
*****
Seharian papa Gerry terus kepikiran akan putrinya yang berada jauh dari jangkauannya. Apalagi mengingat kondisinya yang baru saja kehilangan calon anak, pasti saat ini, Zafrina membutuhkan dukungan dari keluarga.
Meskipun di sana ada keluarga Rian, tapi Gerry tahu jika Zafrina sangat pintar menyembunyikan perasaannya sama seperti Dian, namun bukan itu poinnya. Gerry berharap Zafrina lebih kuat daripada mamanya. Gerry khawatir jika sifat Dian menurun pada putrinya termasuk mudah rapuh.
"Papa, kenapa melamun?" Zafia mendekati papa Gerry yang sedang duduk termenung di samping rumah menghadap ke taman bunga milik mama Dian.
"Papa sedang memikirkan kakak Inna."
"Masalah yang kemarin?" Zafia sudah tahu mengenai masalah keguguran itu. Menurut Gerry putri bungsunya itu lebih bisa menjaga rahasia ketimbang Zayana dan Zayn.
"Fia akan berangkat kembali kesana besok pah. Fia akan menemani kakak sementara waktu, sampai kakak benar-benar bisa ditinggal sendiri."
"Tapi, kamu juga belum istirahat sejak kemarin, sayang."
"Fia lebih kuat dari apa yang papa bayangkan," ujar Zafia sambil menyandarkan kepalanya di bahu papanya.
"Fia lebih mengkhawatirkan mama jika Fia pergi. Fia harap papa bisa mengatasi semuanya. Fia yakin papa bisa melalui ini semua."
"Tentu saja, tidak ada yang perlu kamu ragukan dari papamu ini." Gerry mendekap kepala Zafia dan mengecup puncak kepala gadsi itu.
Gerry sangat bersyukur memiliki putri seperti Zafia di hidupnya. meskipun usianya lebih muda dari pada yang lain, tapi cara pikir Zafia setara dengan Zafa.
...***...
Keesokan harinya, Zafia udah bersiap. mama Dian sejak tadi mendekapnya dalam diam. Zafia tahu ini saat tersulit bagi seorang mama Dian. Tapi Zafia yakin mamanya akan baik-baik saja.
"Fia janji akan selalu memberi kabar pada mama," ucap Zafia, mungkin ini adalah janji yang kesekian kalinya ia katakan setelah dia berpamitan pada mamanya.
Mama Dian mengangguk-angguk tanpa berucap. Hatinya masih sangat berat melepas buah hatinya itu, namun ia juga tidak boleh bersikap egois.
__ADS_1
"Mama jangan sedih, ya. Nanti cucu mama juga akan sedih melihat neneknya bersedih."
Dian tersenyum mendengar lontaran candaan Zafia. Dian memepas pelukannya dan membingkai kedua pipi putri bungsunya.
"Jaga diri dan kehormatanmu, sayang. Jangan lupa juga untuk selalu beribadah."
"Tentu saja, mah. Mama tenang saja jangan khawatir." Dian melepas kepergian Zafia sengan senyuman, Papa Gerry tidak sempat untuk ikut mengantar Zafia karena harus menunggu oma Arini.
Zafia berangkat diantar oleh Dino kakak sepupunya. Gerry memang menitipkan putrinya itu pada keponakannya, karena hanya Dino lah yang bisa menjaga Zafia.
"Jadi kamu kembali ke Cambridge karena Zafrina keguguran? Mereka menikah diam-diam atau bagaimana?" tanya Dino penasaran.
"Mulai deh kaya intel. Lagian masa uncle tidak memberitahu kakak mengenai masalah ini?"
"Kalau papa ngasih tahu aku, aku ga akan nanya sama kamu Fia."
"Ya intinya mereka udah nikah, dan waktunya juga bertepatan dengan kedatangan mama dan papa ke sana."
"Ya udah sana, laptopnya segera dilamar," ejek Zafia. Gadis itu menjadi anak yaag cerewet saat dekat dengan Dino dan juga teman-temannya.
"Berani ya kamu, ledekin kakak." Keduanya berjalan sambil bersendau gurau dan saling mendorong. Orang-orang di sekitar mereka yang menatap keduanya pun ikut tersenyum melihat bagaimana Dino dan Zafia bercengkrama.
Saat di dalam pesawat Zafia memilih tidur untuk menyimpan tenaganya. Dino memilih menonton film sambil sesekali tampak melamun. entah apa yang ia pikirkan sat ini.
...***...
Di belahan dunia lain, Raiden akhinya keluar dari sarang setelah puas menyiksa Morgan. Pria malang yang terobsesi pada Zafrina itu kini sudah tidak bernyawa lagi.
"Ah, akhinya aku kembali melihat dunia," ujar Raiden hingga membuat beberapa bawahannya hanya bergidik ngeri. Wajah calon ketua mereka itu begitu tampan bak keturunan dewa yunani, bahkan dia mudah akrab dengan para bawahannya. Tapi siapa yang sangka jika dibalik wajahnya itu menyimpan jiwa psikopat yang sangat menakutkan.
"Setelah ini kalian segera berkumpul di aula. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian, beritahu teman-teman kalian." Setelah mengatakan hal itu Raiden melenggang pergi masuk ke dalam hutan. Ia pergi ke sebuah pondok yang dulu memang sengaja ia buat untuk tempatnya beristirahat.
__ADS_1
Raiden membuka pondok itu, Ia lalu masuk ke kamar mandi. Raiden menyalakan shower dan mulai membasahi tubuhnya, ia menatap kedua telapak tangannya namun dengan sorot mata yang berbeda. Tanpa diduga Raiden tiba-tiba meninju cermin yang ada di hadapannya hingga hancur.
Tangan Raiden sudah mengucurkan darah, namun ekspresi wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan wajah kesakitan. Raiden menyelesaikan mandinya dan langsung mengenakan pakaiannya. Ia segera kembali ke markas untuk memberikan peraturan baru pada anak buah papinya.
Setibanya di aula para bawahannya menyambut kedatangan Raiden dengan hormat. Raiden duduk di singgasana milik Rian. Aura kepemimpinannya sudah sangat terlihat.
"Kalian aku kumpulkan di sini karena ada yang ingin aku katakan. Bulan depan kita ada perburuan besar-besaran. White tiger akan bergabung dengan kita. Sasaran utama kita adalah Evil Demon, dan sisa anggota Black Shadow yang masih di pimpin oleh pecundang yang sebenarnya. Aku dengar senjata yang akan mereka selundupkan kali ini bernilai fantastis. Bagi kalian yang sebagian terikat kontrak dengan perusahaan atau orang lain, nanti isi list karena aku pastikan tidak akan membawa kalian. Jangan sampai kalian terlibat masalah hukum. Jadilah mafia yang bermartabat. Habisi para penghianat tanpa ampun meski itu anggota keluarga kalian sendiri."
"Baik, Prince."
"Ramon, Jack, Felipe kalian bertiga akan aku tugaskan untuk menjaga kakakku. Setelah ini kalian bertiga ikut aku pergi. Untuk yang lain boleh bubar. Jika ingin liburan kalian masih punya waktu. Bagi kelompok seperti biasa. Nikmati lah hari kalian."
Raiden langsung bangkit setelah mengatakan hal itu. Ketiga orang yang ditunjuk Raiden langsung mendekati pemuda itu. Mereka berempat pergi meninggalkan markas.
Raiden pagi tadi baru mendapatkan kabar mengenai sang kakak. Dia tidak bisa ikut campur. Tapi dia akan tetap menyiapkan penjagaan untuk kakaknya.
"Kalian bisa bertindak tanpa perlu bertanya jika memang itu sangat mendesak. Lindungi kakakku dengan benar."
"Baik, prince."
Raiden memejamkan matanya selama perjalanan. Tangannya yang terluka bahkan ia biarkan saja. Ketiga anak buah Rian itu juga tidak berani mengusik sang putra mahkota penerus tahta King Devils.
Perjalanan mereka lanjut lewat jalur air. Raiden ingin menikmati waktunya sebelum nanti disana dia berhadapan dengan kakak iparnya. Rasanya Raiden sudah tidak sabar untuk menghajar Zico. Beraninya pria itu membuat kakaknya bersedih. Dia akan buat perhitungan pada kakak iparnya itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Seperti biasa author minta dukungannya kasih like, komen dan Vote kalian.
Sambil nunggu, neh author ada rekomendasi karya punya my bestie kak AG Sweetie. judul novelnya Call Me Yura.
Mampir ya. Berikan jempol, komen kalian jangan lupa di Favoritkan.
__ADS_1