
******
Zafrina dan Zico memutuskan untuk pulang. Keduanya kini sedang berada di kamar. Toh urusannya dengan Morgan telah selesai. Kini saatnya mereka memulai babak baru kehidupan pernikahannya.
Zico dan Zafrina sedang berdiri di dekat ranjang. Zafrina berbalik menghadap suaminya.
"King, aku ingin mengunjungi mama besok."
"Aku akan mengantarmu."
"Apa kamu tidak ada pekerjaan?" tanya Zafrina ragu. Dia tidak mau Zico terlalu mementingkan dirinya sementara suaminya itu memiliki kesibukan yang padat.
"Kamu lebih penting daripada pekerjaan," ujar Zico menarik pinggang istrinya sambil mengecup kening Zafrina. Hal-hal manis yang selalu Zico lakukan untuk Zafrina benar-benar membuat gadis itu terkesan.
Zafrina menyandarkan kepalanya di dada bidang Zico dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zico.
"I love you, King," bisik Zafrina.
"I love you more."
Kedua insan itu menikmati keintiman yang terjalin. Dalam hati Zafrina berharap hubungan mereka akan abadi dan tak akan ada lagi seorang pun yang menganggu hubungan mereka.
"Semoga hubungan kita tetap terjaga seperti ini, sampai kita menua, menghabiskan masa senja bersama," lirih Zico.
"Aku juga berharap hal yang sama." Zico mengangkat dagu Zafrina seraya mendorong tubuh Zafrina ke ranjang. Keduanya saling memagut dan melu*mat melanjutkan hasrat yang sempat terputus di markas King Devil.
Zafrina memejamkan matanya dan bersandar di dada Zico yang polos, tubuhnya terasa lelah setelah menyelesaikan satu ronde pergulatan dengan Zico.
Berulang kali Zico mengecup puncak kepala Zafrina sambil mengusap perut Zafrina. Dia harap pernikahannya akan segera menghadirkan keturunan.
__ADS_1
...****...
Di lain tempat, seorang pria berdiri di sebuah balkon. Dia menerima kabar dari anak buahnya mengenai kapal Black Shadow yang meledak di lautan, dan dugaan para polisi Morgan turut serta dalam tragedi itu. Senyum tipis tercetak di bibirnya. Dia menyesap cerutu yang ada di tangannya.
"Terus selidiki dan cari keberadaan Morgan. Hidup atau mati," perintahnya.
"Rian... apa kau mengingatku?" desis pria itu. Tatapan matanya begitu tajam menatap foto yang ada di tangan kirinya.
Sementara itu Rian dan Leo sedang mengadakan pertemuan. Rian ingin membahas perihal Jeremy dan juga David karena hanya Leo yang tahu perihal kedua orang itu selain mertuanya. Tapi Rian tidak mungkin melibatkan Daniel karena pria itu terlalu tua untuk diajak beraksi.
"Kenapa kamu terlihat gelisah?"
"David masih hidup," desah Rian.
"Bukankah 5% kemungkinan itu sudah pernah kamu katakan. Kenapa sekarang kamu seakan tidak siap menghadapinya?" tanya Leo. Rian menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Kamu benar, tapi ini sudah hampir 15 tahun. Aku tidak tahu kekuatan yang dia miliki sekarang, meskipun aku yakin jika dia ada di bawah naungan Black Shadow. Tapi semua bisa saja terjadi."
"Aku akan memulangkan Veli ke Indonesia."
"Lalu bagaimana dengan King Devils dan White tiger?" tanya Leo lagi
"Aku yakin putraku bisa memimpinnya."
"Baiklah, aku percayakan semua padamu. Aturlah semuanya. Aku percaya Raiden mampu memegang organisasi kita."
"Dia lebih dari mampu. Melihat Raiden sekarang, seperti bercermin pada masa mudaku," ujar Rian. Leo hanya mampu mencibik mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Aku harap kedua anak kita segera memberi kita momongan. Karena aku pikir akan lebih menyenangkan menghabiskan masa tua kita dengan cucu-cucu kita."
__ADS_1
"Ha.. ha.. ha, Imajinasimu terlalu terburu-buru. Mereka bahkan baru saja menikah."
"Justru itu, aku harap mereka tidak menundanya untuk memiliki anak."
"Sebaiknya kamu menikah lagi dan memiliki bayi sendiri," Sindir Rian. Leo pun hanya bisa berdecak kesal mendapat sindiran dari sahabatnya itu.
...****...
Berita mengenai black shadow sudah menyebar luas. Zafa dan Marvel tersenyum puas dengan hasil kerja mereka kemarin malam. Zafa akhirnya bernafas lega, satu masalah telah selesai ia berharap tidak ada lagi masalah yang akan mengganggu kehidupan adik-adiknya.
Zafa kini sedang bersiap untuk datang ke kampusnya. Bukan untuk menuntut ilmu lagi melainkan menyelesaikan tugas sebagai asisten Mr Smith.
Zafa memakai baju hangat hingga menutup leher dan celana jeans. Musim gugur hampir usai, itu tandanya sebentar lagi memasuki musim dingin dan suhu udara mulai dingin.
"Sayang, kamu mau kemana?"
"Aku harus mendampingi profesor Smith, Mah."
"Cuaca di luar dingin. Jangan lupa memakai jaket dan syal agar kamu tetap hangat."
"Iya, Mama sayang." Zafa mengambil mantel tebalnya dan mengambil syal mengecup pipi Dian dengan gemas. Mamanya selalu saja memperlakukan dia seperti anak kecil.
"Aku berangkat dulu, Mah."
"Hati-hati, sayang." Dian tersenyum sambil melambaikan tangan pada putranya.
Zafa masuk ke dalam mobilnya, dan mulai melaju menuju kampus tempatnya dulu menimba ilmu. Namun di tengah perjalanan tiba-tiba seorang gadis menghentikan mobilnya. Beruntung Zafa tidak dalam kecepatan tinggi.
"Tolong aku... " ujar gadis itu dengan wajah yang pucat dan berantakan. Sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah, pakaian yang di kenakan gadis itu pun sobek di beberapa bagian. Zafa merasa iba tanpa sadar menekan tombol unlock. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil Zafa.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sini. Mereka masih mengejarku," ujar gadis itu dengan wajah cemas.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹