Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 60. Penyesalan Zico


__ADS_3

*******


Zico mengusap wajahnya kasar saat mendengar ucapan perawat itu. Dia segera berteriak memanggil Benjamin.


"Ben, antar aku ke rumah sakit Mass General sekarang. Ina ada di rumah sakit."


"Baik, tuan."


Mereka pun akhirnya menuju ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan tatapan mata Zico menyiratkan penyesalan yang teramat dalam. Jika saja sejak dulu dia memberi batasan pada Anastasya, jika saja dia dulu tidak memacari Anastasya hanya demi membuat Zafrina kesal padanya. Pasti tidak akan ada kejadian hari ini.


Benjamin tak banyak bicara. Dia memilih diam dan terus menyetir. Ia tahu saat ini tuannya sedang kalut. Tapi dia lebih penasaran dengan kondisi nonanya.


Setibanya mereka di rumah sakit, Zico langsung membuka pintu dan berlari menuju ruang pemeriksaan.


"Suster, saya mencari istri saya, Dia yang mengalami pendarahan."


"Dokter Anna, suami pasien sudah tiba... " Suster itu bergegas menghampiri dokter Anna karena memang kondisi Zafrina perlu penanganan secepatnya.


"Segera tanda tangani surat persetujuannya. Kami harus segera melakukan kuretase," ujar dokter Anna pada Zico. Seorang perawat menghampirinya dengan membawa sebuah map.


"Silahkan ditandatangani, tuan." Perawat itu menyodorkan mapnya dan pulpen.


Tanpa berpikir panjang Zico menandatangi surat persetujuan itu. Brankar Zafrina pun di dorong lewat pintu lain menuju ke ruang operasi.


Zico kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang akan dia katakan pada keempat orangtua Zafrina.

__ADS_1


Eden sejak tadi mengamati Zico. Dia pun akhirnya mendekati Zico.


"Apa kamu suami dari wanita yang pendarahan tadi?"


Zico seketika mengangkat kepalanya. Alisnya terangkat sebelah.


"Anda siapa?"


"Kebetulan aku adalah orang yang menemukan istri anda."


"Oh, terima kasih." Zico langsung bangkit dan menjabat tangan Eden.


"Tunggulah di sini. Tas istrimu masih di dalam mobilku." Eden setengah berlari menuju mobilnya. Dia mengambil tas Zafrina dan lalu menyerahkannya pada Zico.


"Baiklah, sepertinya urusanku sudah selesai di sini. Jadilah penguat bagi istrimu. Tidak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Dukungan seorang suami sangat diperlukan demi membangun psikis yang baik untuk istrinya."


Selama 1 jam Zafrina berada di ruang operasi. Berulangkali Zico menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Dia menekan nomor ponsel Zafa. Hanya nama pria itulah yang terlintas di otak Zico.


["Zico, ada apa malam-malam menghubungi ku?"]


"Apa kamu masih di rumah sakit?"


["Tidak, aku sudah pulang. Ada apa?"]


"Bisakah kamu kemari. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu."

__ADS_1


["Baiklah, di rumah sakit yang kemarin kan? aku akan segera kesana."]


"Baiklah, aku menunggumu."


Setelah sambungan terputus, Zico melihat pintu ruang operasi terbuka. Dia menemui dokter Anna.


"Bagaimana kondisi istri saya, dokter?"


"Semua berjalan lancar. Semoga saja nona Zafrina akan segera sadar."


"Terima kasih, dokter. Mengenai ini, apakah nanti dia bisa hamil lagi?" Mendengar pertanyaan itu dokter Anna mengangguk dan tersenyum ramah.


"Tentu saja. Apalagi anda dan nona Zafrina masih dalam usia produktif."


"Terima kasih, dokter. Saya hanya khawatir dengan kondisinya."


"Yang terpenting sekarang menjaga emosi pasien. Jangan sampai dia berlarut-larut dengan kesedihannya. Karena bisa memicu depresi."


"Baiklah, dokter." Setelah dokter Anna pergi, tak lama bed Zafrina di dorong dari dalam ruang operasi. Zico dan Benjamin mengikutinya. Zico terus menatap wajah pucat istrinya dengan rasa bersalah.


"Queen... maafkan aku," lirih Zico.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai guys... gini ya, kenapa keguguran dan kenapa harus pait. Biar nanti manisnya dapet. Dan kebahagiaan mereka akan berlipat-lipat. Tapi tentunya nanti ya.

__ADS_1


Sambil nunggu, ayok mampir karya sohib author kak Julia Fajar aja yuk. Jangan lupa untuk Favorit kan karya ini agar tetap tersimpan di rak kalian ya



__ADS_2