Zafrina Mendadak Nikah

Zafrina Mendadak Nikah
Bab 42. Merajuk


__ADS_3

******


Maaf jika mama mengganggu waktumu, sayang. Ina ada di apartemen dan ingin mengajak kita semua keluar makan malam. Apa kamu bisa ikut?


Tak berhasil menghubungi putranya akhirnya Dian berinisiatif mengirim pesan pada Zafa. Semua sedang berkumpul minus Zayn dan keluarga kecilnya. Marvel bahkan sejak tadi ikut duduk di sofa karena di paksa oleh Ana.


Maaf, Mah. Zafa sepertinya tidak bisa karena harus menyelesaikan tugas tambahan dari Profesor.


Dian tersenyum saat mendapat balasan dari putranya, tapi mata ibu dari 5 orang anak itu justru tertarik melihat tingkah manja putri keduanya yaitu Zayana.


"Ana, kasihan Marvel. Jangan manja seperti itu," tegur mama Dian.


"Kasihan?" Zayana mengambil jarak dan menatap wajah Marvel yang datar namun telinga pria itu berwarna merah.


"Apa aku menyakitimu, Kak?" tanya Ana dengan wajah polosnya. Marvel menggeleng, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa pada putri majikannya itu.


Gerry hanya tersenyum tipis melihat kelakuan anak gadisnya, Gerry lantas menatap Zafrina dan mengusap kepala putri pertamanya itu.


"Bagaimana kondisimu, sayang?"


Zafrina tersenyum dan berpindah bergelayut di lengan papanya. Karena Zafrina duduk diapit Dian dan Gerry.


"Aku baik-baik saja, papa jangan terlalu khawatir."


"Satu minggu lagi kita akan pulang ke Indonesia, papa harap kalian bisa ikut dengan kami," Kata Gerry sambil membagi tatapan pada anak dan menantunya.


"Aku siap kapan pun, Pah," jawab Zafrina. Namun Zico masih terdiam. Dia tidak menyangka jika waktunya akan secepat itu. Dia pikir mungkin 2 sampai 3 minggu lagi.

__ADS_1


"Ada apa, King? apa kamu keberatan kita berangkat minggu depan?" tanya Zafrina saat ia melihat suaminya sedang terbengong.


"Tidak ada, aku hanya berpikir semoga saja waktuku cukup untuk menyelesaikan pekerjaan. Tapi kalaupun tidak cukup waktu, kamu bisa berangkat dulu dan aku akan menyusul secepatnya."


Mendengar jawaban Zico, Zafrina seketika cemberut. Itu artinya Zico mengingkari janjinya. Padahal kemarin dia baru saja berucap jika Zafrina lebih penting dari pada pekerjaannya.


"Aku akan berusaha tepat waktu, Queen," kata Zico. Tapi Zafrina terlanjur badmood. Dia justru malah menyembunyikan wajahnya di balik lengan papa Gerry.


Mama Dian tersenyum melihat Zico yang begitu lembut memperlakukan putrinya. Dia tahu saat ini suasana hati putrinya sedang memburuk.


"Kak, apa kamu tahu jika kakakku sedang merajuk?" tanya Zayana penasaran, dan Zico pun mengangguk.


"Lalu apa yang biasanya kakak lakukan?" Zayana tampak serius mengulik seberapa pekanya kakak iparnya itu pada sang kakak.


"Memberinya waktu... " jawab Zico.


Papa Gerry dan Mama Dian hanya menyimak, sementara si bahan gunjingan masih terus menyembunyikan wajahnya di balik lengan papa Gerry.


"Jika kakak memaksanya berbicara, kami hanya akan saling menyakiti karena sama-sama terbawa emosi. Kakak akan mendiamkan istri kakak namun kakak tidak akan meninggalkan dia dalam keadaan marah, separah apapun masalah kami."


Zayana bertepuk tangan, namun Zafrina masih belum mengangkat wajahnya. Zayana agaknya bingung melihat kakaknya tetap diam tak tersentuh dengan ucapan manis kakak iparnya.


"Kamu berati belum memahami kakakmu, Ana. Dia pasti sedang tidur, karena setiap merajuk dan akan mudah tertidur," sambung Zico sambil tersenyum.


Mama Dian dan papa Gerry dibuat terkesima oleh menantunya. Zico benar-benar memahami karakter putrinya yang sedikit keras namun manja jika sudah berdekatan dengan orang yang di sayang.


"Apa kita nanti jadi keluar makan malam, Ma?"

__ADS_1


"Tentu saja, sayang."


"Apa kakak Zafa ikut?"


"Tidak, kakakmu sedang sibuk."


Zafia sejak tadi tak banyak suara dia hanya jadi pelengkap karena terus menyibukkan diri dengan tabletnya. Semua orang memaklumi tingkah gadis yang mulai beranjak remaja itu.


...****...


Di lain tempat, Rian sedang mengumpulkan semua anggota keluarganya. Ada Raiden, Ravelo dan Veli.


"Ada apa, Honey?"


"Ada hal penting yang harus aku katakan pada kalian."


"Apa itu?"


"Apa, papi?"


"Papi ingin kita pindah ke Indonesia."


"Aku tidak mau... " ujar Ravelo.


"Ravel... " Veli meninggikan suaranya tapi Rian menggenggam tangan Veli dan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau, Mami. Aku sudah nyaman disini." Ravelo berdiri dan langsung pergi ke kamarnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


jangan lupa untuk like komen dan Vote kalian ya guys. Kalo ga ada Vote, gift pun aku Terima 🤭🥰🥰


__ADS_2