Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 94. Pembicaraan Antar Kubu


__ADS_3

**** Ada sedikit panas ya, harap bijak dalam berkomentar ****


Keluarga besar dari beberapa generasi telah berkumpul semuanya. Selain bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan, acara itu juga ditujukan untuk mengumumkan pernikahan Zafrina serta juga membahas tentang acara resepsi yang akan digelar 1 minggu lagi. Semua tetua yang hadir saat itu di tunjuk untuk menjadi bagian dari penerima tamu dari pihak keluarga perempuan. Tidak ada penolakan satupun dari mereka. Bahkan mereka sangat antusias karena ini pertama kalinya Gerry mengadakan acara besar. Dulu saat pernikahan Zayn dan Judy tidak semua bisa hadir karena status Judy dan acara digelar di negara T.


"Kenapa baru diadakan sekarang acaranya?" tanya Selin.


"Ini salah satu permintaan tuan putri," kata Dian membelai rambut Zafrina. Zafrina hanya meringis ke arah Selin. Memang ini adalah keinginan dia. Ia ingin memakai gaun pesta saat perutnya besar. Agar kelak saat anaknya bertanya tentang sosoknya di foto pesta pernikahannya, Zafrina bisa menunjukkan jika anaknya masih ada dalam kandungan.


"Apa alasannya, Sayang?" tanya Velia.


"Aku pernah melihat dan juga mendengar beberapa cerita dari teman-temanku yang sudah memiliki anak. Katanya anak mereka sering menangis saat melihat foto pernikahan mereka. Dimana anaknya tidak terlibat di dalamnya. Nah, aku mau resepsinya diadakan saat perut besar, karena aku ingin menjelaskan pada anakku nanti jika saat itu dia masih ada di perut," ujar Zafrina. Sontak saja para wanita yang sedang berkumpul itu tertawa mendengar alasan Zafrina. Ada-ada saja pemikirannya. Zayana yang mendengar alasan kakaknya hanya mencibir.


"Hati-hati, jangan sampai fotonya malah jadi bumerang. Anak jaman now itu pikirannya kritis-kritis. Jangan sampai salah-salah nanti dikira kakak hamil duluan sama anaknya," kelakar Zayana. Semuanya kembali tergelak dan kali ini suara tawa para wanita-wanita itu mengusik ketenangan para kaum pria.


"Aku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya lebih seru di sana, dari pada di sini," ujar Didi. Ayah dari tiga orang anak itu terus menatap ke arah istrinya yang tak pernah berhenti tertawa.


"Rian, Gerry dan yang lainnya ikut melempar tatapan ke arah para perempuan itu. Mereka ikut menyunggingkan senyum tipis melihat keharmonisan para wanitanya.


"Kenapa Aldo tidak bisa datang?" tanya Arya penasaran.


"Entah, aku juga tidak tahu, tapi yang ku dengar kondisi Veni sekarang sedang tidak baik," jawab Gerry.


"Semoga saja, kita bisa menua bersama-sama. Yang terpenting anak cucu kita akur dan melanjutkan jalan kita. Sepertinya aku dan Rian juga akan berbesan. Putranya terus menerus mengejar putriku tanpa kenal lelah," sambung Gerry setengah berkelakar.


Rian hanya menanggapinya dengan senyum tipis sedangkan Arya, Didi serta Arsen melongo kaget. Bagaimana bisa? dulu Dian dan Rian adalah suami istri dan sekarang mereka akan berbesanan? ini benar-benar luar biasa.

__ADS_1


"Serius?" tanya Didi tak percaya.


"Kamu tanyakan saja pada papinya." Gerry hanya memberi isyarat lewat mata agar Didi menoleh ke arah Rian.


"Dia memiliki darahku yang sangat kental, sudah bisa dipastikan putrinya tidak akan pernah dikecewakan," kata Rian.


"Hei, aku masih ingat dengan masa mudamu, jangan kamu pikir aku lupa," kata Gerry tak terima. Ketiga bersaudara dan juga Nino hanya menghela nafas panjang saat dua orang pria itu mulai berdebat lagi.


"Hah, mulai lagi," celetuk Nino.


Zico, Zayn, Dino saling melempar tatapan bingung. Meskipun dia bisa menangkap arah pembicaraan kedua mertuanya, tapi dia tak tahu jika papa dan papi Zafrina itu sering berdebat.


"Kalian jangan kaget dengan kedua orang tua ini. Kalau dirumah mereka sering diam seribu bahasa karena ada ratunya, tapi begitu hanya ada mereka, keduanya akan berdebat saling adu kekuatan," kata Didi.


...***...


Zafrina membaca sebuah aplikasi bacaan online dari ponselnya. Ia kadang tertawa dan kadang tampak serius, sampai-sampai dia tidak melihat suaminya telah duduk di sampingnya.


"Serius sekali, baca apa?"


"Hanya membaca novel."


"Apa tadi kamu sudah minum susu dan Vitaminmu?"


"Sudah, King, sudah semuanya."

__ADS_1


"Aku sudah tidak sabar menanti kelahirannya," ujar Zico seraya mengusap perut Zafrina. Bayi yang ada di dalam perut Zafrina pun langsung merespon dengan tendangan yang cukup mengagetkan hingga Zafrina sedikit meringis merasakan nyeri.


"Hei, Sayang, jangan kuat-kuat menendangnya, kasihan, Momy." Zico kembali mengusap dengan lembut, seakan tahu apa yang dibicarakan oleh daddynya bayi itu kini memberikan respon yang lembut. Zico dan Zafrina saling beradu pandang dan lalu tersenyum.


"Dia anak yang pengertian, King."


"Kamu benar, My Queen, kelak dia akan sama sepertimu, jadi anak yang pemberani dan memiliki hati yang baik."


"Pujian ini?" Zafrina mengernyit melihat senyum penuh arti dari suaminya. Dia hanya bisa pasrah saat Zico mulai mempereteli gaun tidurnya dan juga CD yang dia kenakan. Sejak kehamilannya semakin besar, Zafrina jarang memakai b*a karena merasa sulit bernafas. Hal itu tentu saja ada manfaat tersendiri bagi Zico.


Zico menekuk kedua kaki Zafrina, Zafrina melenguh saat Zico mulai memasukinya. Pria itu semakin pandai mengatur ritme permainan agar Zafrina bisa lebih dulu mencapai puncaknya. Tak berapa lama Zafrina mengerang, Jemarinya mencengkeram erat di bahu Zico. Melihat hal itu Zico mulai memburu kepuasannya. Dia bergerak dengan tempo yang cepat dan tak lama dia menarik keluar benda keramatnya dan mengeluarkan isinya di atas perut buncit Zafrina. Tubuh Zico ambruk di samping istrinya. Keduanya saling berebut oksigen dengan senyum kepuasan tergambar jelas di wajah Zico.


"King, bersihkan dulu ini." Zafrina memukul bahu suaminya pelan. Zico terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. Dia lantas berdiri mengambil tisu di atas nakas dan mulai membersihkan sisa percintaan mereka. Zico melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Ia terngiang-ngiang dengan penjelasan dokter Rita yang mengatakan jika di dalam cairannya ada prostaglandin atau protein yang dapat menyebabkan kontraksi rahim. Meskipun dokter mengatakan keguguran bisa disebabkan oleh banyak hal, tapi Zico sangat khawatir jika kehamilan Zafrina kali ini bisa saja gagal karena ulahnya.


"Dokter kan sudah bilang, keluar di dalam juga tidak apa-apa," kata Zafrina sambil menatap suaminya yang kini sedang mengelap perutnya dengan tisu basah berulang-ulang.


"Tidak masalah, aku lebih memilih seperti ini ketimbang harus menyakiti bayi kita."


Entah mengapa mendengar ucapan Zico justru malah membuat Zafrina berkaca-kaca. Suaminya begitu takut menyakiti bayinya, sedangkan dirinya? ia justru malah tidak berpikir panjang waktu itu sehingga mengakibatkan dirinya keguguran.


"Maaf, King," lirih Zafrina. Zico seketika menengadah menatap Zafrina. Zico terkejut saat melihat istrinya sudah berlinang air mata.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Zico, pria itu duduk di samping istrinya dan menarik tubuh polos istrinya hingga tubuh Zafrina merapat ke tubuhnya. Zafrina menggelengkan kepalanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak. Rasa bersalah itu sulit sekali hilang dari ingatannya. Zafrina seakan terjerembab dalam kubangan rasa bersalah atas keguguran yang dia alami saat itu.


"Maafkan, aku." Berulang kali Zafrina terus mengucapkan hal itu hingga ia jatuh terlelap. Zico menarik pelan kedua tangan istrinya, dia menatap iba ke arah Zafrina. Dengan lembut, Zico mengusap air mata istrinya, sudut matanya pun ikut basah melihat sisi rapuh Zafrina yang jarang sekali terlihat.

__ADS_1


"Andai saja aku bisa memutar waktu, tidak akan aku biarkan kamu menangis hari ini. Kamu yang selalu mengingatkan aku untuk ikhlas, tapi aku tahu, sudut hatimu masih berat melepas kepergian calon bayi kita," lirih Zico. Dia menarik selimut hingga menutup tubuh polos istrinya dan juga dirinya. Zico akhirnya ikut terlelap dengan tanpa melepas pelukannya pada Zafrina.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2