
******* Bukan Zona Bocil ******
Rian menunggu Morgan sadarkan diri. Ada hal yang harus dia luruskan sebelum Morgan mati. Saat Morgan membuka matanya, Rian tersenyum tipis.
"Akhirnya bangun juga."
"Apa maumu? cepat katakan?"
"Kau putra jeremy kan?"
Morgan terbahak mendengar pertanyaan Rian, namun Rian masih tetap tenang dan tidak menampakkan gurat kemarahan.
"Jika iya memangnya kenapa? apa kau ingin membunuhku juga? apa tidak cukup, kau menghabisi nyawa ayahku?"
Rian menatap iba pada Morgan, kepalanya menggeleng mendengar tuduhan yang dilayangkan untuknya.
"Dongeng dari mana yang kamu dapat? sehingga kamu punya asumsi seperti itu?"
"Jangan mengelak, aku sudah menyelidiki semua."
"Kamu memang anak pintar tapi kamu kurang cerdas," sarkas Rian. Raiden memilih duduk dan menunggu giliran. Ia hanya diam sambil bermain game di ponselnya namun telinganya begitu tajam untuk mendengar pembicaraan antara papinya dan tawanannya.
"Apa yang kamu selidiki? bahkan seekor semut tidak akan aku biarkan keluar dari markasku jika sudah masuk ke dalam sana apalagi informasi."
"Uncle David memberitahuku dan ibuku."
"David.... " Rian menggeram, tangannya mengepal kuat.
"Kau pasti mengenalnya kan? siapa yang akan menyangka di detik terakhirnya kami justru menemukannya dan menyelamatkan dia dari jurang kematian."
"Katakan dimana dia?" seru Rian. Awalnya dia bisa tenang menghadapi Morgan, tapi saat mendengar nama David membuat darahnya langsung mendidih.
Morgan kembali terbahak, namun tak lama kepalan tangan Rian melayang memukul rahang Morgan.
Melihat papinya yang berubah emosi, Raiden pun akhirnya mendekat.
"Ada apa, pi?"
"Katakan dimana David?"
"Cuih... aku tidak akan mengatakannya padamu sekalipun aku akan berakhir di tangan kalian."
__ADS_1
"Biarkan aku yang mengintrogasinya, papi tunggu saja. Kasihan mami menunggu papi."
"Tunggu saja, uncle David pasti akan membalaskan dendamnya pada kalian semua," teriak Morgan. Seketika tendangan kaki Raiden mendarat tepat di mulut pria itu.
"Tutup mulutmu... " desis Raiden.
Rian kembali membalikkan badannya dan menatap Morgan tajam. "Asal kamu tahu, Jeremy mati karena bunuh diri, bukan karena aku membunuhnya. Aku sangat kasihan kepadamu dan ibumu."
"Omong kosong," pekik Morgan marah.
"Terserah mau percaya atau tidak, tapi kenyataannya memang seperti itu." Rian langsung berbalik setelah mengatakan semua itu.
Raiden tersenyum samar saat melihat raut wajah Morgan yang berubah gusar. Dia pun kembali duduk dan menatap Morgan tajam.
"Pantas saja kelompokmu begitu lemah, ketuanya saja mudah di perdaya oleh orang lain."
Morgan tidak lagi menyahuti ucapan Raiden. Mulutnya terasa sakit dan berdarah karena tendangan Raiden yang begitu keras.
..........
Di Apartemen Gerry.
"Mas... "
"Sebaiknya kepulangan kita ke Indonesia dipercepat saja."
"Memang kenapa?"
"Sejak di sini, aku sering merasa tidak tenang. Perasaanku rasanya aneh."
'Karena ikatan batinmu terlalu kuat sayang.' batin Gerry.
"Mungkin kamu kurang istirahat."
"Tidak. Aku benar-benar merasa selalu khawatir pada putri kita. Seolah akan terjadi hal buruk yang akan menimpa mereka."
"Sshh.. buang jauh-jauh pikiran buruk itu."
"Percayalah, putri-putri kita akan baik-baik saja."
Dian kembali menyandarkan kepalanya di dada Gerry. Debaran jantung mereka bak simfoni yang mengalun menyiringi senyap nya malam.
__ADS_1
Sementara itu Zafa masih sibuk mengotak atik laptopnya dan mulai mengacaukan beberapa rekaman CCTV. Dia di bantu oleh Marvel sedang berusaha menghilangkan bukti tentang penyergapan di kapal Black Shadow.
"Ku rasa masalah ini tidak semudah yang kita bayangkan," kata Marvel.
"Apa kamu punya pikiran yang sama denganku?"
"Sepertinya begitu," jawab Marvel singkat.
"Ada dalang di balik semua ini?" tanya Zafa dan di jawab dengan anggukan oleh Marvel.
"Sebelum kita mengetahui siapa dalangnya, lebih baik kita tetap waspada. Khawatir akan ada masalah lagi," lanjut Zafa.
"Anda benar. Tapi sebaiknya anda beristirahat dulu. Sejak kemarin anda kurang beristirahat. Jangan sampai anda sakit. Nyonya pasti akan sangat cemas."
"Kita hanya berdua, jangan terlalu formal padaku. Aku akan istirahat setelah ini."
"Baiklah, aku akan menemanimu." Zafa dan Marvel kembali fokus pada layar laptop masing-masing. Ini lah nasib dua jomblo yang sedang menanti jodoh.
Di mansion Zico, kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu kini sedang memadu kasih. Keduanya kini sama-sama sedang meneguk nikmatnya berumah tangga.
"Ahh.. pelan, King."
"Tenang saja, Queen. Sakitnya hanya sementara." Zico terus memacu tubuh Zafrina. Peluh keduanya menetes dan membuat kulit mereka tampak berkilau. Apalagi kegiatan panas itu dilakukan tanpa mematikan lampu Jadilah tubuh polos mereka terpampang nyata.
Zafrina mulai bisa merasakan kenikmatan saat ber*cinta dengan Zico. Tubuhnya reflek mengikuti gerakan Zico. Hal itu semakin memacu semangat Zico untuk terus bergerak.
Zafrina melenguh panjang saat mencapai puncaknya. Zico mengerang hebat di atas dada Zafrina.
Zafrina mengulas senyum dan mengusap wajah Zico yang basah karena berkeringat. Zico masih tidak berniat melepaskan senjata andalannya. Lidahnya mulai menariยฒ bergerak menyapu ujung puncak dada Zafrina.
"Ssshh... King," rintih Zafrina, saat ia merasakan gelenyar aneh yang merambat ke pangkal pahanya, padahal yang sedang di jamah Zico adalah dadanya.
"Aku menginginkan kamu lagi."
Zafrina dapat merasakan pergerakan senjata Zico yang kembali mengembang di inti tubuhnya hingga membuatnya serasa sesak.
"King... "
"One more again, Ok?"
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Hy guys mampir yuk ke karya bestie author yang lainnya yuk. judulnya Gadis Pemimpi karya dari kak Bhebz