
******
Side story Zafia.
Gadis yang akrab di sapa Fia itu kini berusia 17 tahun, parasnya cantik seperti ibunya, namun sayangnya sifatnya menurun pada sepupu mama Dian yaitu om Nino. Zafia sangat suka sekali dengan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu teknologi.
Ia sering menghabiskan waktu dengan keluarga Nino terutama Dino kakak sepupunya. Dari sana lah Zafia lebih banyak sibuk berkutat dengan tablet atau laptopnya ketimbang bersosialisasi dengan dunia luar.
Dian hanya bisa memaklumi nya, apalagi putrinya memang tipikal gadis yang introvert. Fia lebih banyak mengurung diri di kamar jika tidak berguru pada paman dan sepupunya.
Tanpa pengawasan dari Dian dan Gerry, Zafia kecil yang memang memiliki bakat seperti Nino dan Dino diam-diam memiliki beberapa saham di luar negeri dan saham yang ia miliki tak tanggung-tanggung.
Zafia juga memiliki komunitas dari anak-anak jenius di beberapa negara yang dibentuk dan dipimpin olehnya. Zafia membuka jasa ITE untuk perusahaan-perusahaan besar.
Saham-saham yang dimiliki Zafia di perusahaan asing itu di kelola oleh sahabat Zafia. Tentu dibantu dengan pengawasan Nino, pamannya.
Setiap tengah malam, Zafia sering melakukan meeting dengan beberapa sahabat dan orang-orang kepercayaannya tanpa sepengetahuan keluarganya. Hanya 2 orang yang benar-benar tahu siapa itu Zafia, siapa lagi jika bukan Nino dan Dino sang tutor.
...****...
Berhubung Zafia sekarang berada di negara di mana teman-temannya berada, dia sejak pagi tadi sibuk membalas chat dari para hacker muda yang menjadi sahabat onlinenya
"Dimana nanti kita akan makan malam pah?" tanya Zafia, ia mengangkat kepalanya sebentar dan menatap papanya.
"Kita akan makan malam di hotel Bowery, sayang," jawab Gerry. Zafia mengangguk lalu kembali sibuk dengan teman-temannya.
On Chat
Zafia : "Aku menunggu kalian di hotel Bowery."
Ferran : "Aku tidak sabar bertemu denganmu."
Vigo : "Aku juga."
Louis : "Aku pun sama."
Belle : "Aku iri denganmu, Fia ðŸ¤."
__ADS_1
Zafia : "Mereka hanya penasaran 😆."
Pinot : "Mereka pengagummu."
Zafia : "😅😅, sampai jumpa nanti pukul 8 guys."
Zafia mengakhiri chat dengan beberapa temannya itu. Dia kini fokus pada grafik saham yang dimilikinya. Senyum tipis mengembang dari bibirnya 4 dari 5 saham terbesarnya mengalami kenaikan yang cukup pesat.
Selama ini sahabat-sahabatnya lah yang membantu mengurus, Zafia hanya memasukan modal, mengecek laporan dan menerima hasilnya.
Usianya boleh di bilang masih bau kencur, tapi kemampuannya tidak dapat diragukan lagi. Bahkan tanpa sepengetahuan papanya Zafia sendiri yang menjadi ITE di perusahaan papanya. Ia bahkan menerima gaji setiap bulannya.
"Ayo kita istirahat dulu, masih ada waktu beberapa jam lagi," ucap papa Gerry.
Gerry perlahan melepas pegangan Zafrina. Dia beranjak dengan sangat pelan dan hati-hati. Hingga akhirnya tubuh Zafrina tergolek di atas sofa.
"Wah, kalau kakak sedang merajuk, kakak ipar bisa melakukan apapun sesuka hati."
"Maksudnya?" tanya Zico tak mengerti.
"Coba kakak ipar lihat," tunjuk Zayana pada kakak perempuannya. Zico pun menatap istrinya yang masih terlelap.
"Ana, apa yang kamu katakan?" tegur mama Dian. Ana langsung menyembunyikan wajahnya di lengan Marvel. Sedangkan pria itu tersenyum kaku di depan Dian dan Zico.
"Sudahlah, sayang. Ana pasti hanya bercanda. Ayo kita istirahat dulu." Gerry memeluk pinggang istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Ana mengajak Marvel ke ruangan lain, sementara Zafia ikut berdiri dan masuk ke kamar. Zico tersenyum menatap sang istri. Dia pun mendekat dan mengangkat kepala Zafrina lalu ia duduk dan meletakkan kepala Zafrina di pahanya. Zico bersandar sambil mengusap rambut Zafrina.
"Menggemaskan sekali," desis Zico. Ia pun mencoba memejamkan matanya. Tak lama nafas Zico berhembus teratur dan ia pun terlelap.
...****...
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Zafrina membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah suaminya. Zafrina tersenyum dan membelai rahang Zico. Cukup tidur membuat suasana hati Zafrina membaik.
"King... " lirih Zafrina membangunkan suaminya.
Zico perlahan membuka mata dan menatap Zafrina. Senyum hangat Zico berikan untuk istrinya lalu ia menunduk dan mengecup kening Zafrina.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu?"
"Hmm... sudah lebih baik," jawab Zafrina.
"Ayo bersiap, apa kak Zafa tidak bisa ikut?"
"Entahlah... "
Zico membantu Zafrina bangkit dari tidurnya. Keduanya lalu berjalan keluar. Mereka akan membersihkan diri di apartemen Zafa.
"I love you, King," Bisik Zafrina di telinga Zico.
"I Love you more, Queen. You're my World."
Saat pintu apartemen Zafa berhasil di buka Zafrina menarik Zico dan langsung menguncinya. Ia mendorong tubuh Zico dan menghimpitnya.
"Aku menginginkanmu, King," desah Zafrina dengan suara parau. Dia langsung membenamkan ciuman dalam di atas bibir Zico. Mendapat serangan mendadak seperti itu tentu saja membuat Zico bersemangat untuk membalasnya, keduanya larut dalam pertarungan bibir saling menghisap dan membelitkan lidah. Namun tanpa keduanya sadari, ada 2 pasang mata yang tampak membeku di tempatnya melihat adegan itu.
"Ehem... "
Zafrina dan Zico langsung mengurai bibir mereka dan terbelalak mendapati Marvel dan Zayana ada di sana.
Tangan Marvel mengepal, meski berulang kali dia berusaha menerima kenyataan Zafrina menjadi milik orang lain, tapi pemandangan barusan terlalu menyakitkan untuk di lihat.
"Ka-kalian di sini?" tanya Zafrina dengan wajah merah padam.
"Ish... lain kali masuk kamar dulu kak. Sejak tadi kami duduk di sini. Kakak sangat.... " Zayana tampaknya kesulitan mendeskripsikan apa yang baru saja dia lihat. Ia hanya menggelengkan kepala saat bayangan kakaknya dan kakak iparnya melintas di memori otaknya.
"Anggap saja ini pelajaran untukmu nanti saat berumah tangga," ujar Zafrina sambil menarik tangan Zico dan masuk ke kamarnya yang ada di apartemen Zafa.
Zayana dan Marvel saling melempar tatapan, namun sejurus kemudian keduanya saling berpaling dengan wajah yang memerah. Bukannya pelakunya yang malu tapi justru mereka yang melihat yang merasa malu.
Waktu makan malam pun telah tiba, Meski formasi mereka tidak lengkap tapi setidaknya mereka tetap tampil menawan. Kali ini Marvel di paksa ikut oleh Zayana. Mereka tiba di hotel saat waktu menunjukkan pukul setengah 8. Namun mereka terkejut saat mendapat sambutan tak biasa dari beberapa anak seusia Zafia dimana di belakang mereka berjejer rapi pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam. Dan semuanya menunduk di depan mereka.
"Selamat datang, Nona Zafia," sambut orang-orang itu serempak. Dari yang Gerry lihat mereka berjumlah sekitar 30 orang. Zico, Zafrina dan yang lain mengernyit heran. Mereka terbelalak melihat sambutan untuk Zafia. Apakah Zafia, calon Mafia?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like koment dan vote kalian ya guys