
*****
Rangkaian acara yang menjadi ajang berkumpulnya semua anggota keluarga besar mereka telah selesai. Zafrina duduk di kamar presiden suit yang disediakan papinya masih dengan memakai gaun pernikahannya.
Zico sedang mandi, Zafrina memainkan ponselnya dan membuka status beberapa temannya. Kebanyakan dari mereka memasang fotonya dan juga rata-rata memberi ucapan selamat serta doa untuk kelahiran anaknya yang tinggal menghitung minggu.
Tanpa sadar mata Zafrina semakin terasa berat. Ia tertidur dengan kondisi hape yang masih menyala. Zico keluar dari kamar mandi. Dia segera mendekati istrinya saat melihat Zafrina tertidur dengan memakai gaun pernikahannya.
"Queen, bangun. Ganti baju dulu."
"Aku lelah, King. Kakiku sakit sekali," rengek Zafrina dengan mata terpejam.
"Kalau begitu aku ganti bajumu, ya."
"Hmm ... "
Zico tersenyum, ia tahu istrinya pasti sangat kelelahan karena ia sedang mengandung. Zico melepaskan gaun pengantin Zafrina yang memang desainnya memakai zipper di samping. Perlahan Zico melucuti gaun pengantin istrinya dan menyisakan terusan dalam tipis berwarna putih. Zico mengambil handuk dan membasahi nya dengan air hangat. Dia menyeka tubuh istrinya memakai handuk itu. Zico sesaat melirik kaki Zafrina yang tampak bengkak. Dokter sudah menyarankan istrinya untuk operasi, tapi Zafrina bersikukuh untuk melahirkan anaknya sesuai waktunya. Tanpa Zafrina tahu, semua keluarganya benar-benar mencemaskannya. Bayinya pun sewaktu-waktu bisa terancam bahaya.
Zico ingat betul pembicaraannya dengan sang istri saat itu. Dia menangis dan memohon padanya untuk bersabar sebentar lagi sampai bayinya benar-benar siap untuk dilahirkan. Zafrina bahkan mulai menjaga pola makannya. Ia rela makan makanan hambar demi buah hati mereka. Terkadang tanpa Zafrina tahu, setiap malam Zico sering menangisi kondisi istrinya. Semenjak kehamilan Zafrina memasuki trimester kedua, tekanan darahnya sering kali tinggi.
Setelah selesai membasuh tubuh Zafrina, Zico mengambil tas perlengkapan make up istrinya. Ia mengambil cairan remover untuk membersihkan wajah istri yang masih terlihat segar meskipun si empunya wajah sudah terlempar jauh ke alam mimpi.
"King," Zafrina terbangun dan meringis kesakitan.
"Ada apa? apa ada yang sakit?"
__ADS_1
"Perutku rasanya tegang sekali."
"Kita ke rumah sakit, ya." Zafrina mengangguk lemah, ia merasa bayinya terlalu banyak bergerak dan perutnya semakin sakit.
Zico meraih ponsel di nakas. Ia menghubungi Rio agar bersiap di lobi hotel ia juga meminta Rio untuk menghubungi pihak layanan kamar untuk mengantar kursi roda untuk istrinya. Setelah itu, Zico membuka koper dan mencari dress untuk istrinya dengan terburu-buru, Zico memakaikan dress itu, Zico lalu segera mengangkat tubuh istrinya.
"King, jalan saja. Aku takut jatuh."
"Aku tidak akan menjatuhkanmu, Queen. Trust me."
Pintu kamar Zico diketuk. "King turunkan aku dan segera buka pintunya."
Zico pun menuruti istrinya karena dia tahu kursi roda yang dimintanya telah diantarkan. Zico segera mengambil kursi roda itu, ia meminta petugas itu menunggunya agar bisa membantu aksesnya turun ke bawah.
Wajah Zico ikut tegang saat melihat istrinya sesekali terpejam karena merasakan perutnya kembali tegang. Zafrina berkali-kali menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan.
Mobil yang dikemudikan Rio langsung melesat membelah jalanan. Zico sesekali tampak mengusap kening istrinya yang berpeluh. Rasanya ia ingin menggantikan istrinya menanggung rasa sakit itu. Sudut mata Zico bahkan telah basah melihat kondisi istrinya.
"Bertahanlah, Queen. Berjanjilah jangan pernah tinggalkan aku lagi."
"Hmm." gumam Zafrina dengan mata terpejam.
Setibanya mereka di rumah sakit, Zafrina langsung di dorong masuk ke ruang IGD. Dokter memasangkan CTG untuk mengecek kondisi janin Zafrina. Dari alat ini dokter bisa mengetahui kontraksi yang terjadi dan durasi kontraksinya.
"Dokter, kesadaran pasien menurun," ujar dokter jaga yang membantu memasang alat pendeteksi jantung untuk Zafrina.
__ADS_1
Zico berdiri tidak jauh dari bilik pemeriksaan istrinya. Ia mengusap wajahnya kasar. Dia harap, istrinya akan baik-baik saja begitu juga dengan bayi mereka.
"Tuan, kita harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan keduanya. Kondisi nyonya Zafrina semakin melemah," ujar dokter Rita. Dia sudah bersiap sejak tadi karena memang terlebih dulu sudah dihubungi oleh asisten Zico.
"Ya, lakukan apapun, asalkan istri dan anakku selamat," kata Zico kalut. Dokter Rita segera mempersiapkan semuanya. Bahkan beberapa dari perawat sudah menyiapkan persediaan darah untuk Zafrina jika sewaktu-waktu diperlukan.
Zico duduk di kursi tunggu. Tubuhnya menyandar lemah tak bertenang. Rasanya separuh jiwa nya ikut terenggut. Ia sudah menyanggupi untuk menunggui proses operasi istrinya, tapi ia diminta keluar dulu karena tim medis sedang mempersiapkan semuanya.
"Zi, bagaimana kondisi Ina?" Gerry tiba-tiba duduk di samping Zico. Tak hanya Gerry, Zafa, Raiden dan juga papi Rian ada di sana. Semuanya mungkin berwajah sama dengannya, sama-sama tegang dan pucat.
"Dokter sedang bersiap untuk tindakan operasi. Tadi kesadaran Zafrina menurun makanya dokter menyarankan untuk langsung operasi."
"Tidak apa-apa, kita Do'akan saja semoga Ina dan bayi kalian baik-baik saja," kata Gerry. Tak lama Zico dipanggil seorang perawat untuk masuk ke ruang operasi.
Setelah memakai baju steril, Zico duduk di samping kepala istrinya. Hatinya seperti tersayat saat melihat berbagai alat terpasang di tubuh sang istri.
"Aku mencintaimu, Queen. Jangan pernah tinggalkan aku," bisik Zico di telinga istrinya. Dokter dengan serius menganggani anak dari pemilik rumah sakit itu.
Tak lama dokter mengeluarkan bayi Zafrina. Seketika itu suara tangis bayi Zafrina terdengar menggema. Air mata Zico langsung mengalir dengan deras. Ia menciumi wajah istrinya.
"Selamat, Tuan, bayinya perempuan." Zico mengangkat wajahnya sekilas. Dia menghapus air matanya untuk dapat melihat wajah cantik bayi mungilnya.
"Kami akan membersihkannya dan membawanya ke NICU. Meskipun berat bayinya cukup, tapi kita perlu mengobservasi kondisi paru-paru bayinya terlebih dahulu, Tuan," kata dokter anak yang menangani putri pertama mereka. Zico mengangguk lemah, ia masih terus memegang tangan istrinya.
"Segera lah sadar, Queen. Aku dan putri kita sangat memerlukanmu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...