
******
Zafrina masih sesekali terisak tapi dengan mata terpejam. Zico hanya bisa menghela nafas menghadapi perubahan emosi Zafrina di masa kehamilan ini. Ke depan mungkin tak akan semudah saat kedua orang tua Zafrina berada di sana. Zico hanya harus mempersiapkan diri menghadapi ledakan emosi istrinya.
Ponsel Zico bergetar di atas nakas. Ia lalu meraihnya dan membuka pesan yang masuk. Zico mendengus kesal saat melihat isi pesan yang dikirim oleh Anastasya mantan kekasih bayarannya.
[Ku mohon, aku ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin berbicara serius denganmu.]
Aku tidak punya waktu untuk menanggapimu.
[Please hanya sekali ini.]
Tidak ada yang perlu kita bicarakan.
Setelah selesai mengirimkan pesan terakhir. Dari luar mansion terdengar suara keributan hingga membuat Zafrina langsung terbangun.
"Ada apa, King?"
"Aku juga tidak tahu. Aku akan melihatnya, sebaiknya kamu kembalilah tidur." Setelah berkata demikian Zico mengecup kening Zafrina. Ia pun segera ke balkon dan melihat di luar. Siapa yang telah membuat keributan di kediamannya.
Di depan pintu mansion, Anastasya berdiri sambil berteriak memanggil nama Zico. Dia yakin Zico ada di dalam rumah karena mobil yang sering Zico pakai terparkir di pelataran.
"Zico, keluarlah. Kita perlu berbicara."
Zico segera turun. Jangan sampai kehadiran Anastasya membuat mood Zafrina hancur. Pria itu tak peduli apa-apa lagi, ia membuka pintu dengan tatapan mata yang dingin.
"Mau apa kamu?"
__ADS_1
"Zic, kita perlu bicara. Aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku, Zico. Aku tidak apa-apa jika harus berbagi cinta dengan sahabatmu. Asal kamu tidak meninggalkan aku," pinta Anastasya dengan berurai air mata.
Zico tertawa sumbang mendengar ucapan Anastasya. Dia merasa gadis itu terlalu putus asa sehingga memilih cara murahan seperti ini.
"Kau pikir aku mau berbagi? aku tidak akan membagi cintaku karena aku tidak pernah mencintaimu. Dan kau tahu betul aturan yang sudah aku tetapkan. Kau menerima bayaranmu dan jangan sekali-sekali mengusikku."
"Aku bisa kembalikan uangmu, tapi kembalilah padaku, Zi."
Di saat Zico dan Anastasya sedang bersitegang. Zafrina turun dan melihat semuanya. Zafrina berdiri di balik Zico dan lalu bertepuk tangan sambil berjalan dengan angkuh. Dia tersenyum miring melihat suaminya dan mantan bayarannya itu.
"Queen.. ini tidak seperti yang kamu pikirkan?"
"Memang tahu apa kamu dengan pikiranku?" tanya Zafrina dengan nada datar. Zico menelan salivanya kasar. Tatapan Zafrina begitu menusuk meskipun matanya sembab.
"Apa kamu tidak punya harga diri? memohon seperti itu pada suami orang."
Langkah Zafrina seketika terhenti manakala mendengar ucapan Anastasya. Zafrina pun menoleh menatap Zico.
"Selesaikan urusanmu dengan pela*curmu itu. Jangan sampai aku sendiri yang bertindak dan menghancurkan kalian berdua," Desis Zafrina.
Zafrina kembali menoleh pada Anastasya. Dia menatap gadis itu dari atas hingga bawah.
"Sebaiknya apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran. Karena kalau aku tahu kamu berbohong. Suatu hari saat kita bertemu lagi itu akan menjadi hari terakhirmu menatap dunia ini." Setelah berkata demikian Zafrina berbalik masuk ke mansion menuju kamarnya. Paula dan Miranda bergidik ngeri melihat tatapan dari istri Zico itu.
Zafrina membanting pintu kamar dan menguncinya. Ia terduduk di tepi ranjang dan mendesah berat.
Semua salah Zico, namun dia juga tak bisa serta merta membenci suaminya hanya karena masa lalunya.
__ADS_1
Zafrina lantas bangkit dan berganti pakaian dia butuh waktu untuk sendiri. Saat berganti baju, Zafrina memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Kamu harus kuat Ina, jangan lemah. Kamu harus kuat." Zafrina terus bergumam dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.
Selesai berganti baju, Zafrina mengambil tas dan ponselnya. Dia lalu berjalan turun namun memutar langsung menuju garasi. Miranda dan Paula sigap mengikuti. Zafrina mengambil kunci motor sport yang terparkir.
"Nona, anda mau kemana? bahaya jika anda pergi dengan kondisi seperti ini."
"Aku tahu kondisiku. Jangan mendikte-ku."
Zafrina mulai menyalakan motor. Deru suara knalpot mengagetkan Zico. Namun belum sempat Zico menyusul Zafrina sudah melesak dengan kecepatan tinggi. Diikuti oleh Paula dan Miranda.
"Kalian cepat ikuti istriku," Teriak Zico cemas. Calvin, Rey dan Emir segera masuk ke dalam mobil.
"Bawa dia ke ruang introgasi." Perintah Zico. Anastasya bingung. Dia meronta saat kedua pengawal di mansion Zico mulai memegangi tangannya.
"Lepaskan aku... Zi kamu tidak bisa berbuat begini. Aku sedang mengandung anakmu."
Zico sama sekali tidak peduli, saat ini yang dia pikirkan adalah keselamatan istri tercintanya. Tatapannya begitu dingin menusuk.
Anastasya terus berteriak meminta untuk di lepaskan. Dia terus meronta-ronta namun salah satu pengawal akhirnya memukul tengkuk Anastasya hingga gadis itu pingsan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sambil nunggu mampir ke karya temanku ya guys. Jangan lupa untuk di favoritkan.
__ADS_1