
*****
Setelah berpelukan dengan kakak iparnya Zafia langsung di bawa ke kamar Zafrina. Zafia seakan tidak terlalu mempedulikan keberadaan Raiden.
Pria itu seolah bagai manusia invisible bagi Zafia, dan hal itu sukses membuat Raiden cukup kesal.
Dino tersenyum miring melihat perubahan raut wajah pemuda yang ada di samping Zico itu. Dari wajahnya terlihat sedikit mirip dengan sepupunya Zafrina pastilah itu adalah adik Zafrina yang lain.
Zafia membuka pintu kamar kakaknya perlahan. Ia melihat sang kakak sedang duduk dan sedang di periksa oleh dokter.
"Fia kamu di sini? Zafrina menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Seperti biasa dia akan menunjukkan senyumnya untuk menutup luka yang dia sembunyikan dari semuanya.
Zafia mengangguk, ia menunduk sopan sejenak pada dokter Anna, lalu duduk di sisi ranjang kakaknya.
"Apa yang terjadi, Kak?"
"Kakak kurang berhati-hati sehingga kakak keguguran." Zafia tersenyum lalu membelai wajah sang kakak.
"Kakak, papa berpesan padaku untuk menyampaikan ini padamu. Saat kakak sedih, ingatlah, bahwa kesedihan kakak juga kesedihan kami. Papa mengijinkan kakak untuk bersedih tapi tidak boleh lama-lama."
"Kamu tenang saja, kakak sudah tidak apa-apa."
Di saat kakak beradik itu sedang berbicara ponsel Zafia berdering. ia segera memasang earphone di telinganya.
"Ada apa Ferran?"
["Apakah kamu sudah sampai? kenapa tidak memberikan kabar pada kami?"
"Oh, maaf. Aku baru saja tiba. Maaf jika membuat kalian Khawatir."
__ADS_1
Setelah berbasa-basi sejenak, Zafia memutus sambungan telepon sesulernya. Zafrina tersenyum penuh maksud menatap sang adik.
"Jangan berpikir yang macam-macam," kata Zafia. Saat ini Zico, Raiden dan juga Dino menjadi penonton saja karena mereka tidak mau mengganggu momen kakak beradik itu.
"Siapa juga yang seperti itu. Tapi aku benar-benar penasaran dengan pemuda itu. Dia cukup tampan Fia. Jangan pilih-pilih," goda Zafrina. Dokter Anna tersenyum melihat perkembangan Zafrina setelah kedatangan adik perempuannya.
"Aku tidak bisa merubah persahabatan menjadi cinta. Aku bukan kakak, yang dengan gampang jatuh cinta dengan sahabat sendiri."
Zafrina langsung memanyunkan bibirnya mendengar ucapan adiknya itu. Zico tersenyum tipis melihat sang istri sudah mulai terlihat biasa saja.
"JIka begitu, saya permisi dulu nona Zafrina. Semoga anda lekas pulih." Dokter Anna mulai membereskan perlengkapannya, Ia juga sudah melepaskan infus Zafrina tadi.
"Terima kasih banyak, Dokter Anna. Maaf jika saya dan suami sering merepotkan anda."
"Tidak perlu dipikirkan, Nona. Sudah menjadi kewajiban saya, karena anda adalah pasien saya."
Sementara itu, di dalam ruang kamar Zafrina, Raiden sesekali mencuri pandang ke arah Zafia. Hal itu membuat Dino pada akhirnya tak tahan lagi dan kemudian akhirnya tertawa.
"Inna, apa kamu tidak ingin mengenalkan Fia pada adikmu yang lain?"
Zafrina menoleh dan lalu menatap Raiden. Senyum Zafrina terbit manakala melihat Raiden tampak salah tingkah karena ketahuan mencuri pandang pada Zafia.
"Aku pikir mereka sudah berkenalan tadi."
"Adik perempuanmu itu mana peka," ujar Dino dan membuat Zafia langsung melotot kesal.
"Siapa bilang aku tidak peka?'
Dino dan Zafrina hanya tertawa melihat wajah protes Zafia. Raiden diam-diam terus mengamati setiap perubahan ekspresi wajah Zafia.
__ADS_1
"Sudah-sudah, jangan cemberut seperti itu," ujar Zafrina pada adiknya. Zafrina lalu meminta Raiden untuk mendekat. Pemuda itu pun menurutinya karena dia memang penasaran dengan sosok Zafia.
"Raiden, perkenalkan, ini Zafia. Dia adikku yang paling tertutup. Dulu mungkin kalian pernah berkenalan saat kecil. Tapi Zafia ini memang jarang sekali tampak. Dia senang menyendiri jadi orang mudah melupakannya."
Raiden dan Zafia saling beradu pandangan tapi sejurus kemudian Zafia membuang pandangannya ke arah sang kakak yang mengatakan jika dirinya mudah dilupakan."
"Kakak..."
"Hihihi... kakak hanya bercanda saja kok." Zafrina tertawa melihat adiknya cemberut kesal.
"Hai, aku Raiden." Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Fia..." jawab gadis itu singkat dan menjabat tangan Raiden sesaat, setelah itu Zafia buru-buru melepas jabat tangannya dengan Raiden.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Bonus Visual (Kalau tak cocok cari sendiri ya)
Raiden
Zafia
Sambil nunggu aku up mampir ke karya sohibku kak Febriyanti Judulnya Ranjang pengkhianatan
__ADS_1