
*****
Hari-hari yang Zico dan Zafrina lalui kini terasa membahagiakan. Meskipun ada satu atau dua kali Zafrina harus di rawat di rumah sakit, tapi Zico tetap setia menemani istrinya itu melalui kesulitannya. Kini kehamilan Zafrina sudah menginjak 7 bulan. Perutnya terlihat membulat sempurna dan juga kini pipinya tampak chubby.
"King, hari ini aku ada senam hamil, lho."
"Eh, hari ini, ya?"
"Iya." Zafrina mulai cemberut karena bisa dipastikan jika sekarang suaminya pasti lupa jadwalnya senam untuk memperlancar proses lahiran anak mereka nanti.
"Kamu lupa, ya? ini anak kamu loh yang aku bawa kemana-mana, masak gitu aja engga ingat," ujar Zafrina hampir menangis karena kesal, wanita itu menghentakkan kakinya dan naik ke kamar. Zico berdecak kesal, bagaimana dia bisa lupa, sedang hari ini dia ada jadwal penting.
Zico menyusul istrinya di kamar. Dia sungguh merasa bersalah karena melupakan hal sepenting itu. Zico masuk kedalam kamar dan mendapati Zafrina duduk di sofa balkon yang menghadap ke taman. Istri Zico itu terlihat mengusap air matanya yang sejak tadi enggan untuk berhenti menetes.
"Hei, maaf. Jangan menangis, Queen. Aku minta maaf, ya. Nanti aku akan hubungi dokter Rita untuk menanyakan jadwal besok, bagaimana? Maafin aku, ya," ujar Zico dengan lembut sembari mengusap kedua pipi Zafrina. Zafrina melirik Zico sekilas lalu mengangguk.
"Senyum, dong. Suaminya mau berangkat kerja ini. Masa yang di rumah cemberut. Nanti aku engga semangat kerja, gimana?"
Zafrina tersenyum meskipun dipaksakan. Zico menunduk dan lalu mengusap perut istrinya itu. "Baik-baik, ya, Sayang. Daddy kerja dulu. Kamu temani mommy, ya. Jangan nakal, loh." Zico mengecup perut Zafrina kemudian dia berdiri dan menunduk sekilas untuk mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
"Aku berangkat, ya. Hari ini aku ada kerjaan penting. Rio sudah nunggu di bawah. Kamu engga usah naik turun lewat tangga lagi, aku lihatnya ngeri."
"Iya, aku nanti naik lift aja," jawab Zafrina. Keduanya berpelukan sebentar, lalu Zico segera keluar dari kamarnya.
"Daddy kamu sibuk lagi, Sayang. Mommy kesal akhir-akhir ini dicuekin," ucap Zafrina. Seakan mengerti dengan kegundahan mommy-nya bayi di kandungan Zafrina menendang dengan cukup kencang sehingga Zafrina meringis. Ia lantas mengusap perutnya agar bayinya sedikit tenang.
Zafrina duduk dan menikmati pemandangan dari dalam kamarnya. Dia mengambil ponsel dan mencari nomor kontak mama Dian. Zafrina mulai menekan tombol panggil dan menunggu sahutan dari ibunya.
["Halo, Sayang. Apa kabar?"]
"Mama, Aku ingin ke rumah mama."
"Tidak, Mah. Zafrina kesepian di sini. Di sana kan ada Julian dan Jade juga Joana."
["Kalau begitu biar uncle Ron yang jemput kamu ke sana. Kamu siap-siap, ya."]
"Ok, Mah.
Zafrina bangkit dari duduknya dan bersiap. Dia juga sudah mengirimkan pesan pada suaminya, tapi sampai sekarang pesannya belum dibaca.
__ADS_1
Zafrina turun memakai lift seperti janjinya pada Zico. Dia lantas menunggu supir mamanya di luar karena tak sabar. Tak berapa lama mobil yang dikemudikan oleh Uncle Ron tiba. Zafrina pun segera masuk ke dalam mobil setelah uncle Ron membukakan pintu.
"Kita jalan langsung, Uncle."
"Baik, Nona."
Di dalam mobil, Zafrina berulangkali menghubungi Zico dan juga Rio. Namun, sayangnya ponsel kedua orang itu tidak aktif sekarang. Zafrina seketika menjadi kesal.
"Kita ke kantor suamiku dulu, Uncle. Aku mau ijin langsung sama Zico."
"Iya, Nona muda." Mobil itu pun akhirnya melesak menuju Zeus internasional grup. Tak ada pembicaraan lain lagi untuk mengisi kesunyian yang tercipta di dalam mobil. Zafrina memejamkan matanya sesaat karena tiba-tiba ia merasa mual. Mungkin karena ia sedang banyak pikiran makanya rasa tak nyaman itu kembali menyerangnya.
Setibanya di depan lobby, Zafrina lekas turun. Beberapa resepsionis yang berdiri di sana menyambut Zafrina dengan sopan. Semua tahu siapa wanita itu.
Zafrina memencet tombol lift khusus untuk petinggi perusahaan. Di saat yang sama, pintu lift terbuka dan menampilkan Zico dan juga Rio asisten baru Zico dikelilingi oleh 3 wanita dengan dandanan teramat seksi. Zico tertegun melihat istrinya di sana. Ia takut Zafrina marah dan salah sangka. Namun, hal yang ditakutkan oleh Zico tak terjadi. Zafrina justru menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada Zico dan yang lainnya.
Rio melirik atasannya, keduanya tampak kesulitan menelan saliva gara-gara kedatangan Zafrina secara mendadak. Namun, untungnya Zico masih bisa mengontrol diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1