
****
Zico mengendurkan dasinya sebelum menemui Zafrina. Zico membuka pintu ruangannya dengan perlahan, ia melihat istrinya duduk dengan kedua tangan terlipat di dada. Namun, wajah Zafrina terlihat santai.
Zico menghampiri Zafrina dan mengecup kening istrinya itu cukup lama. Zafrina memejamkan matanya dan mencengkeram kedua sisi kemeja Zico
"Aku mau ke rumah mama." Zico setengah terkejut dan menjauhkan wajahnya dari Zafrina.
"Queen, kamu marah?" tanya Zico cemas.
"Marah? marah kenapa?" tanya Zafrina mengernyitkan dahi.
"Eh, engga. Aku pikir kamu marah karena tadi."
"Oh, wanita-wanita tadi? kalau aku tidak marah, kamu kecewa tidak?" tanya Zafrina sambil mengusap dagu Zico yang mulai ditumbuhi bulu halus. Zico menggeleng. Dia merasa lebih lega karena istrinya tak mempermasalahkannya.
"Aku tidak marah, King. Kalian ketemuannya di kantor, kan? itu artinya memang urusan pekerjaan. Lain lagi jika kalian bertemunya di hotel. Aku bisa saja membakar habis hotel itu beserta kamu dan wanita-wanita itu di dalamnya," ujar Zafrina dengan santai.
"Kalimat penutup yang sangat mengerikan." batin Rio, asisten Zico.
Zico tersenyum dan lalu mencubit hidung istrinya. Dia tak akan pernah menghianati cinta istrinya itu. Di tambah kini keduanya sedang menanti kelahiran buah hatinya. Mana mungkin Zico bisa berpaling.
"Aku tadi mengirimi kamu pesan dan menghubungimu, tapi nomor ponselmu dan Rio sama-sama tidak aktif. Aku mau ke rumah mama. Di sana aku mau melihat Si kembar dan juga Baby Joana."
"Mau aku antar?"
"Tidak usah, ada uncle Ron di bawah. Aku kemari untuk berpamitan padamu."
"Baiklah, ayo. Kalau begitu aku antar sampai ke depan, ya."
"Boleh." Zafrina mengaitkan tangannya di lengan Zico. Dengan hati-hati Zico menuntun langkah istrinya itu. Pemandangan romantis itu, hampir setiap hari dinikmati oleh karyawan dan karyawati Zico. Mereka kagum dengan sosok pemimpinnya yang sangat lembut dalam memperlakukan istrinya yang sangat cantik itu.
__ADS_1
Sesampainya di depan loby, uncle Ron sudah membukakan pintu untuk Zafrina. Zico lalu berpesan pada pria paruh baya itu untuk berhati-hati saat mengemudi. Setelah mobil yang membawa Zafrina berlalu, Zico bernafas lega, begitu juga dengan Rio.
"Istri anda benar-benar keturunan King Devils sejati. Diamnya saja bisa begitu mengintimidasi."
"Kamu benar, aku terkadang takut, karena ketika diamnya menyimpan kemarahan itu bisa saja meledak sewaktu-waktu."
Keduanya kini kembali sibuk mempersiapkan materi rapat selanjutnya. Hari ini Zico memang sangat sibuk. Dia bahkan tak sempat mengecek ponselnya. Zico ingin menyelesaikan semua pekerjaan sebelum nanti dia mengambil cuti menemani istrinya melahirkan.
"Ayo, kita harus bisa mengejar semua jadwal bulan depan agar bisa dikerjakan bulan ini, jadi aku bisa cuti dengan tenang."
"Tinggal sedikit lagi, Tuan. Setelah itu silahkan menikmati cuti anda dengan tenang."
"Ok, jangan lupa siapkan set box makan siang untuk klien kita nanti."
"Sudah saya pesankan, Tuan."
...****...
"Uncle sama menyebalkannya dengan semuanya."
"Ini demi kebaikan anda, Nona muda. Saya sudah di pesan oleh Nyonya Dian untuk tidak menuruti keinginan anda yang aneh-aneh."
"Ish, lihat saja, nanti kalau anakku ileran. Aku akan katakan pada papi dan papa semua gara-gara uncle," ujarZafrina cemberut. Kadang tingkah ibu muda itu lebih kekanak-kanakan dari pada saudaranya yang lain karena dia tumbuh dengan kasih sayang berlebihan dari dua keluarga sekaligus.
"Iya, Nona." Supir itu memilih untuk mengalah, sebentar lagi mereka sampai ke kediaman Dian dan Gerry.
Setibanya di depan halaman Zafrina langsung keluar, dia tidak mau menunggu uncle Ron membukakan pintu. Mama Dian menyambut Zafrina dengan senyum lebarnya. Dari gelagat putrinya mama Dian tahu, pasti dalam perjalanan tadi Zafrina menginginkan sesuatu yang aneh-aneh.
"Mama.... "
"Iya, Sayang. Ada apa?"
__ADS_1
"Uncle Ron tidak mau menurutiku. Bagaimana jika anakku nanti jadi ileran?"
"Memang kamu mau apa, hemb?"
"Aku mau minum kelapa muda yang diberi sirup dan es."
"Biar mama yang buatkan untuk kamu, ya?"
"Mama punya?"
"Tentu saja, Sayang. Ayo kita masuk, uncle Didi dan mamanya Judy ada di dalam sedang main dengan Joana."
"Ah, sejak bayi itu lahir, rumah ini tidak pernah sepi lagi."
"Iya, mama juga jadi tidak sabar menunggu kelahiran bayi kamu juga."
"Ayo kita masuk, Mah." Dian tersenyum saat melihat putrinya kembali tersenyum. Uncle Ron yang sejak tadi berdiri akhirnya tersenyum melihat nona muda itu sudah kembali ceria. Ia pun dengan tenang pergi ke belakang di mana paviliun khusus pegawai rumah itu berada.
"Ada apa Ron?" tanya Diego yang kebetulan saat itu ada di sana.
"Biasa, nona muda kembali merengek."
"Ha..ha..ha, kita tidak akan bisa menang melawan keinginan nona muda."
"Tapi tadi nyonya sudah melarangku."
"Kali ini apa yang nona muda lakukan?"
"Tidak ada, bagaimana bisa dengan perut sebesar itu dia berulah," ujar Ron tertawa begitu juga Diego. Semua pekerja di kediaman Dian dan Rian sudah sangat hapal dengan sifat manja Zafrina yang kadang-kadang terlalu berlebihan. Meskipun terkadang gadis itu juga minim ekspresi, tapi apa yang Zafrina lakukan selalu diperhatikan oleh para pekerja yang memang mulanya adalah para bawahan Rian. Zafrina yang dulu tidak diinginkan kini menjadi anak emas di dua keluarga besar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1