Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 82. Tidur Dengan Mama


__ADS_3

*****


Setelah adegan saling melepas rindu selesai, Zafrina dan Zico ikut makan malam bersama keluarga besarnya. Zayn menjadi lebih kalem sejak anak keduanya lahir.


"Bapak Zayn kalem sekali," goda Zafrina.


"Berisik," ketus Zayn. Judy mengusap lengan suaminya sambil tersenyum. Judy tahu Zayn belum bisa mengungkapkan perasaannya pada kakak perempuannya itu, namun sebenarnya tanpa orang lain tahu, setiap hari Zayn selalu menceritakan hal-hal baik dan keburukan Zafrina pada Judy. Itu menandakan jika Zayn juga sangat menyayangi Zafrina.


"Kalian berapa lama di Indonesia?" tanya Papa Gerry.


"Belum tahu, Pah. Kami ingin honeymoon di sini."


"Jika begitu, sekalian adakan resepsi pernikahan kalian saja. Biar semua keluarga besar kita tahu."


"Boleh, terserah mama dan papa saja," jawab Zafrina. Zafrina mengangkat piring Zico dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk lengkap. Dia tersenyum saat Zico menerima piring itu.


"Mulai sekarang, biasakan makan nasi. Ok!" ujar Zafrina. Zico mengangguk.


"Ana kapan menyusul?"


"Nanti, setelah dia bisa diangkat menjadi direktur di perusahan kakek tanpa nepotisme," jawab Papa Gerry. Zafrina menutup mulut dan terkekeh.


"Ah, papa engga asik." Zayana langsung cemberut. Sedang Marvel masih tetap anyep tanpa suara.


"Kebelet, ya," Zayn mulai ikut menggoda Zayana.


"Ya pengen aja, kaya kakak dan kak Ina."


"Tapi kak Zafa saja belum menikah," kata Zafrina memberi sanggahan pada perkataan Zayana.


"Pasti sebentar lagi, mama sudah dikenalkan pada kak Alexa," jawab Zayana bersemangat.


"Ya tetap saja, harus sabar, antri," tukas Zayn.

__ADS_1


Zayana mencibir karena kesal. Sepertinya Zayn dan kak Zafrina sama-sama sedang ingin menindasnya.


"Kak Marvel, belain aku dong."


"Apa yang dikatakan semuanya, memang benar. Kamu harus belajar dan menunjukkan pada semua dewan direksi kalau kamu bisa menjadi pemimpin di perusahaan. Setelah itu sesuai keinginanmu kita akan menikah."


"Bener, ya?" Zayana sampai tanpa sadar menunjuk wajah Marvel, dan pria itu mengangguk mantap. Setidaknya sekarang dia hanya perlu belajar mencintai dan menerima perasaan Zayana dengan senang hati. Lebih baik belajar mencintai tapi dibalas cinta dari pada bertahan mencintai tapi hanya mendapatkan luka.


Setelah usai makan malam dan sedikit bercerita, Zafrina meminta ijin pada papanya dan juga Zico jika ia ingin tidur bersama mama Dian malam ini. Papa Gerry hanya bisa pasrah saat istrinya dimonopoli oleh anak-anaknya. Zayn dan Zayana tertawa melihat wajah papanya saat Zafrina meminta hal yang tidak mungkin ditolaknya.


"Engga setiap hari, Pah." Zayn menepuk-nepuk pundak papanya.


"Huh, padahal papa tidak bisa tidur kalau tidak di dekat mama."


"Hilih, lebay, deh," sahut Zayana.


Zafrina masih menggelayut manja di tubuh ibunya. Kedua tangannya melingkar di sekitar bahu mama Dian. Mama Dian tersenyum melihat wajah pasrah suaminya. Mau bagaimana lagi. Untuk menolak dan melihat wajah kecewa putrinya saja, mama Dian tidak akan sanggup. Dia sangat menyayangi anak-anaknya.


Zafrina sudah berganti piyama di kamarnya. Dia memeluk Zico sebentar dan mengecup bibir Zico.


"Hmm, kamu itu bikin menderita dua pria sekaligus namanya."


"Aku masih kangen mama, ada yang ingin aku katakan pada mama."


"Baiklah, tidur yang nyenyak, ya."


Zafrina meninggalkan Zico sendiri di kamarnya. Pria itu merebahkan tubuh nya dan menatap sekeliling kamar Zafrina. Dia melihat beberapa pigura foto yang cukup besar yang terpasang di dinding. Di sana ada foto Zafrina kecil saat berpose di acara pernikahan papinya. Lalu di sebelahnya lagi ada foto istrinya saat masih SMP mungkin, ia sedang mendekap boneka beruang dengan wajah cemberut dan mata melirik tajam ke arah si pemotret. Tanpa sadar Zico tersenyum melihatnya.


"Kamu memang sangat cantik sejak dulu."


Sedangkan di sisi lain, Zafrina kini tengah meringkuk di pelukan ibunya. Suara isak tangisnya terdengar lirih menyayat hati. Siapa yang tahu jika sampai sekarang Zafrina masih terus menyalahkan kebodohannya hingga ia harus kehilangan calon anaknya. Dengan penuh kelembutan mama Dian mencoba menenangkan putrinya.


"Jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu harus mengikhlaskan sesuatu yang memang tercipta tapi belum ditakdirkan untuk kamu miliki, jadikan semua pengalaman itu sebagai pengingat. Semarah apapun Inna pada Zico jangan pernah meninggalkan rumah. Pergi dalam keadaan marah itu tidak baik. Mama pernah seperti itu dan mama pun menyesal," ujar mama Dian mengusap-usap punggung putri pertamanya.

__ADS_1


"Apa menurut mama, Inna masih bisa hamil lagi?"


"Tentu, Sayang."


"Inna mau punya anak banyak seperti mama, Inna mau menjalani kehidupan yang damai dan tentram dengan banyak suara anak-anak," kata Zafrina, suaranya teredam karena gadis itu membenamkan wajahnya dibahu ibunya.


"Mama dukung kamu, apapun pilihan kamu, jalani itu dengan perasaan senang. Seperti Zayn, katanya mau fokus kembangin kantor, tapi malah yang terlihat sibuk berkembangbiak." Mama Dian terkekeh seraya mengusap sudut matanya yang basah. Bohong jika dia tidak merasakan kesedihan putrinya, tapi di sini mama Dian juga harus bisa menjadi pelipur lara bagi putrinya. Biarlah apa yang dia rasakan untuk putrinya menjadi rahasianya sendiri.


"Kondisi Oma Arini bagaimana?"


"Oma, sudah baik-baik saja. Adik kamu bagaimana di sana?"


"Mama, mama keberatan tidak kalau nanti papi dengan mama menjadi besan?" Mendengar pertanyaan putrinya, alis Dian langsung mengernyit.


"Maksud kamu?"


"Sepertinya Raiden jatuh hati sama Fia."


"Kamu itu ada-ada saja. Mereka masih kecil untuk hal itu."


"Tapi Zayn juga begitu. Malah ganjen sejak lahir," protes Zafrina.


"Siapapun jodoh adik kamu, mama pasrahkan sepenuhnya pada dia untuk memilih dan itu pun kalau papa merestui. Lagi pula apa tidak aneh? mantan suami istri tapi malah menjadi besan?" Dian meringis membayangkannya.


"Kan bukan Inna menikahi kak Zafa, tapi ini Raiden dan Fia."


"Kamu tidak boleh dengan kakak. Kalian sudah sedarah, meskipun kakak tidak lahir dari perut mama."


"Iya, Inna tahu. Inna juga ga mungkin naksir kakak yang kaku begitu."


"Kalau engga kaku memang Inna mau?" tanya Dian penasaran. Zafrina menggeleng sambil tersenyum.


"Sudah malam, ayo tidur." Mama Dian menepuk-nepuk bahu putrinya hingga akhirnya Zafrina terlelap.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


maaf ya guys aku telat. Dari kemarin sibuk ngurus Ikan dagangan 😅😅 banyak permintaan jadi agak sibuk.


__ADS_2