Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 85. Masalah Di Butik


__ADS_3

*****


Zico saat ini sedang sibuk mempersiapkan kantor baru untuk anak cabang perusahaan miliknya yang ada di Amerika. Dengan bantuan Zafia dari jauh, jaringan situs perusahaannya telah terbentuk. Ia memulai usahanya dengan mentransfer beberapa karyawan yang memiliki kualifikasi terbaik untuk menjadi mentor di perusahaan baru itu. Butuh waktu yang tak sedikit untuk membangun kerajaan bisnisnya hingga Zico jarang bertemu istrinya hampir sebulan ini.


Zafrina bisa memaklumi kesibukan Zico. Dia pun kini fokus mengurus management butik milik oma Santika yang dipercayakan kepadanya. Meskipun sibuk, wanita itu selalu mengirim pesan singkat pada suaminya. Dari mengingatkan untuk makan dan beristirahat jika lelah. Zafrina pun menikmati kesibukan barunya. Dia bahkan sudah 2 kali mengadakan reuni dengan sahabat SMA nya dulu.


"Mbak Asti, tolong nanti kalau ada barang datang, Invoice-nya dikasihkan saya dulu. Terus sebelum tanda tangan tolong dicek ulang, ya. Kemarin ada beberapa bahan yang ga ada wujudnya tapi ada di daftar. Kalau begini butik Oma bisa bangkrut. Saya engga mau pelihara tikus di butik ini. Jadi kali ini auditnya dari mbak Asti langsung. Setelah dicek panggil saya, ya."


"I-iya," jawab Asti gugup. Baru kali ini aturan butik diperketat. Meskipun dia juga sering mendapati kecurangan tapi dirinya tidak memiliki bukti untuk menuduh orang.


Di dalam kantor, Zafrina menghubungi adiknya, dia meminta saran pada Zafia yang melek tehnologi untuk memberi solusi padanya. Bukannya apa-apa tapi Zafrina merasa kali ini masalah ini perlu ditangani dengan cepat.


Tok.. tok.. tok!!


"Masuk...!"


"Bu Inna, aku udah cek barangnya dan udah aku foto juga. Apa ibu mau mengeceknya sekali lagi?"


"Oh ok, ayo."


Zafrina bangkit dari duduknya, dia turun ke bawah dan berjalan mendahului Asti untuk mengecek bakal kain yang baru datang. Dia menghitung dan menyamakan dengan hasil kroscek Asti.


Zafrina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Calvin, ajak Rey, ke butik oma sekarang. Aku menunggu kalian."


Setelah mematikan sambungan, Zafrina memanggil 2 karyawan laki-laki untuk memindahkan bakal kain itu ke gudang. Dia terus mengamati pekerjaan karyawannya dengan teliti. Ia ingin tahu siapa yang telah melakukan korupsi di butik milik omanya itu.

__ADS_1


Selang 1 jam kedua pengawal setia Zafrina sampai di butik. Wajah bule mereka membuat beberapa pengunjung serta karyawan sesaat terpukau. Zafrina mengajak kedua pengawalnya menggunakan bahasa Inggris. Sesampainya di dalam, Rey bertanya pada Zafrina


"Apa ada yang anda perlukan, Nona?"


"Rey, tolong kamu ke kantor papa Gerry untuk meminta beberapa kamera CCTV, nanti aku akan hubungi Marvel untuk menyambutmu. Aku butuh 10 buah kamera untuk di sini. Itu kamera buatan khusus adikku. Aku memerlukan itu segera."


"Baik, Nona. Apa ada lagi yang lain?"


"Tidak, itu sudah cukup."


Zafrina dan Calvin masih di ruangan. Meskipun wajah mereka bule, siapa yang sangka jika mereka fasih berbahasa Indonesia, itu semua karena mereka dituntut harus menyesuaikan papinya dulu.


"Nona, apa ada masalah?"


"Ya, aku kemarin membuka pembukuan barang produksi dan bakal kain. Ada beberapa, yang masuk di nota serah terima tetapi di pembukuan tidak ditulis. Oma terlalu sembrono percaya pada orang. Aku akan mengusut kasus ini dan menjebloskan mereka yang berani mencurangi Oma Santika."


"Ya, seperti biasa. Kamu harus menjadi bule tulen. sehingga kamu bisa menguping pembicaraan mereka. Mereka akan mengira jika kamu tidak tahu berbahasa Indonesia."


"Baik, Nona." Calvin keluar dari ruangan. Dia mulai berakting seperti biasanya. Menyamar sudah menjadi keahlian pengawal Zafrina itu. Bahkan mereka pernah menyamar berpura-pura menjadi tembok saat melihat nona dan tuan muda Zico berciuman dengan sangat panas.


Zafrina duduk di kursinya sembari memijat tengkuknya. Entah kenapa dia merasa sangat mual. Perutnya terasa begah, padahal sejak tadi dia baik-baik saja.


"Aduh, kenapa ini?"


Zafrina beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar mandi. Zafrina mendadak merasa tubuhnya tak nyaman dan perutnya semakin mual.

__ADS_1


Merasa tidak ada yang bisa dimuntahkan, Zafrina keluar dari kamar mandi. Ia berbaring di Sofa panjang dan memejamkan matanya. Ia sedang berusaha mengusir rasa mualnya.


Zafrina akhirnya terlelap sampai-sampai tak ingat waktu. Zico yang saat itu pulang lebih awal mencari istrinya di rumah, namun dia tidak menemukan istrinya dimana pun. Salahnya, ia pulang tanpa memberi kabar pada istrinya. Ia akhirnya mengambil ponsel dan menghubungi Zafrina. Sudah berkali-kali dia melakukan panggilan, tapi tidak ada satu pun yang diangkat oleh istrinya.


"Kamu dimana, Queen?"


Zico mencoba kembali membuka ponsel. Kali ini dia menghubungi Calvin untuk menanyakan kemana istrinya. Tak butuh waktu lama deringan pertama langsung tersambung.


"Calvin, dimana istriku?"


"She is in the boutique, Sir."


(Dia ada di butik, tuan.)


Kenapa bicaramu pake bahasa inggris?"


"As usual, Sir. I am on a mission."


(Seperti biasa, tuan. Saya dalam misi.)


Zico langsung mematikan ponselnya. Dengan masih memakai jas Zico mengeluarkan motor besar yang baru dibelinya seminggu lalu. Dia langsung menyalakannya dan melaju membelah jalanan.


Zafrina yang tak sadar sudah lama terlelap, sama sekali tak terganggu dengan belaian tangan seseorang di wajahnya. Pria itu memandangi wajah Zafrina sambil tersenyum.


"Cantik... "

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2