
*****
Raiden mencoba melepaskan genggaman tangan Zafia, setelah terlepas. Raiden keluar untuk mengambil selimut dari lemari penyimpanan. Tak ragu-ragu Raiden mengambil beberapa selimut tebal itu dan membawanya ke kamar Zafia.
Raiden masih melihat Zafia meringkuk dengan tubuh yang menggigil hebat. Raiden mencoba mengecek denyut nadi Zafia, dan juga pakaian yang Zafia kenakan apakah basah atau tidak, seperti yang tertulis di pencariannya tadi. Saat merasa kondisi Zafia tidak seperti yang disebutkan di ponselnya. Raiden lalu merapatkan selimut Zafia dan meletakkan selimut lain di atasnya. Raiden memastikan jika selimut-selimut itu mampu menghangatkan gadis itu.
Namun saat Raiden akan berdiri, Zafia justru memegang tangannya dan mengigau.
"Papa, jangan kemana-mana. Di sini saja temani, Fia. Jangan bilang mama kalau Fia sakit. Fia tidak mau mama sedih."
Tubuh Zafia mulai menghangat dan ia sudah tidak menggigil lagi. Raiden menghembuskan napas lega, ia pun tersenyum simpul mendengar igauan gadis itu.
Raiden sengaja tidak lagi menarik tangannya. Ia justru malah ikut merebahkan dirinya di samping Zafia dengan tubuh menghadap ke arah gadis itu. Raiden kembali tersenyum saat melihat tangannya yang digenggam oleh Zafia di tempelkan di pipi gadis itu.
"Kucing lucu, maukah kamu menjadi temanku. Aku berjanji akan menjagamu," Lirih Raiden.
Tak lama pemuda itu pun ikut terlelap. Dino yang sebelumnya hendak memastikan kondisi Zafia langsung menggurungkan niatnya saat melihat Raiden tertidur di samping Zafia.
Dino bukan orang yang suka ikut campur dengan urusan saudaranya. Hanya saja saat melihat Raiden, entah mengapa dia merasa bisa mempercayai adik laki-laki Zafrina itu.
"Sepertinya akan sangat seru jika kalian berjodoh," gumam Dino, dengan langkah perlahan dia meninggalkan kamar Zafia.
Pukul setengah 5 pagi Zafia membuka matanya, awalnya dia akan berteriak karena melihat Raiden. Akan tetapi saat melihat tangannya yang menggenggam tangan Raiden, Zafia urung berteriak. Meskipun baru bangun untung otaknya sudah bisa bekerja dengan baik. Zafia sesaat terpaku menatap Raiden yang masih terpejam.
Zafia terus menatap Raiden tanpa berkedip, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik dan hidung yang mancung membuat Zafia sesaat tersihir. Gadis itu menepuk kepalanya pelan, lalu ia dengan hati-hati melepas tangan Raiden.
Zafia bangkit dari tidurnya, namun sayang, gerakannya justru membuat Raiden ikut terbangun dan membuka matanya.
"Apa kamu sudah baikan?"
"I-iya sudah," kata Zafia gugup, dia sama sekali tidak berani menoleh.
"Hmm, baguslah. Tidak sia-sia tanganku sampai kebas," ujar Raiden dengan memasang wajah tanpa dosa. Seketika Zafia menatap kesal ke arah pemuda itu.
"Kamu... " Bibir Zafia mengerucut dengan mata melotot, namun bukannya menakutkan, Raiden justru malah memjadi gemas. Sampai akhirnya tanpa dia sadari, bantal yang tadi Zafia pakai untuk tidur, mendarat tepat di wajahnya.
__ADS_1
"Hei...!!" pekik Raiden.
Zafia langsung berlari masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Tiba-tiba Zafia tertawa mengingat wajah Raiden tadi saat terkena pukulan bantalnya.
...***...
Pagi ini suasana ruang makan sedikit berbeda. Raiden duduk dengan memasang wajah masam sementara Zafia tampak tak acuh. Zafrina sampai dibuat keheranan dengan kedua adiknya tersebut.
"Kenapa pagi-pagi memasang wajah seperti itu, Ray?" Zafrina menatap adik laki-lakinya.
"Tidak ada, hanya sedang malas saja?" jawab Raiden sekenanya sambil mengoleskan selai di rotinya.
"Ada apa, Fia? apa semalam terjadi sesuatu?" tanya Zafrina masih penasaran, dia kini menanyai adik perempuannya.
"Aku tidak tahu, semalam aku tidur," jawab Zafia, dia sepenuhnya tidak berbohong. Hanya tidak menceritakan bagian kejadian pagi tadi.
"Kakak pasti sangat penasaran ya?" tanya Raiden. Dia akan membalas Zafia dengan caranya. Zafia seketika melotot ke arah Raiden. Berharap pria itu tidak mengatakan apapun tentang kejadian pagi tadi.
Dengan gerak bibir Zafia berkata untuk tidak memberitahu kakaknya mengenai kejadian tadi, namun Raiden justru seakan sedang menggoda Zafia.
"Ok... " Zafia menatap Raiden dengan kesal, sedang Raiden tersenyum penuh kemenangan.
"Ya, aku penasaran. Ceritakan padaku!" kata Zafrina sambil melirik adik perempuannya dari ekor matanya, dia tahu ada sesuatu yang terjadi pada keduanya tapi sepertinya adik perempuannya itu tak ingin dirinya tahu.
"Dimana kak Zico?" tanya Zafia menggigit rotinya, ia berusaha mengalihkan rasa penasaran kakaknya.
"Dia ada di ruang kerjanya. Ada meeting darurat," jawab Zafrina.
Zafia meneguk susu coklat kesukaannya, lantas ia langsung berdiri. Dia tidak mau berlama-lama di meja makan karena takut diintrogasi lebih oleh kakaknya. Lagi pula dia tidak yakin dengan Raiden. Pria itu bisa saja sewaktu-waktu bocor mulutnya.
"Aku juga sedang ada perlu, mau mengurus masalah kemarin."
"Fia, bilang pada uncle Bart untuk berhati-hati. Dia seorang mafia besar, dan kamu juga sebaiknya berhati-hatilah, jangan sampai teman-temanmu di sana juga menjadi incaran mereka," kata Dino memperingatkan Zafia.
Zafia tersenyum simpul lalu pergi begitu saja. Dia sebenarnya tahu siapa lawannya saat ini hanya saja dia tak ingin membuat siapapun khawatir. Dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan otaknya.
__ADS_1
Raiden menatap kepergian Zafia dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa yang sulit dia ungkapkan tapi yang jelas dia merasa sangat ingin melindungi Zafia dari apapun.
Zafrina dan Dino saling melempar pandangan, seakan keduanya memiliki pikiran yang sama mengenai Raiden dan Zafia.
...***...
Zafrina menarik tangan Dino selesai makan, keduanya kini berada di dapur utama kastil itu. Zafrina menoleh ke kiri dan kanan berharap mereka sudah aman.
"Apa kamu tahu apa yang semalam terjadi pada mereka? mereka berdua bertingkah aneh sekali," tanya Zafrina pada Dino.
"Aku juga tidak tahu, yang jelas semalam aku melihat mereka tidur berdua, sepertinya adik laki-lakimu itu menyukai Zafia."
"Aku pikir juga begitu. Tidak biasanya dia bersikap aneh begitu," timpal Zafrina membenarkan dugaan jika Raiden menyukai adik perempuannya itu.
"Terus awasi mereka. Aku tidak mau nasib mereka sama denganku."
"Kamu sudah jatuh pada orang yang tepat. Apa yang kamu sesalkan?"
"Tidak ada, tapi aku tidak bisa lagi menikmati masa mudaku."
"Siapa bilang, justru sekarang kamu halal melakukan apapun dengan suamimu. Jadi manfaatkanlah, ajak dia berbulan madu, atau setidaknya kalian butuh healing dan kembali bereproduksi."
"Bukankah itu terlalu cepat. Aku bahkan masih dalam masa pemulihan," ujar Zafrina.
"Ya tapi setidaknya nanti pikirkanlah. Jangan mudah dijatuhkan oleh wanita murahan. Hempaskan mereka dengan segala yang kamu punya. Memiliki suami tampan memang seperti itu resikonya, banyak lalat yang bertebaran dan ingin hinggap di sekitar suamimu."
"Ya, kamu benar. Aku terlalu gegabah dengan tindakanku."
"Jangan disesali, itu sudah takdir. Kalaupun saat itu kamu tinggal di mansion, tapi Tuhan berkehendak kamu keguguran saat itu, bisa saja kamu jatuh di kamar mandi, atau jatuh dari tangga sehingga menyebabkan janinmu gugur."
Zafrina mengangguk lalu tersenyum. Ia tahu mungkin memang sudah takdirnya. Ia hanya perlu kembali menjadi Zafrina yang biasanya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nanti sewaktu-waktu aku bakalan hapus visual mereka ya, aku bakalan pasang di IG ku emma_risma064 atau di Fbku Emma Risma, dari pada nanti jadi masalah karena mungkin ada hak cipta dll. (kalau ada yang mau follow tolong Dm atau komen di bab ya)
__ADS_1