
*****
Baik Zafrina maupun Zico kini terdiam di tempatnya. Meskipun Zafrina menyalakan kran air dengan cukup kencang namun Zico tahu jika istrinya saat ini menangis. Zico menatap daun pintu yang sejak 10 menit yang lalu tertutup. Bahkan untuk berjalan mendekat dan mengetuk pintu itu, dia tak memiliki keberanian.
Cukup lama Zico berdiri menunggu. Zafrina akhirnya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe dan rambut yang tergulung handuk. Zafrina memilih berjalan menunduk. Kini matanya menjadi bengkak karena terlalu lama menangis. Dia tidak berani menatap Zico. Ia pun melewati suaminya begitu saja.
"Queen... " Zico menahan tangan Zafrina yang terasa keriput, mungkin karena terlalu lama berendam di dalam sana.
"Aku mau berganti baju dulu, King," ujar Zafrina berusaha mengelak tanpa menatap Zico.
"Aku suamimu 'kan? berbagilah denganku, meskipun itu sebuah rasa sakit. Jangan menyimpannya sendiri, seperti saat kita bersahabat dulu. Zico perlahan mengangkat dagu Zafrina. Bola mata istrinya bahkan tampak tenggelam karena kedua kelopaknya membengkak.
"Berbagilah, biar aku juga merasakan kesedihanmu. Biar aku juga tahu sesakit apa hatimu. Marahi aku jika memang aku salah. Jangan pernah diam dan menanggungnya sendirian." Air mata Zico tak urung kembali menetes. Sakit rasanya melihat Zafrina memilih menyimpan kesedihannya seorang diri.
Tanpa banyak kata, Zafrina langsung memeluk Zico dan kembali terisak. Sungguh dia sangat menyesali kebodohannya. Padahal sejak awal dia tahu jika saat itu fisiknya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Zafrina merasa sangat bersalah tidak hanya pada suaminya tapi juga pada seluruh keluarganya.
"Maafkan aku, King. Maaf... " lirih Zafrina sebelum akhirnya tubuhnya terkulai. Zico tidak serta merta panik. Dia tahu kondisi tubuh dan psikis Zafrina saat ini masih dalam kondisi lemah, Ia mengangkat Zafrina dan menidurkannya di ranjang, lalu ia segera menghubungi Calvin. Ia meminta pria itu untuk menjemput dokter yang menangani Zafrina di rumah sakit.
Zico duduk di samping sang istri. Dengan lembut dia membelai wajah pucat Zafrina. Dia tahu luka yang saat ini dirasakan oleh istrinya lebih dalam ketimbang apa yang dia rasakan. Hanya saja, sang istri terlalu pintar menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"Mari kita bangun semuanya dari awal lagi. Mulai detik ini aku akan berusaha mengikhlaskan semuanya. Aku harap kamu pun juga seperti itu. Kita harus ikhlas seperti katamu," bisik Zico.
Selang satu jam, dokter Anna tiba di pulau pribadi milik Zico. Wanita paruh baya itu tampak kebingungan ketika diajak untuk datang ke sana memeriksa Zafrina.
"Nona ada di dalam, Dokter."
"Ba-baiklah... " dokter Anna masuk dalam sebuah Villa yang berbentuk seperti kastil. Ia dibawa naik ke atas ke kamar Zico dan Zafrina.
Calvin mengetuk pintu perlahan-lahan. Zico dengan segera membukakan pintunya. Seulas senyum tipis Zico berikan untuk dokter Anna.
"Maaf jika saya mengganggu hari anda, Dokter."
Zico hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Dia tahu, dokter Anna pasti syok saat di jemput memakai Helikopter.
"Apa yang terjadi, Tuan Zico?"
"Istri saya pingsan lagi, dokter."
Dokter Anna mengikuti langkah Zico, ia bisa melihat Zafrina terbaring lemah di atas ranjang. Tanpa menunggu waktu, dokter Anna langsung mengeluarkan peralatannya. Ia dengan telaten mengecek satu per satu bagian terpenting tubuh istri Zico itu.
__ADS_1
Dokter Anna menghembuskan nafasnya panjang. Sejenak dia memasukkan stetoskop dan tensimeternya ke dalam tas lagi.
"Sebenarnya, kasus seperti nona Inna ini sudah sering terjadi pada pasangan muda pada umumnya. Berawal dari ketidaksiapan mental, kondisi fisik yang lemah hal itu memicu terjadinya mudah stres dan tertekan sehingga terjadilah keguguran."
"Lalu bagaimana langkah ke depannya yang harus saya lakukan, dokter? istri saya selalu menyalahkan dirinya sendiri, saya takut terjadi hal yang buruk padanya."
"Dampingi, beri suport dan yang terpenting curahkan segala perhatian anda padanya. saat ini jiwanya sangatlah rapuh. Saya khawatir bisa berpotensi menjadi depresi," tutur dokter Anna sambil menatap Zafrina.
"Seperti halnya wanita sehabis melahirkan, kebanyakan ada yang mengalami sindrom baby blues dan keluarga telat menyadari. Baru setelah ada kejadian fatal mereka baru menyesal dan bahkan justru keluarga menyalahkan si ibu. Padahal justru di saat-saat seperti itu dia membutuhkan perhatian."
Zico mengangguk-angguk. Dia tidak akan membiarkan istrinya mengalami itu semua. Ia kembali menatap dokter Ana yang mendekati istrinya.
Dokter Anna memasang selang infus di punggung tangan kanan Zafrina. Zafrina tampak mengeliat saat jaru,m menembus kulit tangannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Maafkan daku ya, daku yang lebih banyak mencurahkan waktu untuk my real life. Soalnya si bontot makin tambah gede makin punya banyak skil, dia seperti juga ada bakat gantiin peter parker (spiderman) setiap hari bikin jantungku berdisko. Jadi susah sekali di sambi nulis.
Sambil nunggu, neh ada karya bagus dari teman literasiku kak Nezha Ageha. Dijamin ceritanya bikin nagih. Jangan lupa di favoritkan ya.
__ADS_1