
******
"Memang parfum papi kenapa, sayang?" tanya Velia penasaran.
"Sejak kemarin, entah mengapa aku sangat tidak ingin bertemu dengan papi," jawab Inna jujur. Bahkan mencium arroma parfum papi saja perutku sangat mual."
"Baiklah, jadi intinya kamu benar-benar tidak mau bertemu dengan papi?" tanya Velia.
"Ya begitulah, mami. Maafin Inna ya."
"Tidak apa-apa. Kita kan tidak bisa memilih mau seperti apa saat kita hamil dan merasakan nyidam. Nanti mami akan bilang sama papi jika begitu."
"Terima kasih, mami."
"Ya sudah, mami akan pulang. Mami takut kamu akan mual jika mami lama-lama disini." Wajah Zafrina tampak canggung mendengar mami Veli berkata hal demikian.
"Saya pulang dulu ya, mbak Dian, mas Gerry."
Setelah mami Veli berpamitan dan pergi, Zafrina justru menangis sesenggukan. Dian tahu perasaan putrinya saat ini. Dia dengan lembut mengusap punggung Zafrina hingga gadis itu merasa tenang.
"Apa menurut mama, mami Veli marah?"
"Jangan berprasangka buruk sayang. Kamu tidak salah. Mami Veli pasti bisa mengerti."
"Lagi pula jika sedang hamil kamu di larang keras untuk bersedih. Karena janin yang ada di perut itu bisa merasakan perasaan orangtuanya," sambung Gerry.
__ADS_1
Zafrina mengangguk lalu mengusap air matanya. Hatinya sedikit lega setelah berbicara dengan mama Dian dan papa Gerry.
Saat ini Zafrina sedang berbaring di samping mama Dian. Zafrina hanya ingin berdekatan dengan ibunya. Sejak tadi matanya tak lepas menatap wajah cantik ibunya.
Zafrina merasa mama Dian tidak menua. Bahkan garis keriput tak terlihat di wajahnya. Perlahan tangan Zafrina terulur mengusap wajah mama Dian. Karena wanita paruh baya itu memejamkan matanya. Posisi Zafrina berhadapan dengan mama Dian.
"Maafkan Zafrina yang belum bisa membahagiakan mama."
Dian menangkap tangan putrinya dan mengecupnya dengan lembut. Dia tersenyum melihat putrinya lagi-lagi menangis. Jemari Dian perlahan mengusap air mata putrinya.
"Kamu adalah kebahagiaan mama, kamu, kakak Zafa, papa Gerry dan adik-adikmu adalah kebahagiaan untuk mama."
"Terima kasih, mah. Mama sudah menjadi mama terbaik untuk kami."
"Aku juga mau melakukan hal yang sama seperti mama," ucap Zafrina sambil tersenyum, ia jadi ingat ingin membicarakan sesuatu dengan mamanya.
"Oh ya, apa mama tahu kakak dekat dengan seorang gadis?"
Alis Dian bertaut dalam, sejauh ini putranya tidak pernah menceritakan mengenai seorang gadis.
"Mama tidak tahu, sayang."
"Apa kakak diam-diam menjalin hubungan dengan gadis itu? kemarin saat di rumah sakit. Aku bertemu dengan kakak. Dia sedang menunggu seorang gadis."
"Biarkan saja. Toh kakak kamu sudah besar. Sudah saatnya dia mencari pendamping. Jika kalian semua sudah menikah. Papa akan membagikan warisan keluarga kita. Papa sepertinya sudah sangat lelah mengurus banyak perusahaan. Kini saatnya kalian yang mengurusnya."
__ADS_1
Zafrina tersenyum lalu memeluk mama Dian. Dia bahagia terlahir dari rahim mama Dian. Wanita yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang yang tulus.
"Terima kasih mama."
"Sampai kapan mau terus mengucapkan terima kasih?"
"Sampai mama bosan mendengarnya.." kata Zafrina. Gadis itu perlahan terlelap, mama Dian tersenyum dan membelai wajah putrinya.
"Berbahagialah kalian dengan pasangan kalian. Mama juga akan selalu bahagia untuk kalian. Dan mama akan selalu mendoakan kalian," Dian mengecup kening Zafrina lalu ia ikut memejamkan mata.
🌹🌹🌹🌹🌹
Hai guys author hari ini bawakan karya dari sohib author kak Susi Similikity
Judul karya : Istri kecil dosen muda
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya dan ternyata pria yang akan di jodohkan dengan dia, tak lain adalah Dosen nya sendiri yang sikapnya teramat dingin. Namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan tentang rahasia jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apa sang Dosen akan menerima jika dia mengetahui tentang jati diri gadis itu yang sebenarnya?
__ADS_1