
****
Zafrina dan Zico tiba di rumah, Zico meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam meskipun sudah sangat telat, namun Zafrina melarangnya. Zafrina tidak mau makan saat ini, dia kini justru mengikat naik rambutnya dan memasang celemek di dadanya.
"Biar aku yang siapkan makan malam untukmu, King."
"Tapi kamu sedang tidak enak badan, Sayang," ujar Zico mengusap kedua bahu Zafrina dengan lembut.
"Jika hanya untuk menyiapkan makan malam untukmu aku masih punya tenaga." Zafrina mengambil sepotong daging wagyu dan mulai menaburkan garam dan lada di atas potongan daging itu. Penampilan Zafrina saat ini sungguh terlihat sangat seksi di mata Zico. Dari sudutnya berdiri, ia melihat kedua dada Zafrina tampaknya semakin berisi. Zico menatapnya sambil menelan salivanya kasar.
Aroma Rosemary bercampur butter semerbak harum tercium oleh Zico. Zafrina sepertinya ingin menghidangkan steak untuknya. Zico bukan tipe pemilih makanan tapi Zafrina selalu tahu apa yang harus disajikan di hadapannya.
Suara air mendidih seakan menjadi pelengkap kegaduhan yang dibuat istri Zico malam ini. 45 menit kemudian seporsi steak berikut sayur pelengkapnya telah siap tinggal di santap.
Zafrina menuang segelas air putih. Ia meletakkan gelas itu di samping piring Zico. Zico telah duduk di kursinya dan Zafrina duduk di sampingnya.
"Kamu yakin tidak makan?" tanya Zico sambil mengiris daging wagyu yang berwarna kecoklatan dengan aroma yang sangat harum itu. Zafrina mengangguk, saat ini yang dia butuhkan adalah kasur. Matanya sudah sangat lengket dan ia ingin segera berbaring.
__ADS_1
"Besok kita ke rumah sakit, ya?" tawar Zico.
"Hmm... ya," jawab Zafrina dengan mata terpejam. Istri Zico itu sepertinya sudah tidak tahan lagi menahan rasa ngantuk yang sejak tadi menderanya. Dia meletakkan kepalanya di atas meja makan dan terpejam. Zico yang sesaat menekuni steak nya langsung mengangkat kepalanya.
"Pasti capek banget, ya," ujar Zico sambil mengusap pipi istrinya. Zico segera menyelesaikan makannya. Setelah meminum habis air putih yang disediakan istrinya, Zico langsung berdiri dan mengangkat tubuh Zafrina.
Setelah meletakkan istrinya di ranjang, Zico masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Zico dan Zafrina menempati kamar utama, kamar bekas mama Dian dan papa Gerry saat dulu pertama kali menikah.
Zico selesai mandi dengan hanya memakai boxer, ia menekan tombol remot untuk mengatur lampu yang semula terang kini sudah berubah temaram. Zico meletakkan remot, ia mengambil selembar piyama yang menyerupai daster dari dalam lemari. Zico juga mengambil handuk kecil dan menyiapkan sebaskom air hangat untuk mengelap tubuh istrinya.
Zico pikir, pasti tidak nyaman tidur tanpa mandi dan berganti pakaian. perlahan Zico melucuti pakaian Zafrina, sebenarnya sejak tadi dia sudah sangat rindu untuk menggauli istrinya tapi melihat wajah lelah Zafrina ia pun tak tega, Zico mulai mengelap tubuh istrinya.
Zico hanya meletakkan handuk kecil itu di dalam baskom yang ada di atas langsung bergabung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Zico menarik kepala Zafrina lembut, ia memindahkan kepala Zafrina di lengannya. Tak lama Zico pun terlelap sambil mendekap tubuh Zafrina.
Pukul 3 dini hari, Zafrina terbangun. Ia merasakan kerongkongannya terasa kering. Dia mengangkat wajahnya dan menatap suaminya sekilas.
"Tampannya suamiku." Zafrina bangun dengan hati-hati. Jangan sampai gerakannya membangunkan Zico. Dia menunduk ke bawah, senyum Zafrina merekah saat melihat pakaiannya telah berganti. Betapa beruntungnya ia, memiliki Zico sebagai suaminya.
__ADS_1
Zafrina menuang air dari teko dan mulai minum. Perutnya mendadak terasa keroncongan. Zafrina memutuskan untuk mencari sesuatu untuk dimakan. Dia turun ke dapur. Suasana masih sangat begitu sepi.
Zafrina menyalakan lampu dapur dan mulai mencari sesuatu untuk mengisi perutnya. Dia melihat kedalam kulkas, tapi Zafrina tak menemukan sesuatu yang membangkitkan selera makannya. Dia mulai menggeledah seluruh lemari penyimpanan. Mata Zafrina seketika berbinar melihat ada deretan bungkus mie instan. Baru membayangkannya saja, rasanya air liur Zafrina tak tahan untuk tidak menetes. Ia langsung bergerak dengan cepat. Zafrina mengupas dua bawang putih dan mulai menumis. 2 telur ayam kampung sudah dipecahkan dan dikocoknya, Zafrina segera memasukkan telur itu ke dalam tumisan bawang putih. Setelah itu Zafrina mulai menuangkan air. Ia mengambil sayuran dan cabai untuk ditambahkan sebagai pelengkap.
Kepulan asap mie instan membumbung dan menggelitik rasa kelaparan Zafrina. Dia segera mengambil sumpit dan mulai makan. Suapan demi suapan perlahan mulai mengisi kekosongan di perut Zafrina. Wajahnya sangat puas sekali bisa memakan mie yang terbilang pedas itu.
"Queen," panggil Zico berdiri di gawang pintu dapur. Pria itu kini memakai celana pendek sebatas lutut berwarna putih. Tubuh bagian atasnya telah terbungkus kaos berwarna putih.
"Ada apa, King? kamu kehilangan kehangatan, ya?" goda Zafrina.
"Tentu saja. Apa yang kamu makan?" tanya Zico mendekat ke arah Zafrina.
"Aku makan mie instan," kata Zafrina sambil kembali menyeruput kuah mie pedasnya.
"Akhirnya kamu lapar juga kan? tadi aja diajakin makan kamu nolak."
Zafrina hanya nyengir. Sekarang giliran Zico yang menjadi penonton istrinya makan, ia sesekali mengelap bibir istrinya yang terpercik kuah mie.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...