus begini aku jadi berpikir apa sebaiknya kita ikut turun tangan langsung membantu adikmu itu," kata Zico. Zafrina merasa suaminya begitu tulus menyayangi adiknya. perempuan itu pun akhirnya memeluk Zico.
"Terima kasih sudah memikirkan adikku, tapi aku rasa itu tidak perlu."
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" tanya Zico bingung, alisnya sampai bertaut. Zafrina menjawab sambil tersenyum.
"Aku yakin dia bisa mengatasinya dan lagi pula aku tidak butuh bulan madu. Aku ingin setiap saat bersamamu."
Zafrina lalu mengecup bibir Zico dan mulai menggerakkan bibirnya dengan agresif. Zico dibuat terlena dengan ciuman Zafrina. keduanya saling bercumbu sambil melangkah ke arah ranjang. Baik Zafrina maupun Zico sangat menikmati foreplay yang mereka lakukan, kini baju keduanya sudah berserakan di lantai. Zafrina dan Zico mulai melakukan penyatuan hingga kini yang terdengar hanya suara erangan dan desa*han yang saling bersahutan.
Zico mengusap peluh yang ada di kening Zafrina begitu juga sebaliknya. Keduanya tersenyum penuh kebahagiaan hingga akhirnya terlelap.
Di suatu tempat, Zafia sudah dua hari ini tidak memejamkan matanya. Dia terus berusaha menjatuhkan lawannya dengan memasukkan virus buatannya dan gadis itu ingin memastikan sendiri virus buatannya bisa merusak server perusahaan musuhnya.
Zafia merenggangkan ototnya, dia menoleh ke samping di mana di sana ada seorang pemuda yang sedang terlelap dengan wajah yang lelah. Pemuda itu baru saja tiba entah dari mana. Zafia juga tidak mau ikut campur urusan pria itu.
"Fia, tidur lah!" suara Ferran tiba-tiba mengalihkan Zafia dari pemuda itu.
"Sudah dua hari kamu tidak tidur."
"Setelah ini aku akan hibernasi, tenanglah." Ferran mengambil kursi dan duduk di samping Zafia. Dia melihat kantung mata gadis itu bahkan mulai menghitam. Ferran benar-benar salut pada gadis itu, dia semakin menggilai Zafia dengan sejuta keahliannya.
Pemuda yang semula terpejam itu membuka mata. Dia sebenarnya tidak benar-benar tidur, ia mulai merasa tidak senang saat mendengar Ferran mulai memberi perhatian pada gadisnya.
"Kamu masih belum tidur juga?" tanya pemuda itu, ia lantas bangun dari tidurnya."
__ADS_1
"Kalian berdua ini terlalu berisik. Menyesal aku memberi tahu kalian keberadaanku.
"Kamu mau aku laporkan pada kakak?"
"Terus saja mengancamku, kamu memang tukang mengadu." Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Raiden itu tersenyum tipis melihat wajah kesal Zafia. Ferran menatap tidak suka ke arah Raiden karena pria itu sejak tiba di tempat itu selalu membuat ketenangan Zafia menghilang.
"Sebaiknya kamu temui kakak saja. Aku di sini bukannya sedang bermain," kata Zafia dengan nada mengusir.
"Aku di sini justru karena perintah kakak. Jika tidak aku lebih memilih mengganggu kakak honeymoon dari pada melihatmu menatap layar komputermu." Zafia seketika terdiam, wajahnya benar-benar terlihat kesal.
Di saat kedua orang itu sedang bertengkar, tiba-tiba layar komputer Zafia berbunyi dan memperlihatkan notif yang banyak sekali. Dia pun bersorak penuh kesenangan dan mengabaikan kekesalannya tadi.
"Yes... yes berhasil." Zafia melompat lompat dengan penuh suka cita. Ferran dan Raiden ikut tersenyum melihat tingkah Zafia yang seperti anak kecil mendapatkan mainan kesukaannya.
"Ferran, tolong kamu awasi. Jika barisan ini berwarna hijau itu artinya virusnya bekerja dengan baik, namun jika barisan kode ini berwarna merah dan berkedip itu artinya mereka mulai melakukan sesuatu. Aku sudah mencuri data rahasia perusahaan mereka tadi. Jadi jika nanti warna merah menyala terus dan tidak berkedip, kamu langsung matikan saja komputer ini. Maka virus akan terputus dengan jaringan kita.
Setidaknya untuk sekarang biarkan saja mereka sibuk memperbaiki sistemnya dulu. Sebelum mereka menyadari jika aku sudah mengacaukan server inti perusahaan itu," tutur Zafia memberi penjelasan pada Ferran.
Raiden melihat senyum licik dari wajah imut Zafia. Dia yakin jika Zafia bukan saja hanya cerdas, tetapi juga jenius. Untuk ini Raiden semakin ingin memiliki adik perempuan dari kakaknya itu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan Votenya ya. Mungkin nanti kisah mereka tak kan panjang.