
*****
Rian datang bersama kemarahan di hatinya. Bagaimana bisa kemarin putrinya masih ngidam tidak mau bertemu dengannya dan pagi ini dia mendapat kabar jika putrinya keguguran.
Velia berulangkali berusaha memenangkan Rian, ia terus mengingatkan agar suaminya itu sabar dalam menghadapi menantunya, dia tidak mau jika kemarahan Rian justru akan memperburuk kondisi Zafrina.
"Tenanglah, jangan seperti ini."
"Bagaimana aku bisa tenang? kamu tahu kan kemarin dia masih terlihat baik dan tidak mau melihatku. Tapi sekarang apa? dia memang tidak becus menjaga putriku."
"Dulu kamu juga berniat mencomblangkan mereka kan, jadi itu sepenuhnya juga bukan salah Zico. Sudahlah, mas. Dari pada mencari-cari kesalahan Zico sebaiknya pikirkan bagaimana cara membesarkan hati putri kita. Dia pasti sangat sedih kehilangan calon anaknya."
Rian diam saja tidak membalas ucapan istrinya. Dia pun sebenarnya merasakan kesedihan yang sama, yakni kehilangan cucu pertamanya.
Sesampainya di rumah sakit, Rian dan Veli juga Ravelo berjalan menuju ruang perawatan Zafrina.
Rian masuk dan melewati Zico begitu saja. Dia memeluk putrinya dengan erat. Zafrina tersenyum tipis dan membalas pelukan papinya.
"Papi... "
"Sayang, bagaimana kabarmu?"
"Aku sudah lebih baik, papi. Maafkan kemarin Inna menghindari papi," ucap Zafrina. Rian lalu mengurai pelukannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang," kata Rian. Pria paruh baya itu menekan pangkal hidungnya dengan mata memerah. Velia ikut mendekat dan memeluk Zafrina. Rian sedikit bergeser dan membuang pandangan. Jangan sampai putrinya melihat air matanya.
"Mami... "
"Yang sabar ya, ini ujian dari Allah." Zafrina hanya mengangguk dan tersenyum. Matanya tak bisa membohongi semua yang ada disana. Tapi Zafrina berusaha tetap terlihat tegar di depan semuanya.
Rian menyapa Zafa namun tidak dengan Zico. Zafrina melirik ke arah suaminya. Saat tatapan keduanya beradu Zafrina mengulas senyum tipis seakan-akan semua baik-baik saja.
Zico pun akhirnya mendekat dan bersujud di depan Rian. Namun Rian tetap berdiri dengan angkuhnya.
"Sudah berapa kali kamu menyakiti Zafrina? apakah ini yang dulu kamu banggakan atas nama cinta? Dari penculikan sampai sekarang masalah perempuan. Apa kamu tidak malu menyandang nama keturunan white tiger?"
"Maaf... ini semua salahku."
"Ada berapa perempuan yang pernah kamu tiduri?"
Rian tersenyum remeh. "Lalu sekarang ini apa? kalian sampai kehilangan calon cucuku. Apa kamu tidak menyesalinya?"
Zico tertunduk. Ya.. ini adalah penyesalan terdalamnya. Yang pergi tidak akan pernah kembali. Calon penerusnya harus menjadi korban kebodohannya.
"Aku peringatkan padamu. Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk menjaga putriku. Jika lagi-lagi kamu menyakitinya dan membuatnya menitikkan air mata kesedihan maka aku akan langsung mengambilnya, dan jangan harap kalian bisa bertemu lagi."
Veli, Ravelo, Zafa dan Zafrina hanya diam melihat papi Rian memarahi Zico. Setelah berkata demikian, Rian dan keluarganya berpamitan pada Zafrina begitu juga Zafa.
__ADS_1
Zafa ingin pasangan itu memiliki kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati. Keduanya sama-sama memiliki perasaan yang kuat hanya saja pernikahan mereka penuh dengan cobaan.
"Terima kasih kak, jangan sampai papa dan mama tahu dulu. Kasihan mama jika sampai kepikiran." Zafa mengangguk lalu kemudian mengecup puncak kepala adiknya.
Setelah kepergian Zafa, Zafrina diam. Zico pun memberanikan diri mendekati istrinya itu. Dia membelai puncak kepala Zafrina dengan lembut.
"Sekarang dia sudah tidak ada, kamu boleh memilih gadis itu. Bukankah dia sedang hamil?"
"Kenapa berbicara seperti itu. Apa kamu pikir aku berbohong pada papi hanya untuk menyenangkan hatinya? aku bersumpah demi nyawaku. Aku tidak pernah menyentuh mereka lebih dari berciuman." Zafrina menatap tajam ke arah Zico. Dia tak suka sumpah yang Zico ucapkan.
"Jangan macam-macam dengan sumpahmu."
"Aku bahkan rela mati agar kamu percaya padaku. Aku lebih baik mati dan harga diriku selamat, dari pada aku hidup dengan segala prasangka burukmu padaku, Queen." Zico menatap Zafrina dengan tatapan memohon.
"Maafkan aku, King."
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Calon anak kita itu belum rejeki kita untuk memilikinya. Jadikan ini sebagai pengingat semarah apapun kamu jangan pergi dari rumah. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu."
Zafrina akhirnya tidur dengan bersandar di dada Zico. Tatapan Zico berubah tajam saat mengingat Anastasya. Bohong jika dia bisa mengikhlaskan calon penerusnya begitu saja. Mata di bayar mata, dan nyawa di balas nyawa.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Duh baru bisa ngetik lagi. author lagi ruwet Rl nya. mohon maaf sebesar-besarnya ya..
__ADS_1
Btw sambil nunggu, ada baiknya mampirlah ke karya sohib ku kak Bhebz yang judulnya Ex mafia hot daddy Dijamin karyanya juga keren