Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 56. Curhatan Alexa


__ADS_3

******


Zafa memasukkan ponselnya di saku celana. Tatapannya menerawang mengingat oma Arini. Jujur Zafa ingin ikut pulang, tapi dia tak bisa meninggalkan Alexa begitu saja.


"Ada apa? apa keluargamu mencarimu?" tanya Alexa menyentuh pundak Zafa. Ia sudah lepas infus. Karena sakitnya memang tidak terlalu serius.


"Baru saja papa menghubungiku. Nenekku di Indonesia sakit."


"Pulanglah... " ujar Alexa sambil tersenyum. Dia tak mungkin menahan Zafa untuk terus berada di sampingnya dan menjaganya.


Zafa menggelengkan kepalanya dan membalas senyum Alexa. Keduanya duduk di sofa sambil menunggu dokter melakukan visit sekali lagi. Setelah itu Alexa diijinkan pulang.


"Sungguh aku tidak ingin menjadi beban bagimu," ujar Alexa menatap manik mata Zafa lekat.


"Kau sama sekali tidak membebaniku. Ini keputusanku."


Alexa lalu terdiam, keduanya saling menatap begitu lekat dan dalam. Zafa merasa tidak asing dengan Alexa. Entah hanya karena mirip atau memang Alexa adalah Lauren.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zafa.


"Tidak... aku bahkan baru kali ini bisa keluar dengan bebas." Alexa menjawab pertanyaan Zafa tanpa memalingkan wajahnya.


"Aku merasa kamu tidak asing," ujar Zafa lagi.


"Mungkin karena kamu sedang mengingat seseorang yang pernah singgah di hatimu," jawab Alexa. Gadis itu bisa melihat dari mata Zafa. Pria itu seakan menyimpan kerinduan yang sangat mendalam padanya.


"Kau bisa tahu?"


"Aku membacanya dari matamu. Apa gadis itu sangat spesial?" tanya Alexa penasaran.

__ADS_1


"Dia sahabatku..."


"Sahabat jadi cinta?" Zafa tersenyum mendengar ucapan Alexa. Ternyata gadis ini lumayan juga.


"Bagaimana rasanya memiliki sahabat?" tanya Alexa lagi, tapi kali ini dengan nada suara lirih. Tatapan matanya kembali kosong.


"Entahlah, dulu aku hanya selalu merasa kesepian karena aku suka menyendiri sedang adik-adikku sibuk dengan temannya. Hingga ada dia yang meenjadi sahabatku dan mengubah hariku menjadi lebih baik dan berwarna.


"Sejak kecil aku tinggal bersama papa. Aku tidak pernah tahu wujud seorang mama seperti apa. Bahkan papa enggan bercerita mengenai mama padaku. Aku tidak memiliki kenangan indah bersama papa. Papa sibuk merintis usaha, dan hanya meninggalkanku di rumah bersama nanny." Alexa menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Aku bahkan tidak mengenyam sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Papa memanggil guru ke rumah, Aku selalu dikurung, dan dilarang keluar rumah tanpa papa. Papa selalu bilang dunia di luar sana sangat kejam. Aku hanya bisa menuruti semua ucapan papa. Suatu hari aku masuk ke kamar papa, tapi aku tidak melihatnya dimana pun. Tapi aku melihat kertas berserakan dengan foto dua orang wanita. salah satunya menggendong anak yang wajahnya mirip denganku.


Aku mengambil salah satu kertas yang tercecer dan membacanya. Dari sana aku baru tahu jika sebenarnya aku memiliki seorang kakak yang sedang kritis. Dia membutuhkanku untuk mendonorkan sumsum tulang belakangku." Zafa tersentuh mendengar cerita Alexa. Tanpa sadar tangannya mengusap bahu gadis itu.


"Apa kamu sudah bertemu dengan kakakmu itu?" Alexa menggeleng, dia kini justru malah menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Zafa langsung mendekat dan memeluk Alexa.


"Nyawanya tidak tertolong. Dia meninggal. Mama selalu menyalahkanku dan papa. Dalam surat yang di kirim mama, mama selalu mengatakan jika saja kami tidak egois nyawa kakakku pasti tertolong. Aku juga ingin menolong kakak, tapi aku bisa apa? saat itu usiaku baru 13 tahun. Papa tidak ingin aku mempertaruhkan nyawaku di meja operasi. Dia membawaku berpindah-pindah agar aku bisa melupakan kejadian ini."


Kedekatan mereka semakin erat terjalin tanpa keduanya sadari. Namun mereka akhirnya mengurai pelukannya saat dokter yang menangani Alexa masuk.


"Bagaimana perasaan anda saat ini, nona?"


"Sudah jauh lebih baik, dokter," jawab Alexa.


"Hari ini anda sudah boleh pulang, jangan terlalu lelah."


"Baiklah, terima kasih sarannya dokter. Juga terima kasih karena dokter sudah merawat saya dengan baik."


"Sudah jadi tugas saya, nona."

__ADS_1


Zafa dan Alexa akhirnya meninggalkan rumah sakit itu. Mereka menaiki mobil yang dikemudikan oleh anak buah Zafa.


"Apa keluargaku sudah berangkat, Ben?"


"Sudah, tuan. 15 menit yang lalu."


"Ku harap oma Arini baik-baik saja dan berumur panjang."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai guys, sambil nunggu aku up ada baiknya kalian mampir di karya bestie ku yang satu ini.



"Kalau bukan karena bakti ku pada kedua orang tua. Sudah dari dulu aku tinggalkan Hanna!" ujar Reza jujur.


Pria itu tak memiliki perasaan apapun pada Hanna. Tidak ada perasaan berdebar-debar dan gugup saat berdampingan dengan istrinya itu.


Rasanya hambar, bahkan ada dan tiada Hanna, dia merasa akan baik-baik saja.


Degg.


Hanna memeluk erat kotak bekal yang ia bawakan untuk Reza. Mata wanita itu menganak sungai, tak pernah ia sangka akan mendengar kata-kata menyakitkan dari lisan suaminya sendiri.


Ternyata selama ini dia tak lebih hina dari noda hitam yang menempel di pakaian suaminya.


Apa salahnya? Apa kekurangannya?


Sehingga, suaminya tega berkata seperti itu pada temannya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, Mas. Cukup sampai detik ini aku berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Percuma aku berusaha mendapatkan hatimu, kalau aku tak lebih dari noda hitam di matamu!"


"Akan aku tunjukkan apa noda hitam itu sebenarnya! Jangan salahkan aku berubah. Karena kamu sendiri yang telah membuat aku berubah!" gumam Hanna seraya menghapus air matanya yang mengalir di pipi.


__ADS_2