
*****
Kehidupan normal mereka mulai berjalan seperti biasa, sudah 2 minggu berita tentang David dan anteknya ditutup oleh kepolisian setempat sebagai kecelakaan karena tidak ada bukti apapun yang didapat. Bahkan saat diusut melalui satelit pun pihak kepolisian justru dibuat keheranan karena tidak ada rekaman apapun yang janggal saat itu, lalu bagaimana bisa ada bangkai mobil dan banyak mayat di lokasi itu. Mereka semua pada akhirnya memilih bungkam. Mereka tidak ada yang tahu jika sistem satelit mereka telah diretas Zafia. Gadis itu dengan mudah mampu menghilangkan jejak kejahatannya sendiri. Meskipun semalaman setelah kejadian itu ia mengalami demam tinggi.
Zafrina dan Zico memutuskan untuk melakukan bulan madu ke Indonesia lusa. Zafrina sekaligus ingin mengetahui kondisi nenek dan kakeknya. Zafia tidak ikut pulang karena sebentar lagi kuliahnya akan dimulai, begitu pula dengan Raiden. Pemuda yang mulai beranjak dewasa itu kini lebih memilih mengikuti Zafia kemana-mana.
"Sebelum pergi, apa kamu ingin kakak bantu?" tanya Zafrina pada Raiden.
"Maksud kakak?"
"Misalnya kamu ingin mengikat Fia dulu, jadikan dia tunanganmu," kata Zafrina, namun Raiden justru menarik nafas panjang. Tidak semudah itu menaklukkan adik perempuan kakaknya itu, pikirnya.
"Tidak, dia bisa sewaktu-waktu membenciku. Biarkan dia terbiasa dengan kehadiranku dulu. Baru setelah itu aku akan menjadikan dia istriku."
"Sebaiknya bubarkan saja kelompok mafia itu. Alihkan mereka dengan pekerjaan yang lebih manusiawi."
"Kakak tenang saja, aku juga sudah merencanakan semuanya. sampai sekarang aku masih teringat wajah pucat Fia malam itu."
Zafrina tersenyum, ternyata jiwa psikopat Raiden bisa teredam dengan keberadaan Zafia. Dia sangat bersyukur, semoga setelah ini tidak akan ada lagi masalah yang mengancam nyawa siapapun. Zafrina ingin keluarganya menghabiskan sisa usia mereka dengan damai. Tidak ada lagi darah yang tertumpahtertumpah setelah ini.
Tiba hari keberangkatan, Zafrina dan Zico diantar oleh papi Rian. Dia juga sudah merindukan istrinya yang telah lama tidak ditemuinya gara-gara drama yang David buat. Zafia dan Zafa melepas kepergian Zafrina dari apartemen. Zafa kini sibuk dengan wanita yang dulu ditolongnya. Sepertinya Zafa memiliki ketertarikan pada gadis itu.
Zafia hari ini ingin seharian di kamarnya, namun saat dia mematikan televisi. Bel apartemennya berbunyi berulang kali. Dengan malas Zafia membuka pintu apartemen dan muncullah sosok pemuda tampan yang beberapa hari ini selalu mengusik ketenangan harinya.
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Menyambut tamu jangan dengan wajah masam seperti itu," ujar Raiden seraya tersenyum lebar ke arah Zafia.
"Aku malas sekali melihatmu. Besok kita masih akan sering bertemu. Tolong untuk hari ini biarkan aku menjalani hariku dengan tenang." Senyum Raiden menghilang seketika. Pemuda itu kini cemberut mendengar ucapan Zafia.
"Aku hanya ingin mengantar es krim ini. Setelah ini aku pergi." Raiden meletakkan sekantong es krim itu di gagang pintu, bahu yang semula tegap kini merosot. Wajah ceria Raiden sirna. Pria itu berbalik dan hendak pergi. Namun Zafia justru malah tidak tega membiarkan Raiden pergi begitu saja dengan wajah muram.
"Masuklah... " ujar Zafia. Masih dengan memunggungi gadis itu, Raiden tersenyum lebar, tapi buru-buru dia merubah raut wajahnya lagi menjadi semelas mungkin.
"Aku tidak mau mengganggu harimu, maafkan aku." Raiden masih bertahan di luar pintu dengan tampang yang masih sama saja.
"Masuk sekarang, atau aku akan menutup pintunya sekarang." Raiden seketika berlari menyelinap di samping tubuh Zafia sebelum gadis jutek itu berubah pikiran. Ya, gadis jutek, itu julukan yang Raiden berikan untuk adik bungsu kakaknya yang benar-benar susah diajak bercanda.
Raiden telah mengamati semua kelakuan Zafia itu. Tanpa sadar senyumannya terukir. Semoga saja apa yang ia rencanakan akan segera terwujud dan ia bisa memiliki Zafia selamanya.
...***...
Di dalam pesawat, Zafrina memilih tidur. Dia merasa tubuhnya lelah sekali karena dari kemarin Zico tak henti-hentinya meminta servis darinya. Sebagai istri, Zafrina pun tak kuasa menolak kecuali jika dia sudah tiba masanya menstruasi.
"Apa Inna sakit?" tanya papi Rian pada Zico.
"Tidak, memangnya kenapa, Pi?"
__ADS_1
"Sejak masuk pesawat tadi dia terus tidur." Zico menggaruk pelipisnya, ia bingung harus menjelaskan apa pada mertuanya. Apa dia harus bercerita jika istrinya semalaman kurang tidur karena ulahnya?
"Tidak perlu kamu jelaskan. Dari gelagatmu, ini pasti karena perbuatanmu," ujar Rian sambil memejamkan mata dan bersandar di kursi jet pribadinya. Zico tersenyum canggung seketika itu.
Tak terasa perjalanan mereka telah tiba di Indonesia. Zafrina sudah bangun dan mencuci muka. Dia tidak mau menunjukkan muka bantalnya di depan mama dan papanya.
"Semoga saja, mama dan papa senang dengan kejutan kita," kata Zafrina dengan penuh semangat. Tidur selama belasan jam dan hanya bangun untuk buang air kecil serta makan membuat Zafrina memiliki banyak tenaga untuk memberi kejutan kecil pada mama dan papanya.
Rian dan pasangan baru itu berpisah, Rian sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Veli dan juga Ravelo. Zafrina dan Zico pergi bersama supir Rian. Sementara pria itu memilih pulang ke rumahnya naik taksi.
"Kita beli kue untuk mama dulu ya," kata Zafrina. Zico mengangguk sambil mengusap kepala istrinya. Mereka masuk ke salah satu toko kue ternama dan membeli cheesecake untuk mama Dian.
Setibanya di rumah, Zafrina tampak tak sabar untuk segera menyapa keluarganya. Pembantu yang membukakan pintu mengatakan jika keluarga besar Zafrina sedang makan malam saat ini.
Zafrina segera ke sana sambil berteriak. "Mama, papa aku pulang."
Mendengar suara putrinya, Dian langsung berdiri dari duduknya. Matanya berkaca-kaca saat melihat putri pertamanya ada di sana. Zafrina mendekati mamanya dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu dengan erat.
"Inna kangen."
"Mama juga kangen banget sama kamu, Sayang."
Zico memeluk Gerry dan juga Zayn. Sedang Zayana dan Judy hanya jadi penonton momen haru itu. Marvel juga duduk dengan tenang di samping Zayana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...