Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 75. Rencana Rian


__ADS_3

*****


"Bagaimana?"


"Putrinya sekarang ada di Italia, sedang putra keduanya tidak tahu kemana. Nyonya Velia tinggal di mansion yang di jaga ketat oleh anak buah Rian. Apa anda yakin mau menculik salah satu diantara mereka, Tuan?"


"Tentu saja, jika dulu aku tidak bisa memiliki Velia, maka ini saatnya aku memiliki salah satu diantara dua wanita kesayangan Rian. Atau bisa jadi keduanya akan aku miliki," ujar David setelah itu ia tertawa terbahak-bahak.


Dia merencanakan penculikan, namun entah siapa sasarannya dia masih merahasiakannya, dia akan bertindak sendiri. Dia hanya meminta pada anak buahnya untuk terus mengawasi pergerakan Rian dan kelompoknya.


Davin mengambil ponselnya dan memghubungi utusannya yang ia tugaskan untuk mengawasi kediaman Rian.


"Apa semuanya sudah siap?"


"Ya, Tuan. Semua sudah sesuai rencana. Kami siap kapanpun.


...***...


Jika David punya persiapan yang matang, Lain halnya dengan Rian. Pria itu tergolong masih santai saat tahu ada musuh yang sebenarnya mengintai kediamannya akhir-akhir ini.


"Sayang, apa kamu keberatan jika aku memulangkanmu ke Indonesia?" tanya Rian pada sang istri.


"Memangnya ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, tapi aku ingin kamu sementara menjaga ibuku. Sepertinya Ravelo juga perlu tahu dan mengenal perusahaan kita yang ada di sana. Aku tidak mungkin terus meminta bantuan Leo sedangkan dia sendiri punya perusahaan besar yang harus dia urus."


"Baiklah, tapi apa kamu yakin tidak ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku, kan?"


"Tentu, saja. Apa lagi yang ingin aku sembunyikan darimu?"

__ADS_1


"Lalu kapan aku akan pulang ke sana?"


"Malam ini," kata Rian sambil membelai wajah Velia yang masih tetap cantik diusianya yang akan menginjak kepala 4.


"What? apa kamu serius?"


"Ya, aku sangat serius, sayang. Ravelo juga sudah ku beritahu tadi."


"Kamu sedang menyembunyikan sesuatu kan? jawab aku, Rian Al Farez!" seru Velia dengan mata yang sudah berkabut. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya mendadak tak enak.


"No... aku hanya sedang memikirkan keselamatanmu dan putra kita. Aku merasa mansion kita ini sedang diintai. Aku tidak mau nanti, baik kamu atau Ravelo dijadikan alat oleh mereka untuk menjatuhkanku. Ku harap kamu bisa mengerti."


Velia mengangguk patuh dan lalu memeluk suaminya dengan air mata yang terus mengalir deras. Ia tahu kini bahaya sedang mengancam pria yang sudah ia nikahi selama kurang lebih hampir 18 tahun ini.


"Jaga dirimu, jangan sampai terluka. Aku bisa tiada jika terjadi sesuatu yang buruk padamu," lirih Velia.


"Tentu saja. Kamu juga jaga kesehatan di sana. Jangan terlalu banyak berpikir. Jika situasi sudah kondusif aku akan mengizinkanmu kembali kemari. Atau kalau tidak aku akan menyusulmu pulang ke Indonesia."


"Baiklah, itu hobi lamaku. Tenang saja."


Rian tersenyum, dia jadi ingat awal pertemuannya dengan Velia. Saat itu Velia berhasil membuatnya kesal setengah mati, namun kekesalan itu hanya sementara karena tak lama dia dibuat jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada gadis itu.


"Ravelo sudah di bandara. Aku memakai pesawat pribadi milik Gerry yang kebetulan kemarin dipakai Gerry untuk melawat ke perusahaan rekan bisnisnya di sini.


"Ya baiklah, Jangan lupa pesanku tadi. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu."


"Tentu saja." Rian menatap istrinya yang terus memoleskan beberapa produk make up di wajahnya. Rian berjalan sedikit menjauh dari Velia karena ia menerima laporan dari orangnya.


"Bagaimana, apakah sudah berhasil."

__ADS_1


"10 menit lagi semua akan hancur, Tuan."


Baiklah, awasi pergerakan mereka. Aku secepatnya akan membawa Velia keluar."


"Baik, Tuan."


Rian menutup ponselnya dan saat berbalik ia terkejut mendapati perubahan istrinya, Velia merubah dirinya menjadi seorang pria yang tampak gagah.


"Sayang, ini beneran kamu?"


"Tentu saja, siapa lagi?"


"Wah, ternyata jadi laki-laki kamu cukup menjanjikan ya, Sayang? kamu bisa dijadikan pria simpanan."


Velia melotot kesal ke arah Rian, bisa-bisanya suaminya mengatakan hal itu padanya. Rian terkekeh melihat wajah cemberut istrinya.


"Maafkan aku sayang, jangan marah, ya." Rian meraih dagu Velia dan mulai mencumbunya, Namun Rian tidak mau berlama-lama karena sebentar lagi dia akan menjalankan rencananya untuk mengalihkan perhatian musuhnya.


"Ayo... kita berangkat sekarang."


Rian dan Velia berjalan beriringan. Tidak ada yang menyadari, jika pria tampan yang ada di samping Rian adalah istrinya.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan mansion Rian. Namun tak lama kemudian terdengar ledakan dasyat dari sekitaran mansion itu. Velia sampai menoleh ke belakang karena melihat api yang membumbung tinggi.


"Honey, itu...?"


"Ya, itu rencanaku. Dengan begitu musuh akan terkecoh kita bisa aman sekarang."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Dikit banget ya? sabar ya. soalnya mau End jadi diirit-irit 🤣🤣🤣


__ADS_2