Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 53. Berbelanja


__ADS_3

*****


Sementara itu, orang yang menjadi bahan pembicaraan Zafrina dan mama Dian, saat ini sedang termenung menatap gadis yang ada di hadapannya.


Selain dengan Lauren dan adik-adiknya, Zafa sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita. Bahkan dulu banyak yang tertarik kepadanya, tapi Zafa tidak pernah menanggapi para wanita itu hingga akhirnya mereka menyerah dengan sendirinya.


Tapi entah mengapa dengan Alexa, Zafa merasakan perasaan lain yaitu rasa ingin melindungi gadis itu.


Melihat gadis itu rapuh membuat Zafa teringat akan Lauren. Terlebih wajah Alexa sangat mirip dengan Lauren.


"Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Lauren. Atau ini hanya sebuah kebetulan saja wajah kalian mirip?" gumam Zafa.


Zafa merogoh ponselnya dan menghubungi mama Dian. Ia mengatakan belum bisa pulang karena masih ada urusan.


Mama Dian hanya tersenyum setelah memutus panggilan Zafa. Meskipun Zafa belum jujur mengenai gadis itu setidaknya Dian yakin jika putranya perlahan bisa menerima ketiadaan Lauren.


"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Gerry penasaran. Mereka baru dalam perjalanan setelah dari rumah Zafrina.


"Zafa belum bisa pulang, Mas," kata Dian, senyumannya masih mengembang di bibirnya.


"Biasanya kamu akan cemas jika dia tidak segera pulang. Kenapa sekarang lain?"

__ADS_1


"Kata Inna, kemarin dia mendapati Zafa di rumah sakit. Ia sedang menunggu seorang gadis."


"Pantas saja..."


"Pantas apanya, Mas?"


"Aku selalu mimpi indah. Ternyata itu bentuk dari anak-anak kita yang mulai menemukan kebahagiaannya."


"Kamu benar, Mas. Itu artinya hanya tinggal kita berdua."


"Siapa bilang, kita bisa tambah lagi."


"Jangan bercanda, Mas. Ingat cucu," ujar Dian dengan bibir mengerucut.


"Oh, iya kamu benar mas."


Gerry meminta supir memutar arah ke pusat perbelanjaan. Selama di perjalanan, Dian sibuk dengan pikirannya, dia jadi membayangkan jika semua anak-anaknya telah menikah dan mereka memiliki anak. Pasti saat nanti ada acara keluarga, rumah mereka akan sangat ramai dengan teriakan anak-anak.


"Sayang, jangan terlalu banyak senyum-senyum sendiri," ujar Gerry sambil menatap istrinya teduh.


"Memang kenapa, Mas?"

__ADS_1


"Kamu membuatku gemas hingga ingin menerkammu." Gerry mengangkat dagu Dian dan mengecup bibir tipisnya.


"Mas... " Dian mendorong tubuh suaminya yang masih tetap kekar di usianya yang sudah menginjak kepala 5 itu.


"Ada apa, sayang? kenapa masih selalu malu-malu."


"Ada supir, Mas. Ya, ampun... kamu itu."


"Dia tidak akan berani melirik ke belakang. Sigit saja selama ini tidak pernah berani mengintip kita bermesraan."


"Ya, itu karena mas melakukannya terang-terangan di depan asisten mas itu." Dian bersungut, tapi Gerry justru malah terkekeh mengingat kelakuannya selama ini di depan asisten setianya itu.


Keduanya tiba di pusat perbelanjaan. Gerry menggandeng tangan Dian dengan erat. 2 pengawal mengikuti mereka. Selama berkeliling Dian lebih banyak mampir di toko yang menjual perlengkapan bayi dan baju anak-anak. Apalagi jika bukan sekalian membeli keperluan untuk anak-anak panti asuhan milik Ara. Dian senang sekali saat berbelanja untuk anak-anak asuhnya.


Gerry memilih duduk di sebuah sofa, bibirnya terus mengukir senyum saat melihat Dian mondar mandir menunjuk tumpukan baju.


Istri dan juga ibu dari anak-anaknya ini memang sangat royal jika untuk kebutuhan panti dan anak cucunya. Sementara untuk kebutuhan pribadinya selalu Gerry yang menyediakan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai guys author mau promosi karya diar dari teman autor nih. Mampir yuk ramaikan karya temanku ini

__ADS_1



__ADS_2