
****
Setibanya di rumah sakit, Zico menggandeng tangan Zafrina. Ia meminta Zafrina menunggunya sejenak, karena Zico ingin mengkonfirmasi pergantian dokter yang akan dia kunjungi. Beruntungnya dokter yang Zico inginkan ada dan sedang praktek. Zico meminta didaftarkan ke poli yang ia maksudkan tanpa memberitahu Zafrina. Meskipun ini adalah rumah sakit milik orang tua Zafrina tapi dia tidak mau memanfaatkan privilege itu.
Setelah selesai dengan semuanya, Zico kembali mengajak Zafrina menjajaki lorong di lantai satu. Alis Zafrina mengkerut saat Zico melewati ruangan yang seharusnya. Suami Zafrina bahkan terlihat sangat tak acuh. Zafrina semakin bingung saat Zico mendudukkan dirinya di deretan ibu-ibu hamil.
"King, apa kamu tidak salah membawaku periksa di sini?" tanya Zafrina penasaran.
"Apanya yang salah, Queen? aku hanya ingin mengetahui masa suburmu dan lain-lainnya. Aku ingin anak, Queen," jawab Zico mencoba memberi alasan yang masuk akal. Dia tak ingin memberitahu dugaannya karena jika sampai dugaannya keliru, cukup hanya dirinya saja yang akan menelan kekecewaan.
"Aku juga menginginkannya, King. Semoga saja kita bisa mendapatkan penggantinya segera."
Zico tersenyum mendengar jawaban istrinya. Dia membelai puncak kepala Zafrina dengan lembut. Saat keduanya sedang saling menatap penuh rasa cinta seseorang mengusik keromantisan itu.
"Ehm... "
Zafrina menoleh dan tersenyum lebar. Dia bangkit dan langsung memeluk tubuh pria si pengganggu.
"Uncle .... "
"Halo, Sayang. Lama tidak bertemu, kamu semakin cantik."
"Uncle juga semakin tua terlihat semakin tampan."
"Kamu kenapa kemari?" tanya pria itu. Zafrina langsung tersadar dan menarik Zico.
"Ini suamiku, Uncle. Namanya Zico." Zafrina menarik tangan suaminya dan mengulurkannya ke arah pria tersebut.
__ADS_1
"Zico, ini adala uncle Arya. Uncle Arya ini yang sering disebut oleh oma kemarin. Dia juga menjabat sebagai direktur di rumah sakit ini."
Arya terperanjat kaget. "Suami? kenapa kalian tega tidak mengundangku?" ujar Arya dengan memasang raut wajah cemberut.
"Kami belum mengadakan resepsi, Uncle. Kalau kami nanti mengadakan resepsi aku pasti akan mengundangmu," kata Zafrina bergelayut manja di lengan suaminya.
"Baiklah, Uncle tunggu undangan kalian," jawab Dokter Arya sambil mengacak rambut Zafrina.
"Kalian mau periksa? Biar uncle bilang dulu pada dokter Rita."
"Eh, tidak perlu, Uncle, Kami akan mengantri sesuai urutan."
"Kamu anak pemilik rumah sakit ini, bagaimana bisa kamu mengantri. Yang ada papamu bakalan menutup rumah sakit ini."
"Uncle Arya tenang saja, papa engga tahu aku ke rumah sakit."
"Jadi?"
"Aku juga tidak tahu, Uncle. Kami baru mau periksa. Soalnya kemarin aku sempat mengalami keguguran. Aku berharapnya juga bisa segera hamil lagi."
"Pasti bisa. Uncle yakin, kalian masih sangat muda. Stamina kalian masih bisa dipakai untuk menghancurkan sebuah ranjang besar," ujar Arya berkelakar. Namun, detik berikutnya lengannya langsung ditepuk dengan keras oleh Zafrina.
"Sudah, uncle pergi saja. Ngomongnya semakin engga jelas."
Arya menepuk lengan Zico sesaat lalu pergi meninggalkan pasangan muda itu, Zico dan Zafrina saling pandang, keduanya lalu tertawa mengingat ucapan Arya barusan.
"Rasanya aku sekarang malah ingin pulang untuk menghancurkan ranjang kita," ujar Zico menggoda Zafrina.
__ADS_1
"Ish, apa sih. Omongan uncle Arya engga usah di dengar," gerutu Zafrina. Keduanya kembali duduk. Namun, sebentar kemudian Zafrina dipanggil. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Ia harap nanti dia bisa mendapat kabar yang baik-baik saja. Dia hanya ingin segera bisa menimang anak.
Setelah diukur tekanan darah dan juga berat badan Zafrina. Sepasang suami istri itu dipersilahkan masuk. Dokter Rita, menyambut Zico dan Zafrina dengan senyum indah.
"Halo, saya dokter Rita. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Ehm, begini dokter, saya ingin mengecek apakah istri saya hamil atau tidak."
"Apa sudah terlambat menstruasi?" tanya dokter Rita. Zafrina tampak berpikir, ia sendiri tak menyadari apakah sudah terlambat datang bulan atau belum. Ia lupa karena terlalu sibuk mengurus butik omanya.
Melihat wajah kebingungan Zafrina, Dokter Rita tersenyum. Ia tahu, gadis di depannya ini adalah anak pemilik rumah sakit, tapi Zafrina masih bertindak sopan dengan mau mengantri dan tidak memanfaatkan kekuasaan yang orangtuanya punya.
"Baiklah, silahkan berbaring dulu. Saya juga berharap semoga ada kabar baik untuk kalian dan keluarga," kata dokter Rita. Seorang perawat membantu Zafrina naik ke ranjang dan menutup bagian kaki hingga panggulnya. Perawat itu mengangkat atasan yang di kenakan Zafrina dan mengoleskan gel di atas perutnya.
Dokter Rita mulai menggerakkan probe dan lalu senyumnya mengembang sempurna. "Nah, ini dia!" seru dokter Rita dengan nada riang. Zico memajukan wajahnya menatap ke layar, tapi hanya ada gambar hitam di sana. Dokter Rita menjelaskan dengan sangat mendetail dari usia kandungan kira-kira dan juga sebesar apa calon bayi mereka. Zafrina dan Zico saling menatap dengan penuh keharuan.
"Dok, tapi ini kehamilan kedua istri saya. Kemarin, kira-kira hampir 3 bulan yang lalu istriku mengalami keguguran."
"Iya, tidak apa-apa. kondisi janinnya bagus, hanya untuk mamanya saya sarankan untuk mengurangi aktifitasnya terlebih dulu sampai memasuki trimester kedua dan juga hindari stress, ya. Sering bercerita, berbagi masalah dengan suami itu juga sangat penting untuk ibu hamil. Jangan apa-apa karena alasan tidak mau merepotkan suami, masalahnya ditanggung sendiri. Akhirnya justru malah mengorbankan kesehatan."
"Dengar, kan?" Zico seolah mengingatkan tingkah Zafrina beberapa bulan yang lalu dan sekarang pun juga seperti itu.
"Iya."
Dokter Rita tersenyum, ia menyudahi memeriksa kehamilan Zafrina yang telah memasuki minggu ke 8. Dokter Rita menyarankan banyak hal untuk Zafrina dan Zico dengan antusias mendengarkan setiap penuturan dokter Rita. Ia sangat bahagia, sekarang. Bibit unggulannya ternyata tak perlu diragukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1