
******
Zico dan Raiden berhasil naik ke kapal Black shadow menggunakan tali otomatis yang terpasang di rompi mereka.
Tidak ada yang tahu jika kedua pemuda itu telah menyelinap ke dalam kapal. Raiden dan Zico akhirnya berpencar untuk mencari keberadaan Zafrina.
Dari lorong ke lorong Zico terus mencari. Namun seketika matanya melihat ada dua pengawal yang berjaga di pintu. Ia yakin itu tempat dimana Zafrina di sembunyikan. Zico mengeluarkan pistol kedap suaranya dan mulai menembaki secara beruntun kedua pengawal itu.
"Kau menemukannya?" Raiden ternyata berdiri tidak jauh dari Zico.
"Sepertinya di sana."
Zico dan Raiden akhirnya mendekati ruangan yang di jaga itu. Jujur saja, saat ini Zico merasa sangat berdebar dia harap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.
Sementara itu di dalam ruangan penyekapan itu. Morgan sedang berusaha mengikat tangan Zafrina.
Gadis itu berusaha memberontak hingga membuat Morgan kesal. Morgan seketika menodongkan pistolnya ke kepala Zafrina.
"Berhenti memberontak, atau aku lubangi kepalamu."
Zafrina justru tertawa mendengar ancaman Morgan. Ia pun kini justru menatap tajam pria yang pernah ia tolong itu.
"Aku menyesal telah menolong pengecut sepertimu. Seharusnya ku biarkan saja kau mati saat itu," desis Zafrina.
"Jangan berkata seperti itu, sweetheart. Kamu belum merasakan keperkasaanku. Jika kamu sudah merasakannya, kamu tidak akan pernah bisa jauh dariku," ucap Morgan sambil membelai wajah Zafrina.
"Jauhkan tangan kotormu dariku," tegas Ina.
Disaat bersamaan pintu ruangan itu didobrak dari luar. Morgan reflek menarik Zafrina untuk di jadikan tawanan.
Zafrina melihat suami dan adiknya, bahkan gadis itu tersenyum tipis pada keduanya. Hati Zico seketika mendidih saat melihat bagaimana Morgan memeluk leher Zafrina.
"Turunkan senjata kalian," ujar Morgan. Namun baik Zico dan Raiden tidak ada yang menuruti perintah Morgan.
"Siapa kamu berani memerintahku?" jawab Raiden datar. Zafrina dapat melihat sorot mata Raiden telah berubah dingin. Sedang suaminya meskipun tampak datar-datar saja, tapi Zafrina tahu jika Zico sangat mencemaskan dirinya.
"Maaf, aku terlambat, Queen."
"Jangan khawatirkan aku, King."
__ADS_1
Suara tembakan masih saling bersahutan di luar sana. Mungkin saat ini hanya tinggal beberapa anak buah black shadow saja yang tersisa.
"Wah... wah kalian sangat romantis sekali. Tapi itu tidak akan lama lagi. Karena sebentar lagi, kamu akan menjadi milikku Queen Zafrina."
"Dalam mimpimu," desis Zafrina tak lama Zafrina menarik tangan Morgan dan menghentakkan kepalanya kebelakang hingga membentur pangkal hidung Morgan.
Morgan yang tidak siap dengan gerakan Zafrina seketika menunduk merasakan sakit di pangkal hidungnya, Zafrina langsung merebut pistol Morgan. Zico menarik tubuh Zafrina sementara Raiden maju menyerang Morgan. Raiden menghajar Morgan bagai orang kesetanan. Morgan sesekali menangkis pukulan tangan Raiden, tapi pemuda itu terlalu cepat gerakannya sehingga Morgan berkali-kali jatuh.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja," kata Zico memeluk Zafrina seraya menciumi rambut gadis itu berkali-kali. Zafrina membalas pelukan Zico dengan erat. Keduanya sejenak melupakan Raiden dan Morgan.
"Hei, kak. Apa aku mengganggumu?" tanya Raiden seraya terus menyerang Morgan.
Zico melepaskan pelukannya dan mendekati Adik iparnya. "Biar aku yang selesaikan urusan dengannya. Beraninya dia menaruh tangannya yang kotor di tubuh istriku.
Morgan tersenyum miring lalu dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
" Aku bahkan sudah merasakan bibirnya yang manis itu."
"Omong kosong," Desis Zico lalu dia melayangkan pukulan di wajah Morgan.
"Istrimu bahkan menikmati ciuman itu." Kembali Morgan memantik rasa cemburu Zico. Namun belum sempat Zico menghajar Morgan, Zafrina lebih dulu melayang, menendang wajah Morgan hingga pria itu akhirnya tumbang tak sadarkan diri.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku," ujar Zafrina mendekati Zico dan adiknya.
"Cih... sebenarnya tanpa kami pun kakak pasti bisa menyelesaikannya sendiri."
"Mereka membiusku, bahkan sampai sekarang aku masih merasa lemas."
"Tapi yang ku lihat tenagamu sangat penuh, kak."
"Ish... berisik." Zafrina tampak malu di depan Zico. Dia tahu Zico pasti kaget dengan aksinya barusan.
"King... "
"Queen, kamu baik-baik saja kan?" Zico tersadar dan memegang bahu Zafrina. Zafrina tersenyum lalu masuk ke dalam pelukan Zico.
"Kalian membuatku ingin muntah."
Raiden menarik Morgan yang sudah tak sadarkan diri dan membawanya keluar. Zico dan Zafrina hendak menyusul namun langkah ketiganya di hadang oleh seorang pria yang mungkin adalah kaki tangan Morgan.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu dari tuan kami."
Raiden tersenyum tipis mendengar ucapan Pria itu. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya. Raiden seperti titisan papi Rian jika berhadapan dengan musuhnya. Tenang dan menghanyutkan.
Namun belum sempat pria itu kembali berbicara, terdengar suara letusan dari pistol Raiden.
"Dia terlalu banyak berbicara."
Pria itu tumbang, dada kirinya mengeluarkan banyak darah karena tembakan Raiden. Raiden melewatinya begitu saja.
Zico dan Zafrina saling beradu pandang. Tapi kemudian Zafrina tersenyum.
"Jangan kaget dengan sikap adikku."
Zico tersenyum dan membelai wajah Zafrina. "Aku lebih terkejut dengan aksimu tadi."
Zafrina terkekeh, keduanya lalu berjalan menyusul Raiden.
Sementara itu di anjungan kapal, papi Rian dan Papa Leo sedang duduk menyaksikan puluhan mayat tergeletak. Kebanyakan dari mereka adalah mayat anak buah Morgan.
Papi Rian dan papa Leo menoleh saat melihat Raiden menyeret seseorang.
"Apa dia mayat juga?"
"Dia calon mayat. Aku akan berekperimen dulu terhadap tubuhnya." Zico dan papa Leo seketika bergidik ngeri. Raiden memang memiliki jiwa Psi*kopat. Tapi tidak banyak yang tahu kecuali Zafrina dan papi Rian. Tapi kini Zico dan papanya juga baru mengetahui fakta mengejutkan itu.
"Baiklah, pesta perburuan telah usai. Sudah terlihat jelas kan? kemenangan kita mutlak."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dah actionnya, author ga pandai buat. Jadi bentar aja ga sah banyak-banyak.
Yuk sambil nunggu mampir donk ke karya yang satu ini. judulnya Takdir Gadis Si Buruk Rupa.
karya dari Imamah Nur.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
__ADS_1