Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 98. Syukuran


__ADS_3

****


Kebahagiaan terasa begitu kental di kediaman Zico dan Zafrina. Kelahiran Queensa Amanda Zalea membawa suatu perubahan besar dalam hidup mereka berdua.


Hadirnya Amanda di tengah-tengah tiga keluarga itu membawa arti tersendiri bagi masing-masing keluarga besar Rian, Gery dan juga Leo.


Di keluarga Rian, Amanda kelak akan menjadi cucu pertama yang paling disayangi oleh semua anggota keluarga Al-Farez begitu juga di keluarga Leo Abraham. Sedangkan di keluarga besar Gerry, Amanda merupakan cucu pertama dari putri pertamanya.


Queensa Amanda Zalea nama yang diberikan oleh Zafrina untuk putri pertamanya. Tidak ada nama keluarga di belakangnya karena bayi mungil itu sempat menjadi obyek rebutan diantara ketiga keluarganya. Akhirnya diputuskan Zafrina lah yang memberi nama putrinya.


Hari ini usia Amanda genap satu bulan. Amanda hanya di inkubator selama 1 minggu, bayi itu kemudian diijinkan pulang, setelah dinyatakan kondisinya semakin membaik, Amanda boleh dibawa pulang oleh Zafrina dan keluarganya dengan banyaknya catatan dari dokter.


Tidak ada satu pun yang diperbolehkan mendekati bayi menggemaskan itu tanpa ijin dari ibunya. Bahkan, setiap Zico pulang dari kantor pun, Zico diwajibkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum bertemu dengan putrinya.


"Halo my little angel, kamu sudah bangun, ya?" Sapa Zico ketika baru tiba di rumah.


"Mandi dulu sana, jangan dibiasakan deket-deket kalau belum mandi, King."


"Memangnya kenapa? apa salahnya?"


"Jelas salah. Kamu itu dari luar, banyak kuman, virus bahkan asap rokok yang tak sengaja menempel di jasmu. Bagaimana jika itu mengganggu kesehatan putri kita?"


"Ok, ok, Nyonya, saya paham." Zico bergerak mundur dengan kelakuannya yang absurd. Dia memilih mengalah dari pada mendengar celotehan mama muda itu.


Sejak memiliki anak, tingkat kecerewetan Zafrina menajam dan menjadi semakin buas. Terkadang jika terlalu lelah, Zico tidur dengan mendengkur, tapi ketika istrinya mendengar dengkurannya, seketika itu bantal langsung melayang menutupi wajahnya, hingga membuat Zico gelagapan.


Di dalam kamar mandi, Zico masih terus tersenyum melihat perubahan istrinya yang kian hari kian membuatnya gemas.


Zico segera menyelesaikan mandinya agar bisa segera menggendong putri tercintanya. Meskipun terkadang kesibukan di kantornya sudah menyita hampir seluruh tenaganya, tapi ketika berada di rumah, Zico merasa tenaganya yang sempat terkuras kembali penuh terisi.


"King, kamu makan dulu saja, ya. Nanti habis itu baru gendong Amanda."


"Nanti saja, aku mau gendong Amanda dulu."


Zafrina tersenyum menatap suaminya yang sudah tak sabar ingin menggendong putri mereka. Zafrina pun akhirnya menyerahkan Amanda di tangan Zico.

__ADS_1


"Gendongnya sambil duduk aja, aku takut kamu jatuhin Amanda."


"Jangan bicara sembarangan, ya, Nyonya. Aku ini adalah Daddy yang sudah memiliki sertifikasi."


"Huh, lagaknya." Zafrina pun akhirnya memilih untuk pergi dan membiarkan ayah dan anak itu untuk menikmati quality time mereka berdua.


Zafrina masuk ke kamar untuk mandi karena hari sudah hampir malam. Ia yakin, sebentar lagi Amanda akan meminta ASI.


Mungkin memang dasarnya setiap wanita, jika memiliki anak pastilah kelakuannya akan berubah. Biasanya Zafrina butuh waktu paling sedikit 30 menit untuk menyelesaikan mandinya. Namun, sejak adanya Amanda, ia mandi paling lama, ya 10 menit.


Saat turun, Zafrina melihat mamanya ada di sana sedang menggendong putrinya. Zafrina tersenyum senang melihat kedatangan mamanya.


"Mama, kapan sampai?"


"Barusan, Sayang. Mama bawakan kamu masakan mama, supaya ASI-mu lancar."


"Ah, makasih, Mama. Mama memang yang terbaik."


Zafrina memeluk tubuh Dian dari samping. Amanda tertidur lelap di lengan neneknya.


"Jangan usil." Dian menepuk tangan Zafrina pelan. Zafrina terkekeh saat melihat putrinya mengeliat merasa terganggu.


"Bagaimana dengan perutmu, Sayang?"


"Sudah tidak apa-apa, Ma."


"Kapan kamu akan mengadakan acara untuk Amanda? ini dia sudah berusia satu bulan loh."


"Memangnya perlu, ya, Mah?"


"Ya gimana pun juga kita engga bisa meninggalkan tradisi budaya kita, Sayang."


"Ehm, apa gini aja, kita adakan syukuran di panti asuhan milik tante Ara aja gimana, Mah?" tanya Zafrina. Dian mengangguk setuju.


"Boleh, Sayang. Itu ide yang bagus."

__ADS_1


Dian meletakkan cucunya di kursi tidur hadiah dari Velia. Dia lantas mengajak Zafrina ke dapur. Saat berada di dapur, Dian menyentuh bahu Bik Yuyun yang sedang menyiapkan sayuran untuk besok.


"Bik, tolong itu jagain Amanda dulu, biar mamanya makan sebentar."


"Iya, Nyonya."


Dian mulai membuka tiap t*pperw*ar yang dia bawa. Isinya ada sayur daun katuk, bakwan jagung dan salmon grill.


"Kalau mama terus menerus ngasih aku makan yang seperti ini, lama-lama tubuh aku bakalan ngembang, Mah."


"Engga apa-apa malah justru bagus."


"Ih, Mama. Bagus dari mana? nanti kalau Zico jadi engga cinta sama aku lagi gimana?" protes zafrina.


"Aku akan selalu mencintaimu sampai kapan pun. Mau kamu gendut, mau kamu kurus. Mau sekarang atau nanti aku engga akan pernah menghianati cintaku sama kamu." Zico tiba-tiba muncul dan mengusap kepala istrinya.


Dian tersenyum bahagia melihat putrinya begitu sangat dicintai oleh Zico menantunya. Akhirnya mereka bertiga makan malam bersama. Zafrina dengan telatennya melayani Zico mengambilkan makanan.


***


Seminggu kemudian, acara syukuran kelahiran Queensa Amanda Zalea digelar dengan sangat meriah dan khidmat. Zico dan Zafrina sepakat untuk tidak mengundang banyak orang agar para anak yatim yang ada di sana tidak terabaikan.


Keduanya berencana menggelar acara lagi tapi nanti jika Amanda sudah agak besar.


"Sayang, boleh tante gendong Amanda?"


"Tentu saja boleh, Tante." Zafrina menyerahkan putrinya pada Ara. Ara terlihat sangat senang bisa menggendong Amanda, hal itu terlihat sekali dari senyumnya yang tak pernah pudar.


Acara syukuran baby Amanda dihadiri oleh keluarga besar Rian dan juga keluarga besar Gerry, minus Zafia dan juga Raiden.


"Mbak, kenapa yang lainnya engga diundang?" tanya Ara.


"Zafrina maunya begitu, biar anak-anak panti engga merasa dijadikan penonton saja."


"Aku seneng, mbak. Putrimu benar-benar baik sama seperti mamanya."

__ADS_1


"Apa, sih, Ra." Dian tersenyum malu mendapat pujian dari Ara.


__ADS_2