Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 63. Rapuh


__ADS_3

*****


Hari ini Zafrina sudah diperbolehkan pulang. Zafrina dan Zico memutuskan untuk mengabari papa Gerry mengenai hal ini. Mereka juga meminta papa Gerry untuk menyembunyikan masalah hal ini dari mama Dian.


Meskipun ikut merasa kehilangan, tapi papa Gerry terus membesarkan hati putrinya. Ia sendiri juga tak bisa berbuat banyak karena kini mamanya juga membutuhkan dirinya.


Saat Zico membereskan baju Zafrina, ponsel Zafrina bergetar. Panggilan dari papi Rian masuk. Perempuan itu sedikit menjauh untuk menjawab panggilan papinya.


("Apa kamu sudah mau pulang, sayang?")


"Hmm.. ya, papi. Memang kenapa?"


("Sebaiknya kamu tinggal di rumah papi saja. Zico tidak becus menjagamu.")


Zafrina mendesah, dia melirik sebentar ke arah Zico yang sedang memperhatikannya. Zafrina mengulas senyumnya sesaat. Ia lalu kembali menjawab papinya.


"Dulu papi yang maksa Inna menikah dengan Zico kan? jadi apapun resikonya, papi harus tahu jika sampai kapanpun Inna akan tetap memilih suami Inna. Lagi pula Inna pernah meninggalkannya sekali, dan papi bisa lihat hasilnya 'kan? aku harus kehilangan calon anakku. Kali ini apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan Zico."


Mendengar Inna berbicara serius, Zico langsung mendekat. Dia duduk di samping Zafrina dan menggenggam jemari tangan Zafrina.


"Biar aku yang bicara dengan papi?" bisik Zico. Namun Zafrina menggeleng dengan tegas.


Zafrina pun juga tak menekan tombol speaker agar Zico tidak mendengar ucapan papinya. Zafrina tidak mau papinya terus menyalahkan Zico sementara dirinya lah penyebab utama mereka harus kehilangan calon anak mereka.


"Papi, bukankah papi sudah menyerahkan diriku pada Zico? itu artinya apapun yang terjadi, aku sepenuhnya kini adalah tanggung jawabnya. Papi cukup mempercayai kami dan beri kami ruang untuk bisa lebih tahu satu sama lain."


("Tapi, sayang... ")


"Please... Inna mohon untuk kali ini saja."


("Baiklah, papi akan mempercayainya sekali lagi.") Zafrina tersenyum mendengar jawaban papinya. Dia pun langsung mematikan sambungannya.


"King, kita langsung liburan saja yuk."

__ADS_1


"Oke... apapun yang kamu mau, Queen."


Keduanya kini keluar dari rumah sakit. Zico langsung memerintahkan supirnya untuk memutar arah menuju ke perusahaannya.


"Kita belum menentukan tempatnya, King."


"Kita pergi ke privat island saja, sudah lama kita tidak kesana." Zico menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan helikopternya yang selalu terparkir di rooftop perusahaan miliknya.


Setibanya di perusahaan, Zico di sambut oleh beberapa anggota mafia White tiger. Zafrina tampaknya tidak terlalu memperhatikan mereka. Dia terus memeluk lengan Zico dengan posesif, seolah-olah jika Zafrina melepaskan lengan Zico mereka akan terpisah.


"King, apa boleh kita lama di sana?"


"Boleh, bahkan menetap di sana pun juga boleh. Aku bisa mengutus orang untuk membantuku mengurus pekerjaanku."


"Kamu memang yang terbaik, King." Zafrina mendaratkan ciuman lembut di pipi Zico. Keduanya langsung menuju pulau pribadi milik Zico.


Zico di sambut beberapa pelayan yang memang bekerja di Vila miliknya. Zico dan Zafrina pernah ke tempat itu dulu saat ulang tahun Zafrina yang ke 20. Zico merayakannya hanya berdua dengan Zafrina. Alasannya, hanya tidak ingin moment bahagia ulang tahun Zafrina terlewatkan dengan hal-hal yang tidak benar, seperti party pada umumnya di negara mereka.


"Zafrina berdiri di balkon dan menatap hamparan hutan pinus dan juga beberapa kebun bunga tulip. Zico menghampirinya dan memeluk perut Zafrina. Lagi-lagi matanya terasa panas. Perasaan bersalah, rasa kehilangan begitu menyiksa Zico. Nafas Zico pun mulai memburu.


"Relakan dia... " lirih Zafrina. Tiba-tiba setitik air mata jatuh mengenai rambut Zafrina. Zafrina seketika berbalik dan menatap suaminya.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya," ujar Zafrina parau. Zico menggeleng, dia tidak ingin istrinya itu terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak, ini bukan salahmu. Ini sudah kehendak Allah. Aku akan merelakannya," kata Zico sambil mengusap air mata Zafrina yang tergenang di pelupuk matanya.


"King... "


"I love you, Queen. Only you."


"Me too... "


Keduanya kembali berpelukan, Zico berulangkali mengecup puncak kepala Zafrina. Zafrina menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha keras menahan diri agar tidak menangis di depan Zico. Dia harus terlihat tegar agar suaminya tidak terus menyalahkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi, King,"


"Baiklah, jika perlu sesuatu panggil aku." Zico melepas pelukannya. Zafrina langsung melenggang tanpa menoleh lagi. Jangan sampai Zico melihatnya rapuh.


Begitu masuk ke kamar mandi Zafrina menyalakan kran dengan kencang dan dia pun meledakkan tangisnya. Sejak tadi rasanya dadanya terasa penuh. Semua tidaklah mudah untuk dia melalui harinya kedepan. Tapi demi suami dan keluarganya dia harus bisa menahan perasaannya sendiri.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai, kira-kira kalian sudah bisa meraba wataknya si Zafrina ini mirip siapa ya??


Sambil nunggu author lelet ini up. Mampir di karya sohibku Enis Sudrajat


Masa Lalu Sang Presdir (21+)



Blurb :


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"

__ADS_1


Ameera mengangguk mantap.


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.


__ADS_2