
******
Author Pov
Di perusahaan Zico.
Resah, gelisah, khawatir semua rasa berkecamuk menjadi satu. Perasaan Zico sudah tidak bisa tergambarkan lagi. Penyesalan karena lalai menjaga istrinya membuat pemuda itu memilih diam. Apalagi kini kedua pria pemilik cinta pertama Zafrina sudah berada di satu ruangan yang sama. Hal itu membuat Zico semakin merasa kesulitan bernafas.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Maafkan aku, pah. Ini semua salahku. Aku seharusnya mengantar Ina sampai ke bawah. Aku tidak menyangka semua ini bisa terjadi." Zico menundukkan kepalanya dalam. Nyatanya memang dia tidak bisa melindungi Zafrina.
Gerry mendekat dan menepuk bahu Zico hingga Zico akhirnya mengangkat kepalanya. Pria berwibawa itu tersenyum tulus pada menantunya.
"Papa tidak akan menyalahkanmu. Ini semua sudah menjadi takdir Zafrina dan kamu. Kalian harus melewati fase ini agar kelak kalian bisa lebih waspada dan berhati-hati. Kita Do'akan semoga Zafrina baik-baik saja dimana pun dia berada."
Rian hanya diam, hatinya pun terasa gundah memikirkan keselamatan Zafrina. Tak lama pintu ruangan Zico terbuka lebar. Leo papa Zico datang dengan kemarahan. Dia berdiri di depan Zico dan menghadiahi putranya dengan satu pukulan keras.
Zafa dan lainnya terkejut melihat hal itu. Gerry yang masih berada di samping Zico seketika berdiri.
"Sabarlah, jangan perlakukan putramu seperti itu."
"Apa kau terlalu bodoh, hah? ini hal yang paling memalukan yang pernah terjadi sepanjang hidupku, istrimu hilang di wilayah kekuasaanmu sendiri. Jangan membuat keluarga kita jadi bahan tertawaan orang, Zi."
"Leo, jaga sikapmu!!" seru Rian.
"Kenapa tidak kau hajar, anak ini? Dia tidak bisa menjaga istrinya apa kau tahu itu?"
Trauma, dan ketakutan Leo atas kegagalan di masa lalunya membuat Leo menjadi lebih sensitif. Awalnya dia ragu dengan keinginan putranya untuk menikah karena dia takut apa yang terjadi pada rumah tangganya di masa lalu terulang pada putranya.
Dan ketakutan terbesarnya akhirnya benar-benar terjadi. Bahkan pernikahan yang baru seumur 2 minggu itu seakan penuh dengan cobaan. Apa Tuhan mengutuk keluarganya?
"Tenangkan dirimu, Brada. Putriku bukan wanita lemah yang bisa di tindas. Kita semua berada disini dengan satu tujuan, yaitu menyusun rencana untuk menyelamatkan Zafrina," kata Rian sambil merangkul sahabatnya itu.
BRAAK!!
__ADS_1
Pintu ruangan Zico di dorong dari luar. Semua mata menatap ke arah pintu, Raiden berdiri dengan arogan dan satu tangannya mencengkeram kerah baju Dominic. Raiden menendang tubuh Dominic yang terikat hingga Dominic jatuh tersungkur. Wajah Dominic tampak pucat saat melihat semua berkumpul di ruangan Zico. Terlebih tatapan Zico yang tampak sangat kecewa terhadapnya.
Dominic siap jika harus mati. Asalkan tidak ada yang mengusik keluarganya, ia akan mengakui semua kesalahannya di depan Zico agar Zico mau menyelamatkan keluarganya.
"Zi... "
"Jangan panggil namaku dengan mulut kotormu," Desis Zico.
"Ma-maafkan aku."
"Kau benar-benar mengecewakanku, Dom."
"Ck... aku membawanya kemari bukan untuk berbasa-basi. Tanya padanya siapa yang menyuruhnya menculik kakak. Setelah itu biarkan aku bermain-main sebentar." Kata Raiden masih dengan gaya arogannya.
"Morgan Jerico. Dia yang memintaku menculik Ina. Maaf, Zi. Dia memakai keluargaku dan mengancamku. Kamu tahu keluargaku adalah segalanya bagiku." Rian dan Leo saling melempar pandangan.
"Apa kau pikir Ina tidak berati untukku sehingga kau bisa berbuat seperti ini?"
"Black Shadow... " Desis Rian dan Leo bersamaan.
"Aku akan kesana menyelamatkan kakak sekarang," kata Raiden. Namun Rian dan Leo mencegahnya.
"Biar kami yang ke sana. Kami tahu awal dendam itu dari mana. Jadi biarkan kami berdua yang kesana."
"Hei, di sini aku adalah pemeran utamanya. Kenapa aku seperti tidak ada gunanya di sini?"
"Karena kau memang tidak berguna," ketus Leo yang notabene adalah ayah kandung Zico itu. Gerry dan Zafa serta Marvel hanya bisa geleng kepala. Ini situasi genting tapi bisa-bisanya besan dan menantunya malah ribut seperti ini.
"Baiklah kita berempat berangkat ke sana," putus Rian.
"Kenapa kau tidak melibatkanku?" tanya Gerry.
"Kau tidak pandai berkelahi. Jika aku mengajakmu, Zafrina bisa memusuhiku. Sudah kamu tunggu saja kabar dari kami."
"Si*alan kau meragukanku?"
__ADS_1
"Sudahlah... tidak perlu marah seperti itu. Sudah tua tidak pantas merajuk." Rian berdiri merapikan jasnya begitu juga Leo. Zico turut berdiri. Dia tersenyum pada papa mertuanya.
"Do'akan saja kami, semoga kami bisa membawa Zafrina kembali dengan selamat." Gerry mengangguk.
"Biarkan Marvel ikut kalian," seru Zafa. Semua saling melempar pandangan sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Tanpa banyak suara Marvel mengikuti keempat pria itu. Sementara tidak ada satupun dari mereka yang mempedulikan Dominic.
Dominic menunduk penuh penyesalan. Andai dia memiliki sedikit keberanian. Semua masalah ini tidak akan terjadi.
Zafa menatap Dominic. Terselip rasa kasihan saat ia menatap Dominic. Tapi semuaitu adalah resiko yang harus Dominic ambil karena telah berurusan dengan keluarganya. Apalagi orang yang telah ia usik adalah anak kesayangan Papa Gerry dan uncle Rian.
....... ...
Rian dan Leo mengemudi berdua. Sementara Zico, Marvel dan Raiden berada dalam satu mobil.
Zico memejamkan matanya dan memijat pelipisnya. Setelah ini dia tidak akan membiarkan Zafrina lepas dari pengawasannya.
Di dalam mobil Rian dan Leo. "Apa kau berpikiran sama denganku?" Leo
"Tentu saja, Morgan Jerico adalah putra Jeremy, si bandar narkoba itu," jawab Rian.
"Aku tidak menyangka black shadow akan bangkit lagi," lanjutnya.
"Apa kamu pikir motif penculikan Ina adalah balas dendam?" tanya Leo.
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Aku harap, menantuku baik-baik saja."
"Dia pasti baik-baik saja. Aku yakin itu," kata Rian.
Tak lama mobil mereka sudah memasuki dermaga. Raiden tampak sedang pemanasan merenggangkan ototnya.
"Mari kita beraksi."
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹