Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 38. Taruhan


__ADS_3

******


"Queen, kenapa kamu seperti sedang memakiku? dan kenapa tatapan matamu begitu?" protes Zico.


"Bukannya tadi kamu yang meminta untuk mewakili?" jawab Zafrina tak ingin disalahkan


"Tapi ekspresimu seperti sedang memakiku."


"Kamu bilang sendiri, King. Kamu ingin mewakiliku. Dan apa yang tadi aku ucapkan adalah ungkapan emosiku pada pria itu. Bagaimanapun adik Dominic juga dekat denganku. Aku bisa merasakan kesedihan Dominic. Karena aku juga punya adik perempuan."


Zico mendesah panjang. Percuma juga protes karena Dia sendiri yang bersedia mewakili istrinya.


"Baiklah, apa ada kata-kata lain?"


"Tidak, tapi tolong nanti pukul wajahnya untukku. Menyesal aku telah menyelamatkan seorang bad*jingan seperti dia."


Zico akhirnya berjalan masuk ke dalam ruang penyiksaan, Dirinya menatap Morgan tajam. Tanpa aba-aba Zico langsung menendang wajah Morgan. Kemarahan yang sejak kemarin di tahannya akhirnya pecah juga.


Zico marah karena persahabatannya dan Dominic harus ternoda karena ulah Morgan. Dia terus menghajar Morgan yang sebelumnya sudah babak belur karena dihajar oleh Raiden.


"Dasar pengecut, sampah. Kau ba*jingan yang paling menjijikkan di dunia ini," ujar Zico meniru ucapan Zafrina.


Morgan sudah tidak berdaya lagi. Wajahnya sudah benar-benar tak berbentuk, Raiden berulang kali melukai wajahnya dengan memakai pisau kecil.


"Bunuh aku, sekarang!"


"Dalam mimpi... " desis Zico. Dia melirik adik iparnya sesaat lalu melempar senyum kemenangan dan lalu Zico beranjak dari hadapan Morgan.


"Kenapa tidak kau bunuh saja aku? Jangan sampai kau menyesal. Jika aku bisa keluar dari sini hal pertama yang akan ku lakukan adalah menikmati tubuh istrimu," ujar Morgan memprovokasi Zico. Namun belum sempat Zico melayangkan pukulannya, Raiden lebih dulu menghadiahi tendangan di wajah Morgan.


"Jaga mulutmu! dasar sampah tidak berguna," desis Raiden. Sebagai adik tentunya dia tidak terima jika ada yang mengusik kakak perempuan satu-satunya.


Zico memicingkan mata saat memandang Morgan, Pria itu menunduk lemah sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.


"Kenapa tidak segera dihabisi?"


"Aku sedang mengorek info keberadaan orang yang sempat menyakiti ibuku. Karena mereka kenal satu sama lain," jawab Raiden.


"Semoga saja kita lekas mengetahui keberadaannya sebelum aku dan Inna ke Indonesia."

__ADS_1


"Aku rasa sulit, karena sampai mati pun ia bersumpah tidak akan mengatakannya. Aku hanya ingin membuatnya putus asa hingga akhirnya berkata sendiri. Lagipula papi sudah mengutus anak buahnya untuk mencari jejaknya di negara ini," ucap Raiden dengan wajah yang datar.


Zico keluar dari ruangan itu. Zafrina tidak ada di tempatnya tadi. Zico bergegas keluar untuk mencari keberadaan istrinya.


"Apa kalian melihat nona muda?" tanya Zico pada beberapa anak buah mertuanya.


"Nona ada di ruang tembak di atas," Jawab salah satu orang mafioso.


Zico segera naik ke lantai dua. Langkahnya begitu tergesa-gesa. Entah mengapa rasanya ia sangat merindukan sahabat sekaligus istrinya itu.


Zafrina dan beberapa orang pengawalnya tampak jenuh menunggu Zico. Zafrina membuang nafasnya panjang lalu berdiri dari posisi duduknya.


"Aku mau olahraga, sepertinya jari-jari tanganku terasa kaku."


"Anda ingin olahraga apa, Nona? biar kami yang siapkan."


"Kita ke atas saja. Aku ingin mengasah lagi kemampuan menembakku," ujar Zafrina sambil berlalu meninggalkan para pengawalnya. Mau tak mau akhirnya para pengawal itu menyusul nona muda mereka.


Zafrina kini telah berada di ruangan yang di sediakan khusus untuk latihan menembak. Ruangan Semi outdoor dengan beberapa papan target kini ada di hadapan Zafrina. Gadis itu memakai sarung tangannya dan mulai mengambil salah satu senjata api.


Zafrina mengarahkan pistol yang di pegangnya ke arah papan target. Awalnya dia membidik dengan menutup salah satu matanya. Namun saat melesakkan tembakan Zafrina membuka kedua matanya. Tiga tembakan beruntun tepat mengenai titik sasaran. Para pengawal yang sejak tadi mengikuti Zafrina dibuat takjub oleh kepiawaian gadis itu.


"Aku masih pemula. Papi bahkan Raiden lebih jago dariku." Di saat Zafrina sedang mengobrol dengan pengawalnya, Zico masuk ke ruangan itu.


"Mau taruhan denganku, Queen?"


"Taruhan apa, King?"


"Kita taruhan menembak."


"Apa untungnya untukku jika menang?" tanya Zafrina mulai tertarik.


"Jika kamu menang aku akan turuti 3 permintaanmu. Tapi jika kamu kalah aku hanya akan meminta 1 permintaan."


Zafrina terdiam sesaat lalu tersenyum seraya mengangguk. Bukan perkara 3 permintaan yang akan dia dapat tapi justru ia lebih tertarik dengan 1 permintaan Zico. Maka Zafrina memutuskan untuk tidak terlalu bersungguh-sungguh melawan Zico nantinya.


Bagi Zafrina lebih menarik mendengar permintaan suaminya ketimbang 3 permintaannya yang akan dikabulkan. Karena tanpa bertaruh pun, ia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.


"Zico mulai mengambil senjata dan memasang sarung tangan. Kaca mata pelindung pun telah terpasang, Zico melempar senyum pada Zafrina sebelum memulai aksinya.

__ADS_1


Target sudah dipasang oleh anak buah Rian. 5 balon menempel di papan sasaran tembak. Zico sudah berada di posisinya, sementara Zafrina masih duduk dengan santai.


"Apa aturannya?" tanya Zafrina.


"Tembak 5 balon itu dalam waktu 10 detik," Kata Zico sambil tersenyum. Zafrina mengangguk pun membalas senyuman suaminya.


Zico mendapat giliran lebih dulu. Semua mata menatap Zico. Pria itu membawa 2 pistol sekaligus dan mulai membidik sasarannya.


Bunyi letupan senjata Zico mengiringi pecahnya kelima balon yang terpasang di target sasaran. Zafrina bertepuk tangan atas keberhasilan suaminya.


"Wow.. keren, King."


"Aku yakin kamu lebih keren, Queen." Zafrina mengangguk dan tersenyum dia lantas berdiri dan mengambil dua senjatanya. Zafrina sudah bersiap dan mulai menembak. Namun dengan sengaja Zafrina tidak membidik satu balon terakhir.


Semua yang ada di ruangan itu yakin, jika Zafrina memang sengaja melakukannya. Tapi para pengawal tetap bertepuk tangan untuk aksi Zafrina itu.


Zafrina meletakkan senjatanya dan mendekati suaminya. "Katakan, apa permintaanmu?"


Alis Zico berkerut, dia menghela nafas panjang lalu meraih pinggang Zafrina.


"Apa kamu sengaja mengalah?" Zico mengangkat dagu Zafrina dan memberi tatapan memuja. Zafrina hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya. Zico yang merasa gemas akhirnya menarik dagu istrinya dan melabuhkan satu kecupan di bibir gadis itu.


Keduanya justru terlena dan tak peduli lagi dimana mereka berada sekarang. Mereka saling memagut untuk menuntaskan hasrat yang mulai terpancing.


"King... " desah Zafrina.


Keduanya mengurai pagutannya dengan nafas yang saling memburu. Zico mengedarkan tatapannya dan ternyata para pengawalnya sudah tahu apa yang harus mereka lakukan yakni membelakangi kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.


"Katakan, apa yang kamu inginkan, King?"


"Tetaplah berada di sisiku selamanya. Jangan pernah tinggalkan aku."


Zafrina tersenyum namun sudut matanya basah mendengar permintaan tulus suaminya itu. "Tentu saja, King. Tanpa kamu minta pun aku tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali memang takdir yang memisahkan kita."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Notes : Mohon maaf untuk berhari-hari tidak up oleh karena kesibukan author dan kesehatan yang akhir-akhir ini sedikit kurang bagus.


Happy ied mubarok, mohon maaf kalau selama jadi penulis author masih banyak kekurangan 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2