
******
Zafia duduk berhadapan dengan mama dan papanya. Dia tak menyangka orang tuanya akan berpikir terlalu jauh mengenai dirinya
"**Sayang, siapa sebenarnya teman-teman itu?"
"Apa kamu berteman dengan mafia?"
"Apa mereka berbahaya?"
"Jangan terlalu akrab dengan orang asing**."
Segala pertanyaan dari mama Dian dan papa Gerry semuanya bernada kekhawatiran. Tapi Zafia hanya menggeleng dan tersenyum.
"Papa, mama, Zafia sudah 17 tahun. Zafia tahu mana hal yang baik untuk Zafia dan mana yang tidak. Mama sudah mendidikku dengan benar. Aku tidak mungkin mengecewakan mama. Mereka adalah sahabatku dan kami bersahabat sudah lebih dari 5 tahun."
"Tapi mereka tampak berbahaya, sayang," ucap Gerry.
"Dari sisi mananya, pa?" mereka semua teman terbaikku. Orang-orang yang berada di belakang mereka semua aku kenal. Karena mereka bekerja untukku."
"Tapi, sayang... "
"Please, Mah, Pah. Percaya sama aku. Aku tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang merugikan diriku sendiri dan merusak nama baik kalian.
"Papa bukannya tidak percaya padamu, Fia. Tapi dunia ini tidak seramah yang kamu bayangkan, sayang."
__ADS_1
"Apa papa tahu, jasa ITE yang bekerja di perusahaan papa?"
"Siapa Vel?" Gerry menoleh pada Marvel yang sejak tadi berdiri mengikuti jalannya sidang."
"Saya belum pernah bertemu orangnya langsung tuan. Karena tuan Nino yang mengaturnya. Tapi mereka punya perwakilan yang cukup berkompeten. Perusahaan mereka bernama... " Zafia langsung memotong ucapan Marvel.
"ZF technologies," ujar Zafia. Marvel menganggukkan kepala. Tapi sedetik kemudian pria itu tersadar dan ternganga.
"A-apa itu adalah... " Marvel bahkan tidak sanggup melanjutkan ucapannya karena sangking terkejutnya.
"Ya itu perusahaan yang aku bangun tanpa sepengetahuan papa dan mama 5 tahun yang lalu. Berkat bantuan uncle Nino aku memiliki perusahaan yang bahkan selama 5 tahun aku tidak pernah menginjakkan kakiku di sana. Perusahaan yang memiliki pendapatan di atas 100 juta USD per bulan. Perusahaan yang kini diminati banyak perusahaan lain untuk bisa bergabung atau bahkan sekedar menggunakan jasanya. Perusahaan itu milikku, pah, dan sahabat-sahabatku lah yang mengelolanya."
Di saat sidang Zafia, ponsel Gerry tiba-tiba berdering. Dan ternyata itu panggilan dari menantunya.
(Papa, apa kalian semua baik-baik saja) bukan suara Zico melainkan Zafrina yang terdengar.
(Kami baik-baik saja, sayang. Ada apa? apa terjadi sesuatu?) tanya Gerry khawatir.
(Tidak papa. Baiklah jika kalian tidak apa-apa. Selamat beristirahat papa. Aku menyayangi kalian.)
Setelah sambungan telepon mati, Gerry kembali menatap putrinya, ada rasa kagum di hati Gerry, bahkan sudut mata pria itu sudah basah sangking senangnya.
"Maafkan papa sudah berpikir yang bukan-bukan padamu, sayang." Gerry memeluk Zafia erat. Gadis belia itu pun membalas pelukan hangat papanya.
Dian pun tersenyum penuh haru tak menyangka putrinya yang pendiam dan tak pernah bersosialisasi ternyata memiliki bakat yang benar-benar mengagumkan.
__ADS_1
"Fia hanya berharap kalian tetap mempercayai Fia. Aku tidak akan mengecewakan kalian."
Gerry dan Dian sama-sama mengangguk. Tuntas sudah rasa penasaran mereka. Bahkan Zayana yang sejak tadi menjadi pendengar tak menyangka adiknya diam-diam seorang Billionaire yang jenius.
Zafia menatap kedua orang tuanya. Dengan tangan kiri menggenggam tangan mama Dian dan tangan kanan menggenggam tangan papa Gerry.
"Bolehkan aku memiliki satu permintaan?"
"Apa itu, sayang? jika bisa akan kami kabulkan."
"Fia ingin melanjutkan studi di sini. Apakah mama dan papa mengijinkan."
Wajah Dian yang semula melengkungkan senyuman mendadak sirna. Lagi dan lagi putrinya yang lain menginginkan kehidupan yang jauh darinya. Tapi melihat harapan di wajah putrinya, ibu mana yang tega menolaknya. Dian kembali tersenyum walau hatinya terasa getir.
"Jika menurut kamu, dengan berada disini kamu bisa berkembang. Mama tidak akan menghalangi kamu sayang."
"Papa juga. Berkembanglah, sampai orang-orang tidak memandang keluarga kita dengan sebelah mata."
"Kalau Fia disini aku bagaimana dong, Pah?" protes Zayana.
"Kamu di rumah saja temani mama."
Zayana hanya bisa cemberut mendengar jawaban papanya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1