
****
Zayana sedang asik bermain dengan baby Joana. Bayi yang baru berusia 6 bulan itu kini jadi primadona di keluarga Dian. Zafrina mendekat dan menciumi pipi bocah itu.
"Dimana Jade dan Julian?" tanya Zafrina sambil memainkan jari tangan Joana.
"Biasa, sedang merajuk mereka itu, katanya grandma dan grandpa pilih kasih. Datang-datang langsung cium Joana."
"Oalah, cemburu ceritanya?" ujar Zafrina terkekeh. Tak lama seorang pelayan datang membawa sebutir kelapa yang sudah dibuka atasnya. Zafrina tampak berbinar melihatnya.
"Sepertinya ini enak."
"Tentu saja," jawab Zafrina. Ia mengambil sebutir kelapa muda itu dan mulai menyedot nya, matanya sampai terpejam karena keinginannya terpenuhi.
"Joana, ikut grandma saja, sini, Nak." Selin muncul dari kamar tamu mendekat ke arah dua perempuan kebanggaan keluarga Dian itu. Zafrina berdiri dengan susah payah lalu memeluk mommy-nya Judy itu.
"Aunty Selin, apa kabar?"
"Baik, Sayang. Mama dan Papamu itu keterlaluan sekali, Uncle dan Aunty sama sekali tidak diberitahu kalau kamu menikah."
"Memang tidak ada yang tahu, Ina hanya minta Aunty dan Uncle selalu do'ain pernikahanku langgeng sampai kami menua bersama."
"Pasti, Sayang. Aunty akan selalu mendoakan kamu dan suamimu."
Setelah berbasa-basi sebentar, Zafrina masuk ke dalam kamar lamanya. Rasanya ia selalu merindukan tempat itu. Dekorasinya sama sekali tidak berubah dari sejak Zafrina menduduki bangku SMA.
Tanpa sadar Zafrina akhirnya tertidur pulas. Ia bahkan tidak mengirimkan pesan apapun pada suaminya. Zafrina lupa. Sementara di perusahaan Zico tampak uring-uringan karena sejak tadi istrinya sulit dihubungi.
"Rio, tolong cancel semua jadwal setelah ini, aku harus menyusul istriku di rumah mertua. Kamu ikut aku, ya."
__ADS_1
"Baik, Tuan." Rio geleng-geleng kepala melihat tingkah atasannya itu. Padahal baru tadi dia bilang dengan semangat 45 mau menyelesaikan pekerjaan agar bisa cuti menemani istrinya melahirkan nanti, tapi giliran dicueki malah kelabakan dan membatalkan jadwal yang dibuatnya sendiri.
Sekarang Zico dan Rio menuju kediaman kedua orangtua Zafrina. Jalanan cukup macet karena waktu masih menunjukkan pukul 5 sore. Zico berulang kali menghubungi ponsel Zafrina, tapi entah kemana istrinya itu, panggilannya tak ada yang dijawab.
"Kenapa lama sekali, Rio?" gerutu Zico.
"Maaf, Tuan, tapi jalanan di depan sangat padat sekali."
"Seharusnya aku pulang pergi naik motor saja," gumam Zico. Dia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya.
Rio hanya melirik sekilas ke atasannya namun ia memilih tidak menjawab apapun ucapan bos bucinnya itu. Meskipun baru sebentar ikut dengan atasannya itu, tapi Rio sangat paham sekali watak atasannya jika berkaitan dengan istrinya itu.
Pukul 6 lebih, Zico baru tiba di rumah mertuanya. Tak lupa dia membawa cemilan untuk bahan kunyahan istrinya yang memang akhir-akhir ini sering merasa lapar.
Zico langsung masuk bersama Rian setelah seorang pelayan membukakan pintu untuknya. Zico diberitahu jika istrinya sedang ada di dapur memasak. Zico seketika menyerahkan bungkusan yang dibawanya pada Rio dan segera menyusul sang istri.
"Belajar bersepeda, Sayang. Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan di dapur ini?" jawab Zafrina asal. Zico mendekat dan mencubit pipu Zafrina yang semakin bulat.
"Kamu, ya."
"Iih, sakit tahu," gerutu Zafrina. Zico lantas mengecup pipi istrinya yang memerah karena ulahnya.
"Nanti semua akan makan besar di sini. Aku sedang bantu mereka menyiapkan beberapa menu."
"Kamu tidak boleh terlalu capek, loh."
"Aku dari tadi tidak berbuat apa-apa. Ini juga baru saja turun."
"Jangan terlalu lelah, aku bawa camilan untuk kamu, amu mau mandi dulu, oke."
__ADS_1
"Hmm, ya," jawab Zafrina tak acuh. Dia masih sibuk membulati daging giling yang akan dimasak olehnya.
"Masak apa, Sayang?" tanya Gerry mendekati putrinya.
"Yang jelas menu sehat. Papa dan yang lainnya sudah tua, jadi aku akan jaga pola makan kalian."
"Oh, ayolah, Sayang, makanan yang enak itu makanan yang penuh cita rasa."
"Iya, tapi bukan berati papa bisa sembarangan makan." Gerry memilih berlalu menghindari omelan putrinya. Gerry tahu, meskipun Zafrina kadang lebih banyak diam tapi dia sangat peduli dengan semua anggota keluarganya.
Hari ini kediaman Dian dan Gerry penuh dengan tamu, ada Rian dan keluarga besarnya, Arya dan istrinya, Didi dan Selin, Arsen dan Ara, Nino dan juga Sasa. Semua para tetua keluarga juga berkumpul. Mama Dian memesan beberapa catering dari langganannya tapi Zafrina ngotot ingin memasak sesuatu. Akhirnya mama Dian membiarkan putrinya itu melakukan apapun yang diinginkannya.
"Sebaiknya minta Zafrina untuk ke sini saja. Aku tidak tega dia harus memasak," ujar Gerry pada Dian.
"Biarkan saja dulu, dia sedang mau, nanti aku akan memanggilnya sebentar lagi," jawab Dian.
"Baiklah, jika begitu aku akan ke sana dulu untuk ngobrol dengan mereka. Sayang sekali Aldo dan Veni tidak bisa datang."
"Akhirnya kita bisa berkumpul lagi," kata Selin.
"Iya, kita punya anak banyak tapi semua sama-sama sibuk. Tidak ada yang bisa kita manfaatkan," sambung Velia.
"Tapi aku dengar dari Ina, kita akan berbesanan, Vel," sahut Dian. Velia membelalak kaget, tapi tak urung ia tertawa dan semuanya juga ikut tertawa karena ucapan Dian barusan.
"Takdir yang aneh," sahut Selin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf ya aku sering bolong. Lagi sakit soalnya.
__ADS_1