Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 76. Sisi Lain Rian Al Farez


__ADS_3

*****


Rian ternyata sudah merencanakan semuanya dengan matang, dia bukan sehari dua hari menjadi mafia, separuh hidupnya sudah dihabiskan untuk memusnahkan musuh-musuhnya. Jadi jika kali ini dia harus menghadapi David dengan tangan kosong, ia sama sekali tidak takut.


Pria itu hanya khawatir jika Velia atau Ravelo yang tidak pernah terjun ke dunia bawah justru akan menjadi sasaran empuk lawannya.


"Siapa musuh kamu kali ini, Honey?" tanya Velia, raut kecemasan tergambar jelas di wajahnya.


"Pria yang dulu dibesarkan oleh papamu."


"Maksud kamu, Kak David?"


"Hei, jangan menyebut namanya di hadapanku nyonya Al Farez." Alis Rian seketika langsung bertaut saat mendengar istrinya menyebut nama pria lain. Terlebih pria itu dulunya ada sesuatu dengan sang istri.


"Oh, ayolah, Honey. Dia tidak lebih dari sampah sekarang di hadapanku."


"Tapi kamu baru saja menyebut namanya dengan panggilan mesra." Velia hanya bisa merotasikan matanya malas.


"Baiklah, akan ku ganti dengan nama bad*jingan itu."


"Nah, itu kedengarannya baru cocok."


"Ya Tuhan, suamiku kenapa mendadak jadi aneh begini."


...***...


Setibanya di bandara, Rian disambut oleh beberapa anak buah lamanya yang sekarang bekerja pada Gerry. Ada Lukas, Pablo dan juga Diego ayah dari Marvel.


"Tolong jaga istri dan anakku," kata Rian menepuk bahu Lukas. Ketiga anak buah lama Rian itu menatap heran ke arah nyonya al Farez itu, kenapa dia harus berpenampilan seperti itu?

__ADS_1


"Tuan tenang saja. Kami akan menjaga mereka dengan segenap jiwa dan raga kami."


"Putramu sangat mengesankan. Tolong ajari Ravelo biar bisa menjadi seperti Marvel," ucap Rian pada Diego. Namun pria itu justru terkekeh pelan saat mendengar ucapan tuannya.


"Anda memujiku atau sedang menyindirku, Tuan? anda yang paling tahu bagaimana saya, dimana saya menghabiskan hampir separuh usia saya. Dia belajar tanpa pengawasan saya, Tuan. Dia adalah putra yang penuh dengan anugrah."


"Semoga saja Ravelo juga memiliki anugerahnya."


"Itu sudah pasti, Tuan. Kami pamit dulu karena 15 menit lagi pesawat akan mulai tinggal landas."


"Baiklah," jawab Rian singkat. Ia menatap istri tercintanya dan mengecup bibir merah delimanya dengan dalam. Para anak buah Rian menatap aneh karena Velia menyamar menjadi seorang pria. Jadinya mereka seperti melihat pisang makan pisang.


"Jaga kesehatanmu, aku akan menghubungimu nanti. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Cukup kamu jaga Ravelo dan arahkan dia untuk mengurus perusahaan kita."


"Hmm, ya. Velia tersenyum lalu ia membalas mengecup bibir Rian."


"I love you, honey."


"Ayo David, aku menunggumu," desis Rian. Dia berbalik dan mulai melangkah dengan tenang. Ponselnya bergetar dan ternyata itu panggilan dari putranya.


"Kenapa meledakkan gudang persenjataan, dad?"


"Beberapa hari ini ada yang mengintai kediaman kita, sepertinya ada yang mengincar ibumu. Katakan pada kakak iparmu untuk berhati-hati dan terus jaga Zafrina. Kita tidak akan tahu rencana musuh tapi setidaknya kita tahu bagaimana untuk mengecoh mereka."


"Ok, dad. Aku akan segera menghubungi kakak ipar."


Keduanya lalu mengakhiri panggilan. Rian masuk ke dalam mobilnya dan mulai melaju kembali ke mansionnya, sedangkan Raiden segera menghubungi kakak iparnya dan menyampaikan apa yang tadi papinya katakan.


Setibanya Rian di mansion miliknya. Beberapa pemadam kebakaran dan juga anggota kepolisian masih berada di sana. Semua orang dimintai keterangan, Rian datang dengan wajah tenang.

__ADS_1


"Ada apa ini Robert?"


"Gudang kita meledak, Tuan."


"Apa? kenapa bisa?" tanya Rian terkejut. Tentu saja ini ekspresi yang sengaja dibuat-buat olehnya.


"Kami juga tidak tahu, polisi sedang menyelidikinya."


"Tapi apa ada korban?"


"Ya, satu orang tewas, tubuhnya hancur sebagian."


"Segera hubungi keluarganya dan berikan santunan yang layak untuk mereka."


"Baik, Tuan." Robert menunduk. Rian menemui pihak kepolisian. Pihak kepolisian mengatakan jika mungkin korban berniat membetulkan panel listrik yang ada di dalam gudang itu tapi naas pria itu justru meninggal. Hal itu di perkuat dengan adanya alat listrik yang ada di samping mayat. Meskipun bentuknya sudah tidak beraturan tapi polisi yakin itu adalah kotak perkakas dan untuk mayat pria itu, polisi akan membawanya untuk diidentifikasi.


Rian tersenyum tipis, tidak ada kengerian di wajahnya, saat ia melihat mayat yang menghitam dengan sebagian tubuh yang rusak itu dimasukkan kedalam kantong mayat.


"Anda pemilik, rumah ini?"


"Ya, Sir. Saya pemiliknya. Tadi saya sedang mengantar kerabat saya ke bandara."


"Baiklah, jika begitu anda bersedia kan jika sewaktu-waktu kami membutuhkan kesaksian anda?"


"Oh, tentu bisa, Sir."


Rian pun keluar dari gudang yang terbakar itu. Matanya tampak berbinar. Entah apa yang dia rasakan, tapi ada kesenangan tersendiri yang terlihat dari binar matanya.


Robert bergidik ngeri melihat wajah tuannya. Sepertinya siapapun dilarang keras menyinggung pria itu. Jika tidak mau berakhir tragis seperti mata-mata yang mati mengenaskan di dalam gudang itu. Ia pun harus berpikir berkali-kali sebelum memutuskan untuk menghianati tuannya itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2