Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 97. Minta Maaf


__ADS_3

****


Saat Zico keluar dari ruang operasi, hanya ada papa Gerry dan Zafa yang masih setia menunggu. Sedangkan Raiden dan papi Rian pergi entah kemana. Zico duduk di samping papa Gerry. Pria paruh baya itu menyerahkan sebotol air mineral pada menantunya.


"Bagaimana kondisi Ina?" tanya Gerry.


"Dokter membiusnya total, kemungkinan dia akan sadar besok. Papa dan Zafa pulang saja ini sudah hampir pagi."


"Kami akan pulang setelah memastikan kondisi Ina. Tadi Rian dan Raiden mengikuti perawat yang membawa putri kalian."


"Papa sudah melihatnya?" tanya Zico. Gerry tersenyum tipis dan lalu mengangguk.


"Iya, sudah. Dia seperti Ina sewaktu bayi, bibirnya merah dan pipinya merah."


"Maaf, Pah. Aku tidak menjaga Zafrina dengan baik," ujar Zico sambil menunduk.


"Apa yang kamu katakan? jangan seperti ini, kita semua tahu kamu sudah berusaha memberi yang terbaik untuk Ina. Kalau pun apa yang terjadi saat ini tidak sesuai dengan harapan kalian, terimalah ini menjadi bagian dari takdir yang harus kalian jalani. Jangan menyalahkan dirimu sendiri."


Zico menoleh menatap Gerry. Pantas saja jika Zafrina sangat mengidolakan pria paruh baya itu. Sekarang Zico tahu memang dia pantas untuk dikagumi.


Satu jam kemudian, setelah diobservasi, dokter mengizinkan Zafrina untuk dipindahkan ke kamar perawatan. Zico dan juga Gerry beserta Zafa mengikuti suster yang sedang mendorong brankar Zafrina.


Setelah berada di ruang perawatan. Gerry mendekat ke arah putri sambungnya. Dia mengusap kening Zafrina dengan lembut. Putrinya kini sudah bermetamorfosis menjadi seorang ibu. Ia yakin pasti Zafrina bisa meniru semua sifat keibuan Dian. Perlahan Gerry mengecup kening putrinya. Dia berharap besok Zafrina sudah sadar.


Gerry dan Zafa akhirnya berpamitan pulang. Mereka khawatir Dian tidak akan tidur karena menunggu mereka. Zico berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Gerry dan juga Zafa.


Zico duduk di kursi yang ada di samping ranjang istrinya. Dia menggenggam jemari sang istri yang begitu dingin. "Queen, aku harap kamu bisa segera sadar. Putri kita membutuhkan ASI kamu. Bukankah kamu bilang kamu tidak sabar ingin menyusui putri kita?"

__ADS_1


Zico tak sanggup lagi menahan rasa sesak di dadanya melihat istrinya justru lemah tak berdaya seperti ini demi melahirkan buah hati mereka. Air matanya kembali menetes padahal dia bukan tipe pria cengeng. Namun, segala hal yang menyangkut tentang Zafrina selalu sukses membuat ia menjadi pria melow.


"Aku tidak akan lagi meminta anak yang banyak dari kamu, cukup kita besarkan Amanda saja bersama-sama. Bagiku itu sudah lebih dari cukup. Asal kamu tetap ada di sampingku, menua bersamaku."


"Aku tidak mau, King. Kita harus punya banyak anak. Agar anak kita tidak kesepian," ujar Zafrina lirih. Meski masih berada di bawah pengaruh obat bius, tapi Zafrina mendengar semua yang diucapkan oleh suaminya.


"Queen, kamu sudah sadar?" Zico mengangkat kepalanya dengan wajah yang berbinar. Ia mengusap kasar air matanya dan lalu menciumi wajah Zafrina hingga membuat Zafrina terkekeh pelan.


"Queen, aku senang kamu sudah sadar. Aku takut kamu meninggalkan aku."


"Tidak akan, King. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian merawat Amanda. Bagaimana kondisi putri kita, King?"


"Aku juga tidak tahu, papi dan Raiden ada di sana."


"Maafkan aku, King."


"Maaf untuk apa? kamu tidak salah, papa bilang ini semua sudah menjadi takdir yang harus kita jalani bersama. Aku jadi merindukan mama. Tadi saat aku mengalami kontraksi rasanya aku sudah tidak kuat, seolah aku akan mati setelah itu. Selama ini aku belum membahagiakan mama dan malah memilih lebih sering tinggal bersama papi," kata Zafrina dengan suara tercekat. Air matanya mengalir deras.


Dokter itu tersenyum saat melihat pasiennya sudah sadar. "Syukur lah Nyonya sudah sadar. Bagaimana? apa yang anda rasakan sekarang, Nyonya Zafrina."


"Jauh lebih baik dari pada saat saya dibawa kemari, Dokter," jawab Zafrina.


"Saya ikut senang mendengarkan. Tadi kami melakukan operasi Caesar Eracs. Sekarang anda bisa latihan untuk duduk. Setelah itu perlahan anda bisa minum juga makan, tapi jangan terlalu dipaksa. masuk banyak karena khawatir anda akan mengalami mual atau bahkan muntah setelah itu. Jadi bertahap saja."


"Iya, terima kasih, Dokter. Lalu bagaimana kondisi putri saya?"


"Sejauh ini putri anda sudah jauh lebih baik, perkembangannya juga sangat baik. Namun, karena bayi anda lahir kurang bulan, tidak bisa langsung disusui. Jadi, nanti setelah anda sudah makan, saya akan meminta satu suster untuk membantu anda memompa ASI."

__ADS_1


"Sampai kapan, Dok, saya harus memompa ASI?"


"Sampai bayi anda siap dan bisa menghisap payudara anda tentunya. Kemarin sudah belajar pijatan agar ASInya lancar 'kan?"


"Sudah, Dokter dan sepertinya ASI saya sudah mulai produksi karena beberapa waktu lalu sempat sampai menetes banyak."


"Berati hormon anda, bagus. Usahakan jangan sampai stres karena akan mengganggu proses pemberian ASI," kata dokter Rita. Setelah dokter itu berpamitan, tak lama seorang perawat masuk mengantarkan makanan dan minuman untuk Zafrina.


"Mau minum?"


"Hmm, iya, King. Sejak tadi tenggorokanku rasanya begitu kering."


Zico akhirnya membantu Zafrina duduk. Wanita yang baru saja berubah status itu langsung minum dengan bantuan suaminya. Zico benar-benar merawat Zafrina dengan baik.


Pagi ini rombongan Dian dan juga keluarga besarnya tiba di rumah sakit. Zico saat ini berada di ruang bayi untuk memberikan ASI yang pagi tadi dipompa Zafrina. Wanita itu ketiduran setelah menyelesaikan tugas memompa ASI-nya.


Dian masuk ke ruang perawatan super eksklusif yang memang tersedia khusus untuk anggota keluarga Gerry. Dia melihat putrinya pulas tertidur, Dian mendekati ranjang putrinya, sementara anggota keluarga lainnya duduk di sofa dengan tenang.


Dian mengusap surai rambut Zafrina. Senyumnya mengembang sempurna, meskipun cucunya harus lahir secara prematur, tapi menurut informasi dari dokter anak yang menangani cucunya, kondisi Amanda bisa dikatakan sangat baik.


"Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu, Sayang. Selamat kamu sudah melewati fase tersulitnya. Semoga nanti kamu lebih kuat dari mama dalam membesarkan putrimu," batin Dian. Zafrina mengeliat matanya langsung terbuka saat ia melihat siluet wajah mamanya.


Hanya dengan saling memandang saja, Zafrina sudah berlinang air mata lagi. "Mama .... "


"Iya, Sayang?"


"Maafin, Ina, Mah. Selama ini Ina belum bisa membahagiakan mama. Ina sering membuat mama sedih. Ina baru tahu rasanya berada diambang kematian. Ina ga akan bisa membalas semua yang pernah mama lakukan untuk Ina."

__ADS_1


Dian tersenyum sambil mengusap air mata putrinya. Rasanya ia begitu terharu mendengar ucapan tulus dari putrinya. Ya, dia pun dulu merasakan hal yang sama. Seakan berada di ambang kematian dan di saat itulah, ia mengingat semua hal yang telah ibunya lakukan untuk dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2