
*****
Zafrina dan Zico saling melempar pandangan melihat tingkah Raiden, Adik laki-laki Zafrina itu tampaknya benar-benar peduli pada Zafia. Zico dan Zafrina tersenyum sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Sepertinya papi dan papa akan berbesanan, aku kira dia hanya penasaran, tapi ternyata Raiden sudah dewasa," ujar Zico berkelakar. Zafrina mengangguk dan lalu menatap kearah pintu kamar Raiden yang tertutup.
Sementara itu, wajah Zafia telah memerah sepenuhnya karena sikap Raiden yang berlebihan. Raiden telah menurunkan Zafia di atas ranjang. Gadis itu memijat pelipisnya tanpa menatap Raiden.
"Apa masih pusing?" tanya Raiden mendekati Zafia. Sebelum itu Raiden meraih segelas air di atas nakas.
"Hmm, ya. Aku perlu istirahat sebentar," jawab Zafia tanpa menatap Raiden. Raiden yang penasaran dengan wajah Zafia seketika mengangkat dagu gadis itu.
"Tatap aku jika sedang bicara," kata Raiden, namun tangan Raiden segera ditepis Zafia.
"Jangan seperti ini, aku pusing."
"Ya, aku tahu itu, tapi biarkan aku melihatmu sebentar," Raiden bersikeras ingin melihat wajah Zafia, tapi sayangnya Zafia justru merasa malu jika bertatapan dengan Raiden lama-lama.
"Jika kamu tidak mau membiarkan aku istirahat, sebaiknya aku ke kamar kakak," ujar Zafia kesal. Raiden tersenyum tipis melihat wajah cemberut Zafia.
"Baiklah, sekarang minum ini, apa kamu sudah makan?" tanya Raiden seraya menyodorkan segelas air minum yang tadi diambilnya dari atas nakas.
"Belum, aku hanya perlu mengistirahatkan tubuhku sebentar. Nanti setelah ini pasti akan lebih baik."
"Sebaiknya makan dulu agar kamu bisa minum obat."
"Ray, please ... Leave me alone. Aku cuma perlu istirahat. Aku sedang tidak ingin makan." Raiden mendengus kesal. Dia pun akhirnya meninggalkan Zafia sendiri.
Raiden adalah pria yang sulit mengekspresikan perasaannya. Namun dengan Zafia dia merasa telah habis-habisan mengeluarkan semua ekspresi yang jarang dia perlihatkan pada siapapun.
Raiden keluar dengan wajah kesal. Zico dan Zafrina yang sedang mengobrol di ruang tengah pun merasa heran, padahal tadi Raiden sempat tersenyum saat mengangkat Zafia.
"Ada apa dengan wajahmu?"
__ADS_1
"Adikmu menyebalkan sekali, dia mengusirku."
"Dia memang seperti itu jika suasana hatinya sedang buruk."
"Kenapa?" alis Raiden mengernyit. Dia masih belum paham apa yang kakaknya katakan.
"Menurutmu...?" tanya Zafrina kembali, dia tahu saat ini pasti Zafia sedang kepikiran dengan mereka yang mati karena ledakan itu.
"Kemarilah!" Zafrina menepuk sofa di sebelahnya, mau tak mau karena penasaran Raiden duduk di samping kakak perempuannya itu.
"Ada apa? jangan membuatku penasaran," ujar Raiden tak sabaran. Zico pun sebenarnya penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya.
"Aku pikir Zafia saat ini pasti merasa bersalah karena baru saja melenyapkan nyawa orang. Kamu tahu? dia bahkan mungkin menginjak semut saja tidak akan tega. Apalagi menghabisi nyawa orang."
"Jika begitu, kenapa dia menciptakan alat peledak itu?"
"Entahlah, aku bahkan tidak mengenali adikku lagi sekarang. Dia selalu mengurung dirinya di kamar, tapi ternyata, dia menciptakan banyak alat-alat berbahaya. Jika dipikir-pikir, bom yang tadi dilempar Fia hanyalah sebesar kelereng dan jumlahnya hanya 2. Bagaimana mungkin itu bisa menghancurkan 3 mobil dan membunuh 8 nyawa sekaligus."
"Ya, semua adikku benar-benar punya keistimewaan tersendiri."
"Aku akan masuk ke kamar lagi untuk melihatnya," Raiden tiba-tiba berdiri hingga membuat kakak dan iparnya tersentak kaget. Zafrina langsung memukul lengan Raiden dengan keras.
"Kamu jangan tiba-tiba berdiri. Bikin kaget aja," gerutu Zafrina. Namun Raiden seakan tuli. Pikirannya kini tertuju pada Zafia.
...***...
Sedangkan orang yang saat ini sedang dibicarakan oleh ketiga orang tadi, ternyata sedang asyik menghubungi mamanya. Dia melakukan panggilan video karena merindukan ibunya.
"Sehat kan?" tanya mama Dian. Zafia mengangguk sambil tersenyum.
"Fia sudah mendaftar kuliah, tapi tidak jadi di Universitas tempat kakak menimba ilmu, aku memilih Massachusetts Institute of technology."
"Tidak masalah dimana kamu menimba ilmu, Sayang. Buat mama yang terpenting kamu di sana bisa jaga diri."
__ADS_1
"Aku rindu, Mama."
"Mama juga sangat merindukanmu, tapi mama masih belum bisa ke sana. Mama masih harus menggurus para kakek dan nenekmu."
"Fia tahu. Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu panggilannya, Ma, aku mau tidur. Mama dan papa jaga kesehatan. I love you."
"Baiklah, kamu baik-baik di sana. Jangan lupa untuk selalu berkabar, Sayang. Mama juga sangat menyayangi kamu."
Setelah layar menghitam dan tak menampakkan wajah mamanya lagi, Zafia menangis. Melihat wajah ibunya dia benar-benar merasa bersalah sekali.
"Mama, maaf. Fia sudah bunuh banyak orang."
Zafia pun akhirnya terlelap setelah berjibaku dengan perasaan bersalahnya. Rasa bersalah bukan pada para korban tapi rasa bersalah pada mamanya. Dia merasa bukan anak yang baik karena telah membunuh.
"Mama kecewa sama kamu, kenapa kamu harus membunuh? mama tidak pernah mengajari kamu menjadi pembunuh. Mama benar-benar kecewa padamu Fia. Kamu bukan anak mama lagi. Mama tidak mau punya anak pembunuh. Kamu bukan anak mama... kamu bukan anak mama."
"Mama, maafin Fia. Maaf, Ma... " Zafia terisak dalam tidurnya. Ternyata rasa bersalahnya pada sang mama terbawa sampai tidurnya. Raiden yang baru masuk merasa kaget mendengar suara Zafia yang setengah memohon. Dia pun mendekat dan menepuk-nepuk halus pipi Zafia.
"Fia, bangun. Hei... "
Zafia tersentak dan langsung memeluk Raiden. "Mama, maaf. Fia sudah bunuh orang." Zafia memeluk leher Raiden dengan erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu Raiden. Tubuh gadis itu terguncang karena isak tangisnya. Raiden mengusap punggung Zafia dengan lembut. Ada rasa sesal karena terlambat datang. Jika saja tadi dia tiba di sana lebih awal pasti gadis itu tidak perlu mengotori tangannya.
Tak lama isak tangis Zafia mereda dan napas gadis itu kembali teratur seiring pelukan di leher Raiden yang semakin mengendur hingga akhirnya Zafia terkulai di dengan wajah yang masih bertengger di bahu Raiden.
Perlahan Raiden menarik kepala Zafia dan merebahkan kembali gadis itu. Alis Raiden bertaut ketika ia baru menyadari suhu tubuh Zafia ternyata tak seperti biasanya. Raiden menarik selimut Zafia. Jangan sampai suhu tubuh gadis itu semakin meninggi.
"Jangan sakit," lirih Raiden. Dia mengecup kening Zafia cukup lama. Raiden merebahkan tubuhnya di samping Zafia. Dia merengkuh tubuh munggil gadis itu dan dia pun mulai ikut terpejam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hay guys, mampir yuk ke karya temanku yang satu ini.
__ADS_1