
**** Area iya-iya (yang belum cukup usia harap menepi) ****
Meskipun awalnya tak masalah ketika istrinya ingin tidur dengan mama Dian, tapi nyatanya hampir semalaman Zico sulit memejamkan matanya. Dia terus membolak-balik posisi tidurnya yang dirasa tak nyaman. Biasanya dia akan mudah terlelap jika tidur sambil berpelukan dengan istrinya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Zico keluar dengan wajah kusut dan lingkar mata yang terlihat jelas menghitam.
"Tidak bisa tidur?" tanya Zayn menepuk bahu kakak iparnya.
"Ya, begitulah," jawab Zico lemas. Zayn tersenyum, terbersit satu pikiran untuk mengerjai kakak iparnya itu.
"Padahal biasanya kalau kakak di sini, dia akan sering tidur dengan mama," ujar Zayn sembari berlalu menuruni anak tangga. Alis Zico bertaut, benarkah begitu? berati ini bukan honeymoon tapi kunjungan." Bahu Zico yang semula tegap langsung merosot. Zayn yang melihat wajah kuyu iparnya hanya terkekeh.
"Usil banget, sih." Judy menepuk lengan suaminya. Zayn tersenyum dan menarik pinggang Judy lalu ia membenamkan ciuman lembut di bibir istrinya itu. Judy membelalak, ia lantas mendorong kedua bahu Zayn dan kembali menepuk lengan suaminya.
"Ada kakak ipar," ujar Judy cemberut. Zayn terkekeh dan mencubit pipi istrinya. Dia menyapukan pandangan mencari kedua anaknya.
Judy ikut celingukan mencari tahu apa yang sedang dicari oleh suaminya.
"Cari apa?" tanya Judy.
"Dimana anak-anak?"
"Di rumah kakek dan nenek. Tadi om Nino datang jemput mereka."
"Oh, berarti bisa kan? sebelum berangkat satu kali dulu," kata Zayn. Tanpa di duga dari arah belakang seseorang menoyor kepala Zayn.
"Mesum, teroooos!" seru Zafrina.
"Ish, menganggu saja."
"Kamu juga kalau begitu kira-kira aja donk. Perut Judy sudah sebesar itu masih saja pikirannya mesum."
__ADS_1
"Dasar kudet, ini adalah salah satu proses mempermudah membuka jalan lahir. Jadi aku ini bukannya mesum," elak Zayn. Zafrina hanya mencibir sambil menggandeng tangan Zico. Keduanya berjalan ke samping rumah melewati taman bunga menuju pintu penghubung antara rumah mama Dian dan rumah kakek buyut mereka yang sekarang di tempati oleh kakek Hanafi dan nenek Arimbi.
Zafrina tiba-tiba berlari saat melihat dua keponakannya yang begitu menggemaskan. Kedua bocah berumur 2 tahun itu sedang berjemur bersama kakek dan nenek Zafrina. Zafrina mencium punggung tangan kakek Hanafi dan lalu memeluk nenek Arimbi.
"Uh, aku kangen, aku kangen kakek, kangen nenek kangen Julian dan Jade. Aku kangen semuanya," kata Zafrina. Zico hanya tersenyum saat melihat Zafrina menggendong entah Jade atau Julian dan menciumi bocah itu dengan gemas.
"Oh ya, King, kemarilah. Perkenalkan ini kakek dan nenekku. Mereka orang tua mama."
Zico pun mendekati kakek Hanafi dan nenek Arimbi. Mereka akhirnya bersalaman. Ini kali pertama Zico mengenal orang tua dari mama Dian.
"Apa ini suamimu?" tanya kakek Hanafi.
"Iya, kakek, namanya Zico, tapi aku memanggilnya King."
"Bisa-bisanya kalian menikah tidak mengundang kami," protes kakek Hanafi. Zafrina meringis saat mendengar ucapan kakeknya.
"Kami akan mengadakan resepsi di sini, Kakek. Jadi kakek dan nenek tetap akan dilibatkan."
"Jangan patah semangat, kalian masih sangat muda. Waktu kalian masih panjang," kata nenek Arimbi. Zafrina dan Zico sama-sama mengangguk. Zafrina juga tidak menceritakan mengenai keguguran yang dialaminya. Dia tidak mau kakek dan neneknya ikut merasa sedih.
"Itu biarkan Jade sama mbaknya. Kasihan sudah tidur begitu," ujar nenek Arimbi, Zafrina menunduk dan ternyata benar Jade sudah tidur. Dia mengangkat tubuh keponakannya dengan hati-hati dan lalu menyerahkan pada pengasuh Jade.
Zico sibuk ngobrol dengan kakek Hanafi. Keduanya tampak nyambung. Zafrina bergelayut manja di lengan neneknya. Nenek Arimbi senang sekali bisa melihat satu per satu cucunya menemukan jodohnya dan ia berharap semuanya akan menemukan kebahagiaan.
"Bagaimana kondisi kakek dan nenek?" tanya Zafrina.
"Seperti yang kamu lihat, kami sehat-sehat saja. Kamu ada rencana kerumah Oma dan Opa kamu?"
"Nanti malam atau besok, Nek. Aku masih mau bermanja-manja dengan nenek. Kapan lagi aku bisa ngumpul seperti ini."
__ADS_1
"Makanya tinggal saja di Indonesia. Biarkan mami dan papimu menikmati masatuanya berdua."
"Aku juga maunya seperti itu, tapi aku kan sekarang punya suami, Nek. Kemana pun suamiku pergi disitulah aku berada."
Kakek Hanafi tersenyum mendengar ucapan Zafrina. Sedang Zico cuping hidungnya sampai mengembang karena mendengar perkataan Zafrina barusan.
"Kalau kamu mau tinggal di Indonesia, aku juga tidak masalah."
"Apa kamu serius, King? apakah boleh?" tanya Zafrina dengan mata yang berbinar terang.
"Tentu saja, boleh."
Zafrina melepas kaitan tangannya di lengan neneknya. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Zico. Zafrina langsung memeluk Zico di depan kakek dan neneknya.
"Terima kasih, King. Kamu memang suami yang bisa diandalkan."
Zico tersenyum canggung, tapi tangannya tak lepas mengusap punggung Zafrina. Dia senang melihat istrinya mulai ceria lagi saat berada di dekat keluarganya.
Zafrina dan Zico berpamitan setelah 2 jam berada di rumah kakek dan neneknya. Keduanya kembali melewati pintu penghubung. Zafrina kini melihat mamanya sedang memotong beberapa tangkai bunga. Ia mendekati ibunya lalu Zafrina mencium pipi wanita yang telah melahirkannya itu.
"Sana istirahat dulu, kamu dari kemarin kurang tidur, kan?"
"Iya, Mah. Inna dan Zico masuk dulu." Zafrina meninggalkan ibunya sambil menggandeng tangan suaminya. Dia naik ke lantai 2 untuk beristirahat di kamarnya.
Zico mengunci pintu kamar Zafrina. Ia lalu menarik tubuh istrinya dan menyandarkannya di dinding. Tangan Zico yang satu melingkar di pinggang Zafrina sementara satu tangan lainnya menyentuh dagu istrinya itu.
"Bolehkah, siang ini aku mendapat vitaminku?" tanya Zico dengan suara parau. Bukannya menjawab pertanyaan suaminya. Zafrina justru memberikan jawaban lewat aksinya. Dia meraih kedua sisi wajah Zico dan membenamkan ciuman lembut. Merasa mendapat lampu hijau, tangan Zico berpindah dari dagu ke tengkuk Zafrina. Zico menekan kepala istrinya dengan lembut dan mulai membalas pagutan bibir Zafrina. Lidah keduanya saling membelit, tangan Zico kini sudah bergerilya, ciumannya turun dan berpindah ke leher Zafrina. Napas Zico yang berhembus di sekitar leher Zafrina membuat seluruh bulu halus di tangan Zafrina berdiri karena merinding.
Zico langsung menggendong Zafrina seperti bayi koala dan menidurkannya di ranjang. Zico menarik baju Zafrina ke atas hingga lolos dari tubuhnya. Wajah Zico langsung terbenam diantara kedua dada Zafrina. Tubuh Zafrina melengkung ke atas bagai sebuah busur. Keduanya larut dalam sensasi kehangatan, Zico mulai melucuti pakaiannya sendiri dan menarik kain terakhir yang masih menempel di tubuh istrinya. Zico memulai penyatuan mereka dengan lembut. Ia kembali melu*mat bibir Zafrina sambil menggerakkan panggulnya. Tubuh Zafrina terus bergerak seiring gerakan Zico yang semakin lama semakin cepat. Lenguhan suara Zafrina begitu sahdu terdengar, tak lama tubuh Zafrina bergetar hebat. Jemarinya erat mencengkeram lengan Zico hingga lengan pria itu berwarna kemerahan. Zico semakin bergerak liar saat Zafrina telah mencapai puncaknya, dalam hitungan detik dia pun ikut menyusul Zafrina meraih kli*maksnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like komen dan Vote ya guys.. senin nih