
*****
Kebahagiaan Zafrina langsung sampai di telinga keluarga besarnya. Mama Dian dan papa Gerry langsung mendatangi Zafrina di rumah lama. Zafrina langsung menyambut kedua orangtuanya dengan pelukan.
"Bagaimana kondisi kamu, Sayang?"
"Baik, Ma. Hanya mual sesekali."
"Jangan terlalu lelah, ya dan kalau bisa kurang-kurangi kesibukan kamu di butik sementara waktu ini." Zafrina tersenyum mendengar serentetan nasihat mamanya. Dari sorot mata mamanya menunjukkan kebahagiaan sekaligus kekhawatiran. Mungkin mama Dian masih kepikiran dengan hal kemarin. Makanya bersikap protektif seperti ini.
"Iya, Mamaku sayang, mama tenang saja. Sekarang Zafrina punya pawang," ujar Zafrina bercanda sambil melirik suaminya yang sedang berbincang dengan papanya.
"Mama senang, akhirnya apa yang menjadi impianmu bisa terlaksana."
"Ina juga tidak menyangka, Mah."
Mereka berempat akhirnya telibat pembicaraan seputar kehamilan dan mama Dian memberikan beberapa nasihat pada putrinya. Zico tampaknya terlihat yang paling bahagia diantara ketiga orang itu. Dia sangat antusias mendengar setiap ucapan mama mertuanya.
Zafrina merasa kedatangan orangtuanya mampu menghilangkan mualnya, seperti saat dulu pertama ia hamil. Zafrina berbaring dengan kepalanya berada di pangkuan mama Dian. Dia sekarang berbaring sambil mendengarkan cerita masa kecilnya dari mulut mamanya.
Lama kelamaan mata Zafrina semakin terasa berat. Tanpa sadar perempuan itu pun terlelap, Zico dan papa Gerry geleng kepala dengan kemanjaan Zafrina.
__ADS_1
"Biar aku angkat Zafrina dulu, Mah, Pah."
"Biarkan saja dulu seperti ini, Zi. Mama ada suatu hal yang ingin dibicarakan sama kamu," ujar Dian. Wajah Zico mendadak berubah serius. Mama mertuanya itu jarang berbicara dengannya, tapi kini beliau ingin berbicara, pasti itu merupakan hal yang sangat penting.
"Apa, mah?" tanya Zico, mendadak wajahnya terlihat tegang, papa Gerry menepuk pundak menantunya itu.
"Rileks saja, Zi. Ini bukan hal yang serius. Kami hanya ingin menanyai pendapatmu mengenai resepsi itu. Awalnya mama dan papa ingin mengadakan resepsi itu dalam waktu dekat. Namun, mengingat kondisi Zafrina yang sebelumnya pernah keguguran. Kami akan menundanya. Apa kamu keberatan jika acaranya diundur? mama takut Zafrina akan kelelahan dan itu malah mempengaruhi kesehatan kandungannya.
"Zico pikir mama dan papa mau bicara apa. Soal itu, kami terserah saja. Lagi pula mungkin dengan kejadian kemarin, Zafrina sekarang akan bersikap sedikit lebih hati-hati. Jadi, Zico pikir dia juga tidak akan mungkin keberatan."
"Memangnya, berapa usia kandungan Inna?"
"Kata dokter, prediksinya 8 minggu menyesuaikan berat dan besar janinnya. Soalnya Ina lupa kapan terakhir mendapatkan siklusnya."
"Baiklah, sekarang kamu boleh pindahkan istrimu, kami harus pulang untuk mengurus para orang tua," kata mama Dian. Zico sigap berdiri dan mengangkat tubuh istrinya. Dia lalu membawa Zafrina ke dalam kamar sementara Dian dan Gerry masih di ruang tamu. Keduanya saling pandang dan tersenyum. Mama Dian bersyukur putrinya menemukan suami yang mencintainya dengan tulus.
Setelah meletakkan tubuh istrinya di atas ranjang, Zico menyelimuti Zafrina dan lalu ia segera keluar karena pasti kedua orang tua Zafrina menunggunya.
"Kami pulang dulu, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi kami," ujar papa Gerry. Zico mengangguk, setelah sesaat berpelukan, kedua orang tua Zafrina pergi. Zico segera keatas untuk menyusul istrinya.
Zafrina membuka matanya saat mendengar suara pintu terbuka. Dia mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Apa papa dan mama sudah pulang?" tanya Zafrina dengan suara parau.
"Iya, baru saja. Mereka harus mengurus opa dan oma."
"Kenapa aku sampai ketiduran?" protes Zafrina.
"Ya, itu karena kamu lelah. Sekarang ada dia di sini sudah pasti kamu tidak sekuat biasanya," kata Zico sambil mengusap perut Zafrina.
"Pantas saja, akhir-akhir ini tubuhku rasanya mudah lelah dan mengantuk."
"Kembalilah tidur. Aku akan membersihkan diri dulu sebelum menemanimu."
"Kamu jangan mandi, aku suka bau tubuhmu sekarang, King."
"Tapi sejak tadi aku belum mandi, Queen."
"Aku tidak peduli, aku mau kamu memelukku sekarang. Kamu masih sangat wangi, King," ujar Zafrina lirih sambil memeluk lengan Zico. Zico akhirnya pasrah. Yang penting istrinya nyaman dan bahagia.
"Sehat-sehat, ya, kamu. Jangan menyulitkan mommy," bisik Zico di depan perut Zafrina.
"Yes, daddy," jawab Zafrina dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil. Ternyata meski matanya terpejam, ia belum sepenuhnya tidur. Zico terkekeh lalu mengecup lembut bibir istrinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...