
******
Semua keluarga masih tampak tercengang dengan yang baru saja mereka lihat. Dan lagi-lagi mereka di buat takjub karena nyatanya Zafia sudah mem-booking satu restoran untuk keluarga dan teman-temannya.
"Kak, aku benar-benar terkejut, Zafia ternyata diam-diam menghanyutkan." ujar Ana sambil sesekali melirik ke arah adiknya yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
Zafrina mengangguk, ia pun masih tidak percaya mendapati adiknya yang seperti itu. Zafrina tiba-tiba mendapat ide. Kenapa tidak dia jadikan adiknya penerus di kubu mafia King Devil
"Jangan berpikiran yang macam-macam, Queen," ucap Zico saat melihat senyum istrinya. Ia membelai pipi Zafrina sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? ini bukan ide yang buruk."
"Apa kamu ingin menempatkan adikmu dalam bahaya?" tanya Zico. Untungnya meja yang mereka tempati cukup besar sehingga kemungkinan papa Gerry dan mama Dian tidak bisa mendengar percakapan mereka. Apa lagi di restoran itu di iringi musik untuk menghidupkan suasana.
"Apa yang kakak rencanakan?" tanya Zayana penasaran.
"Tidak ada. Jangan pedulikan kakakmu, Ana," ujar Zico.
"Ada Raiden yang akan membantunya," ujar Zafrina tetap dengan pemikirannya.
__ADS_1
"Tidak. Dan jangan membantahku, Queen." Zafrina memasang wajah cemberut. Tapi Zico tetap memilih tidak melibatkan adik iparnya yang masih terlalu muda.
Marvel sejak tadi hanya menatap interaksi suami istri itu. Lain halnya dengan Zayana yang sesekali masih sibuk melirik Zafia dan teman-temannya sehingga dia tidak terlalu peduli dengan pasangan Zafrina dan Zico yang sedang beradu pendapat.
Lain halnya dengan kedua pasangan itu, Dian menatap khawatir pada putri bungsunya itu. Dia takut Zafia salah pergaulan. Namun berulangkali Gerry berusaha meyakinkan sang istri.
"Kamu sudah mendidik anak-anak dengan baik, sayang. Aku rasa mereka bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak."
"Aku tahu, mas. Tapi bukankah dia masih terlalu muda untuk ... ah aku bahkan tidak bisa membayangkan Zafia berurusan dengan hal-hal seperti yang dilakukan oleh papinya Zafrina."
"Kamu terlalu banyak berfikir, sayang. Dia putri kita, tidak mungkin akan mengikuti jejak Rian. Aku juga akan menjadi garda paling depan yang melarangnya, jika dia memilih menjadi seperti Rian."
"Nikmati saja makan malam ini. Lihatlah mereka bercanda tawa seperti anak muda pada umumnya. Hanya mungkin karena sahabat Zafia bukan orang biasa sehingga ya begitulah." Gerry mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
Dian dan Gerry akhirnya kembali fokus pada apa yang terhidang di depan mereka. Namun keduanya sama-sama menyimpan keresahan yang tak mendasar.
Sementara Zafia justru malah asik bercandaria dengan para sahabatnya. Biasanya mereka hanya berhubungan lewat aplikasi yang mereka ciptakan sendiri. Namun kini mereka benar-benar bertemu dan bertatap muka secara langsung. Semua sahabatnya mengagumi wajah Zafia. Gadis itu terlihat lembut dari luarnya. Siapapun yang melihat pasti akan berpikir Zafia adalah gadis yang lemah.
"Berapa lama kamu berada di sini, Fia?" tanya Belle.
__ADS_1
"Sepertinya seminggu. Memang kenapa?"
"Kau tidak ada niatan melanjutkan studi di sini?" kini giliran Pinot bersuara.
Pinot sendiri adalah gadis blasteran, ibunya berasal dari Thailand sedang ayahnya berasal dari New York. Pinot memutuskan hidup mandiri di negara ini setelah ibu dan ayahnya berpisah.
"Jika di sini, aku.... " Zafia menatap ke arah mama Dian. Dia bukannya tidak bisa jauh dari keluarganya. Tapi dia masih menyimpan trauma melihat ibunya sakit saat kedua kakaknya memilih melanjutkan studi di negara ini.
"Aku akan bicarakan lagi nanti dengan orang tuaku," jawab Zafia sambil tersenyum tipis.
"Oh ayolah, kamu sudah cukup umur untuk menentukan pilihanmu." Belle tampak sangat bersemangat membujuk Zafia untuk tetap berada di negaranya.
"Jangan memaksa Zafia. Budayanya dan budaya kita tidak sama," ujar Ferran sedikit bernada tinggi. Zafia yang memang duduk di samping Ferran mengusap punggung tangan pemuda itu.
"Jangan berbicara keras pada Belle. Dia hanya ingin kita semua berdekatan. Aku akan mencoba berbicara dengan orangtuaku. Aku pun ingin berkembang di negara ini. Tapi aku tidak bisa mengabaikan kondisi mamaku. Dia satu-satunya alasan aku tidak pernah kemana pun," ujar Zafia dengan nada sendu. Semua yang duduk di meja yang sama dengan Zafia menjadi terdiam.
Mereka tidak pernah melihat raut kesedihan di wajah Zafia. Tapi kini mereka tahu bahwa gadis itu sebenarnya sangat membutuhkan dukungan.
"Jangan dijadikan beban, Fia. Apapun itu kami akan tetap ada untuk mendukungmu," kata Ferran, dan semua teman-temannya mengangguk mengiyakan ucapan Ferran.
__ADS_1
"Thankyou... " Zafia tersenyum, hal itu membuat Ferran yang memang memendam rasa pada Zafia berdebar tak karuan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹