
*****
Hari telah berganti. Baik Zico dan Zafrina tak lagi peduli dengan ancaman David. Pecundang yang sama sekali tak memiliki pengaruh apapun.
Zico tahu, akhir-akhir ini ada beberapa orang yang selalu menguntit istrinya. Raiden pun sudah gatal ingin melakukan sesuatu, tapi dia terus berusaha menahannya.
Zafrina kini sedang pergi berbelanja Zafia. Keduanya sepakat untuk membeli beberapa oleh-oleh sebelum ke Indonesia untuk mengunjungi keluarga mereka.
Zafia juga sudah mendaftarkan kuliahnya. Lucunya Raiden pun ikut mendaftar di Universitas yang sama dengan Zafia di Massachusetts universitas.
"Kak, sepertinya ada yang mengikuti kita," ujar Zafia masih dengan memasang wajah tenang dan datar. Gadis itu masih sibuk memilih beberapa tas untuk hadiah nenek dan ibunya.
"Biarkan saja. Mereka hanya segerombolan orang-orang bodoh. Kamu masih menyimpan senjata 'kan?"
"Apa kita akan berkelahi dengan mereka?"
"Apa yang kamu cemaskan?" tanya Zafrina mendekati adiknya dan pura-pura memegang tas yang Zafia pilih. Zafia memang memiliki fisik yang tak sama dengan keempat saudaranya yang lain, tapi dia ahli dalam memakai senjata.
"Tidak ada, hanya saja jika kita membuat keributan di sini mungkin kita semua akan dideportasi, Kak."
"Bergerak dalam senyap saja," jawab Zafrina. Zafia mengangguk. Mereka berjalan keluar dari toko itu, namun Zafrina tiba-tiba tersenyum saat melihat pesan suaminya. Suaminya dan juga Raiden telah menunggu mereka berdua di suatu tempat. Mereka ingin Zafrina membawa para penguntit itu ke tempat mereka.
David tersenyum saat melihat targetnya seperti tidak menyadari keberadaannya. Ia dan 5 anak buahnya masih berada di jarak aman mengikuti kedua gadis itu.
Pria pecundang itu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Dia tampaknya sangat bersemangat sekali.
***
__ADS_1
Zafrina dan Zafia sudah berada di dalam mobil, sesekali mereka melihat kebelakang dimana ada 3 mobil Van yang mengikuti mereka.
"Jika aku jadi mereka, aku akan langsung memotong jalan mobil ini dan menodongkan senjata, bukannya malah mengikuti seperti itu. Apa mereka benar-benar mafia, Kak?" Pertanyaan Zafia seketika membuat Calvin dan Rey terbahak-bahak.
"Nona, anda lucu sekali."
"Lho, bukannya memang seperti itu, 'kan, seharusnya? Jika mereka berniat menyerang kita seharusnya seperti ucapanku tadi. Lain cerita kalau mereka cuma menguntit kita, tapi kalaupun menguntit dengan 3 mobil Van itu, bukannya malah akan gampang ketahuan?"
Rey dan Calvin dibuat kagum dengan pemikiran Zafia. Padahal gadis itu tidak punya darah mafia. Zafrina hanya geleng kepala dengan pertanyaan polos adiknya. Sudah jelas musuh mereka memanglah sekumpulan orang bodoh.
"Sudah, jangan terlalu memikirkan mereka. Kamu sudah menghubungi mama atau belum?"
"Sudah, Kak. Mama masih saja khawatir dengan asmaku."
"Orang tua pasti akan seperti itu. Semua hal-hal yang menyangkut anak-anaknya pasti selalu membuat orangtua merasa khawatir dan cemas. Itu wajar."
Tak lama terdengar bunyi letusan tembakan hingga membuat mobil yang dikendarai oleh Calvin oleng.
"Mereka menembak ban mobil kita," ujar Rey mulai bersiaga mengeluarkan pistolnya. Rey dan Calvin terlihat begitu serius, lain halnya dengan Zafrina dan Zafia yang masih santai sesekali menoleh ke belakang.
"Nona, bantuan segera datang. Saya harap nona tetap di dalam mobil biar kami yang turun menghadapi mereka."
"Hemb... ya baiklah." Jalur yang mereka lewati memang cukup sepi sehingga mungkin jika mereka akan baku tembak tidak akan melukai warga sipil.
"Aku bosan kak," ujar Zafia.
"Kamu sepertinya punya sesuatu untuk memberikan mereka kejutan," tebak Zafrina dengan alis yang naik begitu tinggi.
__ADS_1
"Aku juga ingin melakukan uji coba. Aku tidak membuat banyak, tapi bisa jadi ini adalah senjata yang lumayan," kata Zafia.
Zafrina dan Zafia sama-sama menengok ke belakang. Zafia mengeluarkan sebuah kotak. Mata Zafia tampak berbinar senang pada akhirnya bisa melakukan uji coba pada alat yang dia ciptakan. Dulu ia memiliki fantasi menjadi mafia, tapi mengingat kondisinya yang memiliki fisik lemah membuatnya mengurungkan obsesinya. Zafia menciptakan alat itu tanpa ada yang tahu. Dia mempelajarinya dari seorang teman.
"Apa itu, Fia?"
"Yang jelas bukan permen coklat," jawab Zafia Asal. Zafrina hanya mendengus kesal mendengar jawaban adiknya.
***
Raiden menggeram kesal saat mendengar kabar jika ban mobil kakaknya ditembak orang-orang black shadow. Zico langsung melompat ke mobil membawa senapan laras panjang. Raiden seperti biasa membawa pedangnya kemanapun ia pergi.
"Ayo jalan, sudah kamu pastikan dimana lokasi mereka?" tanya Zico pada anak buahnya.
"Tuan tenang saja. Alat yang diberikan nona kecil sangat berguna. Kami sudah mengunci titik lokasi mereka. Raiden yang memang tidak tahu apa yang mereka bicarakan merasa penasaran.
"Alat apa?"
Zico seketika menoleh mendengar pertanyaan Raiden itu. Dia tahu adik ipar laki-laki-nya itu tertarik pada Zafia. Mungkin jika mereka bersatu, Zico yakin Raiden bisa menjadi ketua mafia terkuat.
"Zafia membuat alat pelacak yang tersambung dengannya. Titiknya pun akurat seperti memakai gps."
"Wah, ternyata dia benar-benar mengagumkan," gumam Raiden.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf jika terlalu lama menunggu ya. author. sebenarnya mau hiatus nulis dulu, mental health lagi bermasalah. akhir2 ini terlalu banyak masalah. jadi mohon maaf jika sekiranya kurang konsisten menulisnya. Terima kasih untuk yang selama ini sudah mendukung ku 🥰🥰
__ADS_1